Kronologi Kerusuhan di Mapolsek Kampar

Kompas.com - 24/02/2011, 09:35 WIB

BANGKINANG, KOMPAS.com — Ribuan warga yang marah mengepung serta memorak-porandakan Markas Polsek Kampar, Rabu (23/2/2011) sore.

Aksi warga ini dipicu oleh tindakan polisi Polsek Kampar yang salah melakukan penangkapan, dan melakukan pemukulan terhadap Zulkifli, warga Dusun I Desa Bukit Ranah, Kabupaten Kampar, Riau.

Masyarakat mulai mendatangi kantor Polsek Kampar pukul 16.30 WIB. Awalnya jumlah massa hanya ratusan orang dan dari warga Desa Ranah. Warga berupaya mempertanyakan tindakan polisi yang telah bertindak anarkis.

Saat itu warga meminta aparat kepolisian mengeluarkan tiga orang polisi yang telah berindak salah tangkap dan sempat melakukan pemukulan. Namun, petugas kepolisian tidak bisa mengabulkannya.

Berikut ini kronologi kejadiannya:

Pukul 16.00 WIB

Seorang warga Dusun I Desa Kampung Bukit Ranah, Kampar, ditangkap Satuan Reskrim Polsek Kampar. Zulkifli ditangkap dengan tuduhan menjual kupon judi, Sie Jie.

Zulkifli dipukuli di depan umum di Pasar Air Tiris. Akibatnya Zulkifli berdarah di hidung, mulut, dan rahang patah. Dalam kondisi babak belur, Zulkifli dibawa ke Polsek. Namun saat diperiksa, ternyata semua tuduhan tidak terbukti.

Pukul 16.30 WIB

Zulkifli diantar kerumahnya. Namun melihat kondisi Zulkifli yang babak belur, keluarga korban tidak menerima. Zulkifli selanjutnya dirawat di RSUD Bangkinang.

Pukul 17.00 WIB

Seratusan warga mulai mendatangi Polsek Kampar. Warga mendesak agar polisi yang telah salah tangkap dan melakukan pemukulan dihadirkan atau ditahan dalam sel dan selanjutnya kunci tersebut diserahkan ke pihak ninik mamak.

Permintaan tersebut tidak bisa dipenuhi. Kapolres yang sempat turun mencoba bernegosiasi. Kapolres mengatakan kalau ketiganya sudah diamankan di Mapolres Kampar.

Namun warga meminta ketiganya dihadirkan. Polisi pun berjanji akan menghadirkannya. Namun, dua jam menunggu tidak didapatkan kabar atas tiga orang polisi tersebut akan hadir, warga mulai marah

Pukul 19.00 WIB

Ratusan warga selanjutnya melakukan penyerangan. Warga masuk ke area kantor sembari melempari dengan batu. Hampir seluruh kaca pecah, serta dua sepeda motor yang ada di samping kantor, juga sebuah televisi di ruang pangaduan di rusak warga. Polisi bertahan di dalam.

Pukul 19.15 WIB

Polisi balas menyerang sebagai upaya menghalau massa yang semakin beringas. Polisi berlari keluar sembari melepaskan tembakan ke udara.

Warga mundur, namun tidak beberapa lama warga kembali masuk  sembari melempari kantor polsek. Bahkan papan nama juga dirobohkan. Warga juga melempari lampu-lampu jalan. Kejadian tersebut terus berulang hingga lima kali.

Pukul 20.00 WIB

Kapolres kembali mengupayakan mediasi. Namun warga justru semakin marah. Jumlah warga yang awalnya ratusan bertambah menjadi ribuan. Entah dari mana, namun informasinya beberapa desa terdekat juga bergabung, termasuk dari Tapung. Bahkan Massa sengaja datang dengan truk. Kapolres mencari aman dengan memasuki kantor.

Lemparan masih terus dilakukan. Upaya tembakan ke udara sama sekali tidak menyurutkan amarah warga. Bahkan satu mobil pengangkut batu sengaja distop dan dikuras isinya sebagai 'peluru' untuk melempari kantor polsek.

Pukul 20.30 WIB

Satu pleton pasukan dari Yonif 132 Salo berupaya mengamankan suasana yang kian tidak kondusif. Upaya tersebut sedikit mulai membuahkan hasil.

Pukul 21.00 WIB

Warga mulai cair. Namun polisi terus melakukan tembakan ke udara. Warga mulai terpecah. Sebagian ke arah Bangkinang dan sebagian lagi ke arah Pekanbaru. Satu per satu polisi berhasil mengamankan warga yang berupaya memprovokasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau