Kemacetan jakarta

Peneliti: Penambahan Jalan Bukan Solusi

Kompas.com - 02/03/2011, 15:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan membangun enam ruas jalan layang nontol di Ibu Kota bukanlah solusi untuk mengatasi kemacetan. Hal itu justru akan menghabiskan anggaran dan justru membuat kendaraan pribadi semakin menjamur.

Hal itu diungkapkan peneliti transportasi ITB, Ofyar Z Tamin, Selasa (2/3/2011), dalam diskusi "Curahan Pendapat untuk Mengurangi Kemacetan di DKI Jakarta" di Balai Kota DKI.

Dikatakan, pelebaran jaringan jalan itu sangat mahal. Dan kalau dilebarkan apakah kemacetan akan berhenti? "Jelas tidak. Pelebaran jalan justru akan menumbuhkan angkutan pribadi. Padahal kalau dilihat sekarang pemanfaatan jalan untuk kendaraan pribadi sangat boros," kata Ofyar.

Dia mengatakan, penggunaan ruang jalan akan sangat efektif apabila diperuntukkan untuk angkutan umum. "Kalau orang planologi bicara luas kota harus disisakan untuk transportasi minimal 10-15 persen dari luas kota," ujarnya.

Akan tetapi, Jakarta baru punya 6-7 persen ruas jalan, padahal di Washington bisa mencapai 30 persen. Namun, sayangnya ruas jalan di Jakarta yang sedikit tersebut justru lebih banyak dimanfaatkan oleh kendaraan pribadi, termasuk ruang yang dimakan untuk parkir on street (di badan jalan).

"Jadi seharusnya mengurangi kendaraan. Orang lebih banyak akan diangkut kendaraan lebih sedikit, salah satunya dengan public transport," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau