Derita Peternak Unggas Kalimantan Barat

Kompas.com - 16/02/2011, 04:26 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com - Peternak unggas di Kalimantan Barat seperti tak henti didera persoalan. Setelah merebak serangan virus flu burung, kini muncul persoalan baru penyelundupan anak ayam umur sehari atau DOC dari Malaysia.  

"Saya rugi sekitar Rp 120 juta akibat kematian 5.000 ekor unggas yang saya budidayakan. Serangan virus flu burung sangat cepat dan ganas. Dalam satu malam, 1.000 ayam mati di kandang," ujar Muhari Yanuar (35), peternak ayam di Mempawah, Kabupaten Pontianak.

Kematian unggas akibat flu burung adalah salah satu persoalan yang menghantui pembudidaya ayam. Di Mempawah, Kabupaten Pontianak, dalam dua minggu ini setidaknya sudah ada 25.000 ekor unggas yang mati mendadak. Dari pemeriksaan sampel darah diketahui, unggas-unggas itu positif terinfeksi virus flu burung.  

Tak hanya peternak kecil seperti kami, peternakan besar di Pontianak pun banyak yang kena flu burung. "Hanya saja, mereka bisa sangat cepat membereskan kematian unggas itu dalam semalam sehingga tampak tidak terkena flu burung dan tidak terdata," ujar Muhari.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat, Abdul Manaf Mustafa menduga, virus flu burung itu terbawa oleh unggas dari luar pulau.

"Karantina pertanian hanya bisa mengawasi peredaran unggas di pelabuhan dan pintu-pintu resmi masuk ke Kalimantan Barat, sementara ada puluhan pelabuhan rakyat di sepanjang Sungai Kapuas yang bisa menjadi tempat masuk unggas dari luar pulau," kata Manaf.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat sudah melarang masuknya unggas dari luar pulau untuk mencegah beredarnya virus flu burung paska diperolehnya sertifikat bebas flu burung dari Kementerian Pertanian pada tahun 2010.

"Namun, dalam beberapa kali pemeriksaan, ditemukan beberapa unggas di pelabuhan-pelabuhan rakyat. Salah satu yang ternyata terinfeksi flu burung, kami temukan di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya," kata Hazairin.

Belum juga benang kusut virus flu burung diluruskan, budidaya uggas di Kalimantan Barat dikejutkan oleh masuknya 600 ekor DOC selundupan dari Malaysia. Bibit ayam selundupan itu ditemukan di sebuah kios penjualan bibit ayam dan perlengkapan peternakan di Pasar Puring, Kota Pontianak, Rabu (9/2/2011) lalu.

Sood (67), pemilik DOC selundupan itu mengaku membelinya dari Kuching, Negara Bagian Serawak, Malaysia Rp 5.000 per ekor dan hendak menjualnya Rp 6.000 per ekor.

"Saya pesan kepada pemilik, minta diantarka ke Pontianak, tetapi tidak tahu proses pengirimannya. Setahu saya, pesanan diangkut menggunakan truk bersama barang-barang lain," ujar Sood.

Kepala Bidang Penindakan dan Pengawasan Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak, Faisyal Noer, mengatakan, penyelundupan DOC itu dilakukan dengan rapi yakni diangkut bersama barang lain sehingga sulit terdeteksi petugas.

"Di Entikong, Kabupaten Sanggau sebetulnya kita memiliki pos karantina. Kalau barang bawaan berupa pertanian dan produk-produknya pasti diperiksa oleh petugas di sana," kata Faisyal.

Ketua I Asosiasi Agribisnis Perunggasan (AAP) Kalimantan Barat Suryaman mengatakan, harga DOC produksi pembibitan di Pontianak mencapai Rp 8.250 per ekor.

"Masuknya DOC selundupan itu jelas merusak pasar DOC Pontianak karena selisih harganya sangat tinggi. 600 ekor ini yang baru diketahui dan berhasil ditemukan, entah berapa lagi yang lain," ujar Suryaman.

Bagi AAP Kalimantan Barat, yang paling dikhawatirkan dari masuknya DOC selundupan itu sebetulnya adalah makin merebaknya virus flu burung. Peternakan yang jelas-jelas menggunakan DOC bersertifikasi saja bisa kena serangan virus flu burung.

"Apalagi, DOC M alaysia ini kan tidak diketahui riwayat dan tidak ada jaminan bebas penyakit. Bisa saja itu sengaja dimasukkan ke Kalbar untuk merontokkan budidaya unggas sehingga ayam Malaysia yang akan menguasai pasaran," kata Suryaman.

Ketua Umum AAP Kalbar Bambang Mulyantono mengatakan, peternakan unggas menjadi salah satu kantong ekonomi di Kalbar. Setiap bulannya, sekitar 3,5 juta ekor unggas dipasok oleh peternak kepada konsumen.

"Namun, peternak belum bisa menjalankan usaha dengan tenang. Flu burung, DOC dan ayam selundupan masih menjadi kendala," kata Bambang.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau