BREBES, KOMPAS.com — Masuknya bawang merah impor dari Thailand dan Vietnam ke wilayah Brebes, Jawa Tengah, menjadi tantangan yang harus dihadapi petani dan pemerintah. Kondisi ini terjadi karena saat ini rasa bawang impor hampir sama dengan kualitas bawang lokal.
Warna merah serta aroma pada bawang impor dari Thailand hampir sama dengan warna merah dan aroma bawang lokal.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes Masrukhi Bachro, Kamis (3/3/2011), mengatakan, tahun-tahun sebelumnya, warna merah pada bawang impor lebih muda dan aromanya tidak tajam sehingga dari sisi rasa, bawang lokal lebih unggul bila dibanding bawang impor.
"Tahun lalu, perusahaan-perusahaan berbahan baku bawang, seperti perusahaan mi instan, juga hanya mau menerima pasokan bawang lokal. Namun saat ini, mereka bersedia menerima pasokan bawang impor. Ini tantangan besar bagi petani Brebes," katanya.
Pemerintah, lanjutnya, harus membantu petani agar mampu meningkatkan kualitas dan produksi bawang merah lokal. Beberapa upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan menjamin ketersediaan bibit yang berkualitas dan membantu mengembalikan kesuburan tanam di Brebes yang mulai rusak karena pemakaian pupuk berlebihan.
Saat ini, selain karena penurunan produktivitas, berkurangnya pasokan bawang lokal karena banyak petani yang tidak menanam bawang. Data dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes menunjukkan luas tanaman bawang merah pada Januari hingga Februari 2011 hanya sekitar 5.790 hektar, dari luas tanam keseluruhan selama satu tahun sekitar 25.000 hektar.
Sebagian petani tidak menanam bawang karena mereka kesulitan mendapatkan bibit yang saat ini harganya mencapai Rp 22.000 hingga Rp 24.000 atau sekitar 1,5 kali lipat harga normal.
Tolak impor
Sugito (43), petani di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, berharap bawang impor tidak masuk ke Brebes. Menurut dia, meskipun saat ini pasokan bawang lokal sedikit sehingga harga bawang tinggi, impor tidak diperlukan.
Hal itu karena bawang merah bukan kebutuhan utama masyarakat sehingga mereka bisa mengurangi konsumsi bawang. "Harga tinggi biarkan saja, jangan ditekan dengan impor. Karena meskipun harga tinggi, biaya produksi petani juga tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Pemkab Brebes masih sulit membatasi masuknya bawang impor karena bawang merah termasuk komoditas pasar bebas.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Brebes Herman Adhy melalui Kepala Seksi Distribusi dan Informasi Pasar Hartono mengatakan, masuknya bawang merah impor ke Brebes sudah berlangsung sekitar 10 tahun terakhir.
Impor biasa dilakukan saat produksi bawang lokal sedikit, sekitar bulan November atau Desember hingga Maret tahun berikutnya.
Sebenarnya pada 2006 dan 2007, Pemkab Brebes pernah melayangkan surat ke Kementerian Perdagangan untuk meminta pembatasan volume impor bawang ke Brebes, pembatasan waktu impor, dan keberatan adanya pembongkaran bawang impor di Brebes. Namun, pembatasan tersebut sulit dilakukan karena bawang merah termasuk dalam komoditas tata niaga bebas.
Pemerintah, lanjutnya, juga pernah menyiapkan gudang penyimpanan untuk menampung bawang petani saat panen raya sehingga petani bisa menjual bawang merah saat harga tinggi. Namun, hal itu tidak berjalan karena kebanyakan petani memilih segera menjual hasil panen untuk modal tanam berikutnya.
Selain itu, komoditas bawang merah juga tidak tahan disimpan lama, maksimal tiga bulan. Petani tidak mau berspekulasi karena setelah disimpan, belum tentu harga bawang naik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang