GRESIK, Kompas.com - Bupati Gresik Sambari Halim Radianto Senin (14/2/11) bersyukur dan memberikan ucapan selamat kepada dua nelayan asal Bawean, M Chozin (32) dan Herman (30), warga Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik yang terombang-ambing lima hari lima malam di laut Jawa. Sambari juga meminta maaf kepada keduanya karena tidak bisa turut menjemput di Sumenep Madura.
Dua nelayan itu selamat secara dramatis. Keduanya bisa mempertahankan hidup di tengah lautan di tengah amukan gelombang Laut Jawa dengan memakan batang pisang. Sebelumnya perahu mereka rusak dihantam gelombang setinggi 3,5 meter. Pada akhirnya M Khozin dan iparnya Herman ditolong nelayan di perairan Pulau Raas, Sumenep, Kamis siang (10/2/11) lalu. Agar evakuasi mudah keduanya dibawa ke Panarukan, Situbondo, lalu dijemput Camat Sangkapura, Suhaimi.
M Chozin dan Herman berangkat melaut pada Minggu (6/2/11) pagi usai shalat Shubuh. Sebelum berangkat keduanya memang tidak punya firasat apa-apa. Meskipun cuaca buruk, keduanya nekat melaut karena hanya mencari ikan di sekitar pesisir pantai Pulau Bawean.
"Kami hanya menyisir pantai dan paling lama melaut hanya setengah hari. Bekal yang kami bawa hanya untuk sekali makan," ujar Herman saat menghadap Bupati Gresik di ruang kerjanya.
Namun mereka sedang kurang beruntung, mesin perahu yang membawa keduanya tiba-tiba mati. Mereka berusaha memperbaiki perahu tetapi gagal. Empasan angin dan gelombang tidak mau kompromi. Keduanya memasang sauh atau jangkar untuk mempertahankan agar perahu tak terbawa ombak. Tetapi, perahu masih terseret hingga keduanya menurunkan seluruh jaring dengan harapan jaring itu nyangkut dan menahan perahu.
"Upaya kami sia-sia, akhirnya kami pasrah," tutur Chozin.
Sampai malam datang, keduanya sudah tak tahu lagi berada di mana. Keduanya hanya memikirkan ada pertolongan dari perahu dan kapal yang melintas. Untuk mencari perhatian kapal, kami memberi tanda dengan cara membakar kain.
"Baju saya sampai hanya tinggal yang saya pakai. Mungkin mereka salah paham atau tidak mengerti dengan apa yang kami lakukan itu, sehingga mereka tidak berbuat apa-apa," ujar Chozin mengisahkan pengalaman pahitnya.
Setelah upaya ini gagal, mereka pun pasrah. Upaya yang lain yaitu meringankan beban perahu. Keduanya membuang jangkar dan jaring dengan memotong talinya. Dia berharap agar perahu mereka hanyut ke sebuah pulau. Dia mulai ingat nasi bekal yang dibawa dari rumah yang mestinya untuk jatah makan setengah hari.
"Saya juga heran, kok nasi yang sudah lebih dari sehari semalam itu tidak basi. Kami makan bergantian, masing-masing dua sendok untuk rentang beberapa waktu. Dengan harapan, bekal itu bisa dihemat," ucap Chozin berkaca-kaca.
Keadaan keduanya mulai panik setelah dua hari dua malam bekal habis. Di tengah kepanikan itu, Allah mengirimkan sebongkah pelepah pisang.
"Kami tidak berpikir panjang. Kami memakan pelepah pisang itu sampai akhirnya ada perahu nelayan dari Madura yang menolong kami. Lalu kami dibawa ke sebuah pulau yang kata orang pulau Komirian (wilayah Pulau Raas, Sumenep) pada Kamis siang," tambah Herman.
Keduanya ditampung di rumah Zaenal. Sehari kemudian keduanya dibawa ke Panarukan, Situbondo. Setelah mengabari keluarga di Pulau Bawean, Camat Sangkapura, Suhaimi menjemput keduanya di Panarukan pada Sabtu (12/2/11) malam.
"Alhamdulillah atas bekal dari bapak bupati untuk bekal kami pulang ke Sungairujing, Pulau Bawean," kata Herman dan dan Chozin saat pamit pulang ke kampung halaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang