Indonesia Masih Aman dari Ancaman Bubble Properti

Kompas.com - 18/02/2011, 15:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski realisasi penyaluran kredit properti pada tahun 2010 lalu tercatat tumbuh 15,07 persen, namun kondisi perekonomian masih dinilai aman. Pasalnya, tingginya pertumbuhan penyaluran kredit tersebut didorong oleh masih tingginya minat bank umum menyalurkan kredit properti pada kuartal IV 2010 sejalan dengan bergairahnya permintaan produk properti oleh calon debitur.

Dari sisi kredit properti, kondisi perekonomian dinilai masih aman dari ancaman bubble ekonomi. terlebih, Direktur Perencanaan Makro Kementerian PPN Bambang Prijambodo menilai bahwa tren realisasi penyaluran kredit properti di Indonesia masih landai. Jadi masih belum akan memicu terjadinya bubble ekonomi seperti yang ditakutkan oleh negara-negara lain di kawasan Asia. “Saya melihat kalau kita masih jauh ke sana,” ucapnya, Kamis (17/2).

Akibatnya, ia menilai pemerintah belum perlu mengeluarkan kebijakan pembatasan pembelian properti seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah China. Menurutnya, kebijakan pembatasan pembelian properti dapat mengalihkan arus modal asing masuk ke sektor-sektor yang produktif.

Saat ini pemerintah perlu memperbaiki sektor riil agar tumbuh lebih cepat sehingga memiliki return investasi yang tinggi. "Maka tanpa dibatasi sekalipun, arus modal akan dengan sendirinya lari ke sektor yang produktif. Tapi kalau di China rembetan ke sektor properti memang tinggi, maka pemerintah di China mengantisipasinya sejak dini," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, bahwa pemerintah belum perlu mewaspadai terjadinya overheating di sektor properti. Pasalnya, pemerintah belum melihat adanya potensi terjadinya overheating pada sektor properti, sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun 1998 lalu.

Sekadar catatan, pada krisis 1998 kredit sektor properti menjadi salah satu pemicu krisis ekonomi. Tapi pemerintah menilai sejauh ini perkembangan sektor properti di Indonesia masih cukup bagus. “Sementara ini masih bagus properti kita,” tuturnya singkat. (Irma Yani/KONTAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau