Wereng Ancam Musim Tanam II

Kompas.com - 25/02/2011, 02:44 WIB

Gunung Kidul, Kompas - Musim tanam kedua padi tahun ini masih akan menghadapi ancaman serangan hama wereng. Di beberapa daerah, serangan hama wereng tak kunjung beranjak. Bahkan, pasca-terserang wereng, tanaman padi tumbuh kerdil.

Para petani yang tanaman padinya terserang wereng bahkan frustrasi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga tak lagi berani memberikan anjuran. Begitu pula dengan dinas pertanian. Para produsen pestisida juga tak lagi gencar berpromosi kepada petani.

Berdasarkan pengamatan Kompas sepanjang Minggu hingga Kamis (24/2) mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah, serangan hama wereng dan serangan penyakit kresek menimpa tanaman padi pada musim tanam pertama di Demak dan Grobogan.

Kedua daerah itu merupakan sentra produksi beras di Jawa Tengah. Diperkirakan, serangan hama dan penyakit juga bakal menyerang tanaman padi pada musim tanam kedua ini. Para petani mulai bimbang.

”Penyakit beluk datang setelah hujan terus-menerus terjadi. Padi yang sudah keluar mulai gagal mengisi bulir, tak lama setelah itu tanaman kering. Kami sama sekali tidak panen,” kata Mukadi, warga Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Kabupaten Demak.

Di Grobogan, serangan wereng juga menggila. Menurut Sardi (58), petani di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, untuk membunuh wereng, para petani sampai menggunakan pestisida berlebihan karena kesal dan panik.

Kondisi serupa menimpa tanaman padi di Wonogiri, Sukoharjo, dan sebagian Klaten. Di Wonogiri, serangan hama wereng mengakibatkan hampir separuh tanaman padi di sana mengalami penurunan produktivitas hingga 50 persen.

Bahkan, pada musim tanam kedua ini, pertumbuhan tanaman padi usia muda terhambat dan tampak kerdil. Meski tanaman padi sudah berusia 20 hari setelah tanam, pertumbuhannya menyerupai tanaman padi usia seminggu.

Serangan hama penyakit juga melumatkan tanaman padi di Sukoharjo, salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah.

Ngatiman (67), petani dari Desa Sendang Ijo, Wonogiri, menyatakan, saat ini dia memiliki dan mengolah lahan 4.500 meter persegi. Namun, sudah dua musim panen ini ia merugi akibat serangan hama wereng batang coklat dan wereng hijau. Panen lalu dia hanya mendapat 19 zak dari normalnya 58 zak.

”Biaya produksi saya Rp 4 juta, tetapi pada panen kemarin hanya dapat uang kurang dari Rp 2 juta. Untuk modal tanam kali ini, saya menjual kambing tiga ekor, masing-masing harganya Rp 1,2 juta,” ungkapnya.

Para petani di Wonogiri mengaku frustrasi dengan serangan hama wereng, mengingat serangan hama seperti tidak ada habisnya. ”Bahkan, meski sudah diobati sekalipun, wereng bukannya berkurang, melainkan malah tambah banyak,” katanya.

Serangan hama wereng membuat para petani di Wonogiri dan petugas PPL frustrasi. Sugiharto (48), anggota Kelompok Tani Makmur di Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selo Giri, Kabupaten Wonogiri, menyatakan, semua anjuran yang diberikan petugas PPL ataupun dinas pertanian sudah diikuti, tetapi wereng tetap banyak.

Ketua Umum Himpunan Masyarakat Pestisida Nasional Arief Syahrizal menyatakan, kalau serangan hama wereng sudah melebihi ambang batas, pengobatan sulit dilakukan. Sebanyak apa pun pestisida yang digunakan, tidak banyak membantu.

Sementara itu, menjelang musim tanam kedua, saluran irigasi di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kurang berfungsi optimal karena pendangkalan. Kondisi itu menyebabkan sekitar 500 hektar sawah di lima desa terancam produktivitasnya.

Jayadi (46), petani di Desa Paren, mengatakan, irigasi itu bersumber dari Sungai Bekakak dan Gresi. Setiap kali sungai itu meluap, air di sawah meninggi. Ketika air di saluran irigasi surut, air di sawah lama surut karena terhalang endapan lumpur irigasi. Sedangkan kalau musim kemarau, penyebaran air irigasi tidak merata. (MAS/HEN/BUR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau