Jelang nyepi

Jelang Nyepi, Denpasar Mulai Lenggang

Kompas.com - 03/03/2011, 19:54 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Dua hari menjelang pelaksanaan Hari Suci Penyepian 1933 Saka, Kota Denpasar dan sekitarnya mulai lengang dibanding biasa karena sebagian warga mengarus meninggalkan Pulau Bali.

Jalan Puputan Badung, Kota Denpasar, Kamis (3/3/2011) siang, yang menjadi landmark ibukota Provinsi Bali itu tidak ramai.

Beberapa kantor pemerintah yang berlokasi di seputaran lapangan Puputan Badung itu juga lengang dari para pegawainya.

Kebanyakan warga Kota Denpasar mulai mengarus menuju kampung halaman masing-masing untuk melakukan beberapa prosesi upacara keagamaan Hindu Dharma sebelum Hari Suci Penyepian 1933 Saka dilaksanakan pada Sabtu nanti (5/3/2011).

Salah satu upacara keagamaan itu adalah melasti yang dimulai dari banjar masing-masing menuju lokasi akhir di pantai-pantai terdekat, beberapa di antaranya adalah Pantai Padanggalak dan Pantai Sanur di Kota Denpasar.

Untuk banjar-banjar yang terletak di sekitar Kota Denpasar, upacara melasti dilakukan pada Rabu kemarin di Pantai Padanggalak dan Pantai Sanur.

Kelengangan serupa juga terjadi di Jalan WR Supratman, Jalan Gajah Mada dan sekitar Pasar Badung, yang menjadi salah satu barometer aktivitas perdagangan dan perekonomian Provinsi Bali.

Banyak los pasar terbesar di Bali itu yang lengang karena para pedagang dan pembelinya mudik ke kampung halaman masing-masing.

Pada hari biasa, pasar itu sangat ramai dan kemacetan lalu lintas selalu terjadi di jalan-jalan penghubung menuju pasar itu.

Pasar Kereneng yang menjadi pasar paling ramai kedua di Kota Denpasar sama lengangnya. Halaman parkir yang lebih luas ketimbang Pasar Badung hanya diisi beberapa mobil dan sepeda motor milik pedagang atau pembeli.

Buruh-buruh angkut yang biasanya selalu menyambangi para pembeli yang memborong belanjaan juga hanya beberapa saja.

"Nanti siang juga saya pulang ke Batubulan. Besok sudah pengerupukan di banjar saya," kata I Made Tisna, salah satu buruh angkut yang biasa mangkal di sana.

Situasi lahan parkir yang cukup lengang kini dimanfaatkan beberapa pedagang sepatu dan sandal untuk berjualan.

"Biasanya susah dapat tempat di sini. Pasti ada saja yang beli sandal atau selop untuk upacara besok," kata seorang pedagang sandal yang menggelar dagangannya di pelataran gedung Pasar Kereneng.

Keadaan di jalan-jalan, pemukiman, dan perkantoran lebih lengang diantisipasi pihak Kepolisian Daerah Bali dan jajaran di bawahnya untuk mewaspadai tindak kriminal yang bisa terjadi.

Beberapa polisi ditempatkan di Pasar Kereneng itu untuk menjaga keadaan yang lebih lengang ketimbang biasanya.

Jalan Gatot Subroto yang menjadi salah satu jalan utama Kota Denpasar juga menjadi sangat lengang dibandingkan hari biasa.

Toko-toko dan perkantoran yang berada di kedua sisi jalan utama itu sudah meliburkan karyawan-karyawannya sejak kemarin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau