Korban Tewas 6.000 Orang

Kompas.com - 04/03/2011, 03:54 WIB

Tripoli, Kamis - Perang saudara di Libya telah menewaskan lebih dari 6.000 orang. Kelompok Hak Asasi Manusia Libya, Kamis (3/3), memperkirakan jumlah korban tewas bakal bertambah karena pertempuran masih berlangsung di beberapa kota.

Belum ada tanda- tanda krisis di Libya akan segera berakhir. Kubu oposisi tetap yakin dengan tuntutannya menjungkalkan Moammar Khadafy. Semangat kubu oposisi ini meninggi dengan adanya dukungan langsung dari komunitas internasional, khususnya AS dan sekutunya dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

”Korban tewas di seluruh pelosok Libya sudah 6.000 orang lebih,” kata juru bicara Liga HAM Libya, Ali Zeidan, kepada AFP. Sekitar 3.000 orang tewas di Tripoli, 2.000 orang di Benghazi, dan 1.000 orang di sejumlah kota di Libya. Jumlah itu merujuk pada laporan penduduk.

Menurut Ali, ada ribuan tentara bayaran yang ditempatkan di Libya, termasuk 3.000 orang di Tripoli dan 3.000 orang di luar Tripoli. Tentara bayaran itu dipimpin para perwira Chad, negara tetangga Libya. Peran tentara bayaran itu muncul sejak protes yang dilancarkan kelompok antirezim Khadafy terjadi pada 15 Februari.

Jumlah korban cedera akibat pertempuran antara kubu pro dan antirezim Khadafy juga bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah korban tewas. Orang-orang bersenjata yang berjaga di gerbang sebuah rumah sakit di kota Ajdabiya menyaksikan kedatangan para korban yang terluka.

Gelombang pengungsi

Suasana tegang, takut, cemas, dan mengharu biru melingkupi warga di rumah sakit itu. Para korban berdatangan dari kota Brega yang menjadi titik serangan pasukan pro-Khadafy, Rabu.

Sambil bersandar di dinding aula rumah sakit Ajdabiya, dokter Abdullah Adralsir menarik napas dalam-dalam. Ia baru saja pulang dari Brega, 80 kilometer dari Ajdabiya atau 200 kilometer dari Benghazi, kota terbesar kedua setelah Tripoli.

Pasukan Khadafy dengan pesawat tempur membombardir kota pelabuhan utama dan terminal ekspor minyak Marsa El Brega (Brega) di Libya timur. Bom jatuh antara pelabuhan dan permukiman warga. Asap hitam mengepul.

Bentrokan antara massa pro dan anti-Khadafi dijawab Angkatan Udara Libya dengan membombardir kilang minyak dan kota Brega. ”Kami melihat pesawat tempur loyalis Khadafy terbang di atas Brega, kemudian bom dijatuhkan dan kepulan asap pekat membubung,” ungkap Tony Birtley, repoter TV Al Jazeera.

”Saya mendengar deru pesawat dan kemudian terdengar ledakan,” kata Muhammad Shibli, warga, di Brega sambil mengatakan, bom mendarat dekat universitas khusus rekayasa minyak yang berjarak 2 kilometer dari pelabuhan ekspor. ”Ada serangan udara. Saya melihat sendiri,” ujar Awadh Mohammed, relawan oposisi.

Kota Brega juga tetap menjadi ajang pertempuran hingga hari Kamis. Kedua kubu berebut untuk menguasai depot dan instalasi minyak di kota pelabuhan utama untuk ekspor minyak Libya.

Pertempuran hebat juga berlangsung di Benghazi. Setiap kubu menyerang dengan menggunakan senjata otomatis dan pelontar granat.

Walaupun kewalahan di Libya timur, pasukan oposisi juga sedang berjuang keras untuk mengepung Tripoli yang masih dikuasai kubu Khadafy. Pasukan loyalis Khadafy juga bergerak di perbatasan Tunisia untuk menguasai kota Nalut.

Perang saudara yang sedang berkecamuk di Libya telah menimbulkan ketakutan luar biasa bagi warga asing dan lokal. Mereka berusaha menyeberang ke Mesir dan Tunisia. Mesir dan beberapa negara Barat telah meluncurkan pesawat khusus dan kapal laut untuk mengangkut para pengungsi yang panik. Juru bicara Komisi Tinggi Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), Melissa Fleming, mengatakan, eksodus warga terus terjadi.

Produksi minyak turun

Krisis di Libya, eksportir minyak pada urutan ke-12 dunia, menyebabkan penurunan produksi minyak dari 1,6 juta barrel menjadi 700.000 barrel per hari.

Hengkangnya para pekerja minyak dan ancaman Khadafy melakukan bumi hangus jika Barat menyerang memperburuk sentimen di pasar minyak. ”Saya tidak melihat potensi tentang pengakhiran krisis secara damai untuk kategori pemimpin seperti Khadafy,” kata Samuel Ciszuk, analis Timur Tengah di IHS Energy, London, Kamis.

Khadafy merasa dikhianati Barat, padahal ia berkompromi dengan Barat, termasuk dalam perang melawan terorisme. Khadafy juga menegaskan, ia sangat dicintai rakyat, rela mati untuk melindunginya.

Harga minyak jenis Brent sepat melejit ke level 116 dollar AS per barrel di London. ”Harga itu bisa melejit ke level 130 dollar AS per barrel. Produksi minyak Libya anjlok karena hengkangnya para pekerja asing,” kata Shokri Ghanem, Presiden National Oil Corporation di Tripoli.

Kenaikan harga minyak mengkhawatirkan banyak pihak di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengingatkan, harga pangan yang mencapai rekor baru Februari lalu akan terus naik. Penyebabnya adalah kenaikan harga minyak, komponen utama sektor produksi.

”Kenaikan harga minyak akan memperburuk harga pangan yang sudah pada titik rawan. Ini membahayakan kondisi perekonomian di negara-negara berkembang,” kata David Hallam, Direktur Divisi Perdagangan dan Pemasaran FAO, di Roma.

Kekhawatiran akan kondisi ekonomi di negara berkembang menyebabkan investor global menarik dana dari negara berkembang. Cameron Brandt, analis EPFR, mengatakan, pemodal mulai keluar dari negara berkembang. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau