Kerugian Petani Padi Diganti

Kompas.com - 19/02/2011, 05:08 WIB

Jakarta, Kompas - Tahun ini pemerintah akan mengganti kerugian petani yang gagal panen atau puso akibat perubahan iklim yang ekstrem. Penggantian diberikan dalam bentuk penggantian biaya produksi. Akan tetapi, mekanisme hal itu masih dirumuskan pemerintah.

”Dengan demikian, bantuan bagi petani menjadi bertambah karena sebelumnya hanya dalam bentuk subsidi pupuk dan bibit,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat (18/2). Ia menanggapi berita perkiraan penurunan produksi padi di Jawa, Sulawesi, dan Sumatera (Kompas, 18/2).

”Sumber pendanaan untuk penggantian biaya produksi tersebut adalah anggaran untuk stabilisasi pangan senilai Rp 2 triliun dalam APBN tahun 2011,” kata Hatta.

Dana tersebut hanya akan digunakan jika terjadi krisis pangan dan ditemukan ada petani yang mengalami gagal panen. Ini merupakan bagian dari dua kebijakan pemerintah yang disiapkan khusus untuk mitigasi risiko perubahan iklim yang ekstrem.

Hatta mempertanyakan hasil panen gabah yang dilaporkan gagal di sejumlah tempat kepada Menteri Pertanian Suswono. Kegagalan panen harus diketahui sejak awal agar pemerintah dapat mengantisipasi potensi kekurangan pasokan pangan pada pertengahan 2011.

Hatta mengatakan, dirinya baru tahu tentang kegagalan panen di beberapa tempat melalui berita media massa. Hal itu perlu diklarifikasi langsung dari Menteri Pertanian.

”Saya baca di koran hari ini bahwa panen tidak sesuai dengan yang diharapkan. Itu tentu harus diantisipasi di mana titik persoalannya. Apakah ada pada produktivitas atau apa, saya akan minta penjelasan Menteri Pertanian soal itu,” katanya.

Kementerian Pertanian dalam siaran persnya menanggapi laporan penurunan produksi padi menyatakan, temuan di titik-titik yang sangat kecil dan tidak teratur sangat sulit digunakan untuk justifikasi tingkat penurunan produksi.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana menyatakan, peningkatan produktivitas padi nasional harus dilakukan di tengah keterbatasan lahan.

Dari Medan, Sumatera Utara, petani di beberapa kabupaten dilaporkan merugi lantaran hasil panen menurun. Penurunan panen itu disebabkan oleh hama dan cuaca yang tidak menentu.

Serangan hama sejenis semut di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, merusak panen padi masyarakat. Akibatnya, hasil panen petani anjlok dan mutu padi menurun. ”Setelah dipanen, barulah terlihat kerusakan pada gabah. Berasnya juga menghitam dan mudah patah. Kalau dimasak, rasanya pahit,” kata Rohmat (38), salah seorang petani di Duri Asi.

Cuaca yang tidak menentu berupa hujan berkepanjangan berpotensi mengancam produksi padi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ancaman terbesar adalah serangan hama wereng dan tikus.

Di Karawang, Jawa Barat, cuaca yang tidak menentu serta serangan hama dan penyakit membuat hasil panen sejumlah petani hanya 88-93 persen dari kondisi normal.

Enda (30), petani di Desa Parakan, Kecamatan Tirtamulya, mengatakan, hasil panen dari 0,5 hektar lahannya musim ini turun sekitar 12 persen dibandingkan normal yang mencapai 2,5 ton gabah kering panen.

Penurunan produktivitas padi akibat banjir dan hama wereng di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyebabkan pendapatan petani menurun.

Raharjo (53), petani Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, mengaku serangan wereng menyebabkan hasil panen pada masa tanam I turun dari 9 ton menjadi 6 ton.

Dari Padang, Sumatera Barat, dilaporkan penghasilan sebagian besar petani terancam turun menyusul penurunan produksi gabah saat ini. Tarmizi (40), salah seorang petani di Kelurahan Bungo Pasang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, mengatakan, dari sawah seluas satu hektar yang digarapnya, pada musim panen ini diperkirakan hanya akan menghasilkan 40 karung gabah.

”Musim panen sebelumnya bisa mencapai 60 karung,” kata Tarmizi.

Akibat cuaca ekstrem, luasan serangan hama penyakit pada tanaman padi di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada tahun 2010 kian meluas. Jika tahun 2009 luasan terserang mencapai 500 hektar, pada tahun 2010 luasan tanaman padi terserang hama penyakit mencapai 1.026,4 hektar.

”Tingginya intensitas hujan dan udara yang lembab sepanjang tahun 2010 memicu makin pesatnya perkembangan hama, dan tanaman padi pun semakin rentan terserang penyakit,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Sunardi.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ali Effendi mengatakan, penurunan produktivitas padi dipicu oleh banyaknya gangguan hama seperti wereng dan serangan tikus di masa kemarau basah. ”Pada 2009, produktivitas sawah di Cirebon ialah 6,1 ton gabah kering giling per hektar. Capaian itu turun menjadi 5,9 ton gabah kering giling per hektar,” katanya.

Petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus merugi. Sejumlah petani di kecamatan Singojuruh, Rogojampi, Srono, hingga Kabat mengaku tak mendapatkan hasil panen maksimal. Bahkan, dalam setahun ini sebagian dari mereka gagal panen lebih dari sekali karena serangan hama wereng coklat.

Petani di Desa Huluo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, hanya bisa pasrah dengan menurunnya hasil panen padi musim ini. Untuk menambah penghasilan, beberapa petani mencari ikan di Danau Limboto untuk dijual.

(TIF/OIN/MAS/ABK/MHF/ NIT/ENG/APO/MKN/REK/ EGI/HEN/OIN/MAS/NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau