Petani Desak Bulog Segera Beli

Kompas.com - 21/02/2011, 04:03 WIB

CIREBON, KOMPAS - Petani di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mendesak Bulog segera membeli gabah mereka. Meskipun belum semua panen, harga gabah yang terus turun membuat petani khawatir akan semakin merugi pada musim kali ini.

Tarma (54), petani di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Cirebon, Minggu (20/2), mengatakan, lima ton gabah kering miliknya dijual kepada pedagang Rp 3.500 per kilogram (kg). Dua minggu lalu, harga gabah kering giling (GKG) masih berkisar Rp 4.000 per kg.

”Saat harga masih tinggi, Bulog harus segera beli, jangan menunggu harga anjlok. Kalau begitu terus, petani terus rugi,” kata Tarma, yang mengelola satu hektar sawah. Pada panen kali ini, modal tanamnya yang Rp 5 juta bisa tertutupi. Namun, ia masih harus membayar biaya sewa sawah Rp 4 juta per tahun.

”Keuntungan nyata yang bisa kami rasakan adalah tidak perlu membeli beras untuk makan sehari-hari. Kami menyisakan sebagian gabah untuk makan keluarga,” kata Tarma, yang menanggung tiga anak itu.

Ipang (42), petani di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, hanya memperoleh tujuh kuintal dari satu per tujuh hektar (100 bata) sawah yang dikelolanya. Gabah kering panen (GKP) itu dijual Rp 2.500 per kg. Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP dengan kadar air maksimum 25 persen Rp 2.640 per kg.

Meskipun panen mulai berlangsung, sejumlah pengusaha penggilingan beras yang menjadi mitra kerja Bulog belum banyak membeli gabah petani di Cirebon dan Indramayu. Sujadi (39), pengelola penggilingan Putra Bungsu di Kapetakan, Cirebon, misalnya, hingga pekan keempat Februari masih mendatangkan gabah dari Demak, Jawa Tengah.

”Harga di sini masih tinggi, rata-rata di atas Rp 3.000 per kg, sedangkan di Jateng sudah bisa Rp 2.500 per kg,” katanya. Dua hari sekali Sujadi mendatangkan 8,5 ton gabah dari Jateng.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Effendi mengatakan, turunnya harga gabah di daerahnya juga dipicu oleh masuknya gabah dari daerah lain, seperti Jateng dan Majalengka yang lebih dulu panen. Dari 84.000 hektar sawah padi di Cirebon, kurang dari lima persen di antaranya yang sudah panen.

Terkait belum banyaknya gabah petani Cirebon yang dibeli mitra kerja Bulog, Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Cirebon Opa Setiana mengatakan, hal itu bergantung pada mekanisme pasar.

Kepala Subdivre Bulog Indramayu Darsono mengatakan, ”Mitra kerja kami sudah mulai membeli gabah petani Indramayu.”

Fleksibel

Petani di Lampung berharap pemerintah menerapkan harga yang fleksibel dalam pembelian GKP. Selain melindungi petani saat harga jatuh, Bulog juga tidak kesulitan memenuhi persediaan beras saat harga tinggi.

”Pemerintah mestinya lebih berperan aktif (membeli gabah). Tidak bisa lepas tangan, apalagi dengan sekadar impor,” ujar Yonatan (42), petani di Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebaiknya janji Gubernur Soekarwo untuk memberikan bantuan lantai jemur kepada kelompok tani bisa direalisasikan agar petani dapat menikmati harga gabah saat panen raya. Setiap panen raya, gabah petani selalu dihargai murah karena kandungan air tinggi.

Ketua Forum Komunikasi Petani Jumantoro di Jember, Minggu, mengatakan, produksi gabah petani dihargai murah karena berkualitas rendah. (JON/SIR/REK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau