Bilateral

Korsel Bergeming "Serbu" Korut

Kompas.com - 03/03/2011, 17:39 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Pemerintah Korea Selatan, Kamis (3/3/2011), mengatakan tidak akan menghentikan para aktivis meluncurkan selebaran dengan berita tentang aksi unjuk rasa Arab ke Korea Utara, meskipun ancaman Pyongyang untuk melepaskan serangan sebagai pembalasan.    

Sebuah kelompok penyeberang mengatakan akan menerbangkan selebaran  dan rekaman video di perbatasan yang dijaga ketat pekan depan, mungkin pada Senin atau Selasa jika angin bergerak ke arah yang benar. "Tidak ada yang ilegal tentang kegiatan itu," kata Lee Jong-Joo, juru bicara Kementerian Unifikasi Selatan, yang menangani hubungan antar-Korea.    

Park Sang-Hak, pemimpin Pejuang bagi Pembebasan Korea Utara yang bermarkas di Seoul, mengatakan bahwa kelompoknya akan membagikan 200 ribu selebaran dan DVD serta USB. Dia mengatakan, DVD dan USB akan ditujukan di sekolah, perguruan tinggi dan institusi publik yang mungkin memiliki akses komputer. Pemutar DVD bekas juga dibawa masuk dari China dan dilaporkan tidak biasa di beberapa daerah.    

Cakram dan rekaman akan membawa berita tentang pergerakan di Mesir dan Libya dan perjalanan Kim Jong-Chol, anak kedua pemimpin Kim Jong-Il, ke Singapura baru-baru ini untuk menonton konser Eric Clapton.    

Militer Selatan juga telah dilaporkan mengirimkan selebaran dengan berita tentang pergerakan di Timur Tengah. Grup pribadi selama bertahun-tahun dikirim selebaran menyerang Utara rezim.    

Bundel selebaran dan materi lainnya dikaitkan di bawah sebuah balon besar berisi helium, yang pengatur waktunya memungkinkan paket terbuka di atas wilayah Korea Utara.    

Korea Utara selalu marah dengan peluncuran tersebut. Namun, para analis mengatakan Dinasti Kim, yang telah memerintah dengan tangan besi sejak 1948, terutama ingin mengecualikan berita tentang pemberontakan terhadap para diktator di Arab.    

Ketegangan juga meningkat di tengah latihan militer AS-Korea Selatan yang sedang berlangsung, yang dilihat Korea Utara sebagai latihan untuk invasi.    

Pada Minggu militer Pyongyang mengancam untuk melakukan serangan ke daerah perbatasan, misal Imjingak, lokasi dimana balon-balon itu diluncurkan. "Militer kami dalam upaya membela diri akan melakukan serangan langsung, serangan itu ditujukan ke asal gerakan propaganda anti republik...jika praktik terus berlangsung meskipun peringatan ulang kami," katanya.    

"Kami tidak takut ancaman ... Korea Utara memiliki hak untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia luar tidak peduli seberapa histeris rezim bereaksi," kata Park kepada AFP, berbicara tentang peluncuran yang direncanakan di Imjingak.    

"Banyak warga Korea Utara tahu banyak tentang Libya sehingga berita tentang apa yang terjadi akan memiliki dampak di Utara," katanya, seraya menambahkan bahwa Moammar Khadafy digambarkan sebagai "kawan revolusioner" dari Kim Jong-Il.    

Mengenai rekaman konser Clapton, Park mengatakan rakyat Korea Utara diajarkan jika hiburan seperti itu merupakan hal kapitalis. "Mereka perlu tahu apa yang putera pemimpin lakukan sekarang," katanya.    

Seoul mengatakan mereka tidak memiliki kekuatan hukum untuk menghentikan meluncurkan selebaran pribadi. Seoul terkadang meminta para aktivis untuk berhenti ketika Korea Utara mengancam membalas. "Tetapi, hal-hal telah berubah sejak provokasi militer tahun lalu," kata juru bicara kementerian Lee.    

Pada November lalu, sebuah penembakan mematikan terhadap sebuah pulau perbatasan oleh Korut telah menewaskan empat warga Korea Selatan termasuk dua warga sipil. Korea Utara juga diduga menyerang kapal perang Seoul yang mengakibatkan 46 pelaut tewas pada Maret 2010.    

Kedua belah pihak menghentikan propaganda lintas perbatasan yang resmi di bawah kesepakatan tahun 2004. Militer Korea Selatan telah menerbangkan balon ke Korea Utara yang membawa berita  mengenai pergerakan bersama dengan sejumlah barang-barang rumah tangga dasar yang terbatas di negara miskin, Korea Utara, kata seorang anggota parlemen pekan lalu. Seorang pejabat Kementerian Unifikasi kemudian mengkonfirmasi hal itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau