Intervensi pasar

Petani Brebes Resah Bawang Merah Impor

Kompas.com - 04/03/2011, 04:57 WIB

BREBES, KOMPAS.com — Masuknya bawang merah impor dari Thailand dan Vietnam ke wilayah Brebes, Jawa Tengah, menjadi tantangan yang harus dihadapi petani dan pemerintah. Kondisi ini terjadi karena saat ini rasa bawang impor hampir sama dengan kualitas bawang lokal.

Warna merah serta aroma pada bawang impor dari Thailand hampir sama dengan warna merah dan aroma bawang lokal.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes Masrukhi Bachro, Kamis (3/3/2011), mengatakan, tahun-tahun sebelumnya, warna merah pada bawang impor lebih muda dan aromanya tidak tajam sehingga dari sisi rasa, bawang lokal lebih unggul bila dibanding bawang impor.

"Tahun lalu, perusahaan-perusahaan berbahan baku bawang, seperti perusahaan mi instan, juga hanya mau menerima pasokan bawang lokal. Namun saat ini, mereka bersedia menerima pasokan bawang impor. Ini tantangan besar bagi petani Brebes," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, harus membantu petani agar mampu meningkatkan kualitas dan produksi bawang merah lokal. Beberapa upaya yang bisa dilakukan yaitu dengan menjamin ketersediaan bibit yang berkualitas dan membantu mengembalikan kesuburan tanam di Brebes yang mulai rusak karena pemakaian pupuk berlebihan.

Saat ini, selain karena penurunan produktivitas, berkurangnya pasokan bawang lokal karena banyak petani yang tidak menanam bawang. Data dari Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes menunjukkan luas tanaman bawang merah pada Januari hingga Februari 2011 hanya sekitar 5.790 hektar, dari luas tanam keseluruhan selama satu tahun sekitar 25.000 hektar.

Sebagian petani tidak menanam bawang karena mereka kesulitan mendapatkan bibit yang saat ini harganya mencapai Rp 22.000 hingga Rp 24.000 atau sekitar 1,5 kali lipat harga normal.

Tolak impor

Sugito (43), petani di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, berharap bawang impor tidak masuk ke Brebes. Menurut dia, meskipun saat ini pasokan bawang lokal sedikit sehingga harga bawang tinggi, impor tidak diperlukan.

Hal itu karena bawang merah bukan kebutuhan utama masyarakat sehingga mereka bisa mengurangi konsumsi bawang. "Harga tinggi biarkan saja, jangan ditekan dengan impor. Karena meskipun harga tinggi, biaya produksi petani juga tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Pemkab Brebes masih sulit membatasi masuknya bawang impor karena bawang merah termasuk komoditas pasar bebas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Brebes Herman Adhy melalui Kepala Seksi Distribusi dan Informasi Pasar Hartono mengatakan, masuknya bawang merah impor ke Brebes sudah berlangsung sekitar 10 tahun terakhir.

Impor biasa dilakukan saat produksi bawang lokal sedikit, sekitar bulan November atau Desember hingga Maret tahun berikutnya.

Sebenarnya pada 2006 dan 2007, Pemkab Brebes pernah melayangkan surat ke Kementerian Perdagangan untuk meminta pembatasan volume impor bawang ke Brebes, pembatasan waktu impor, dan keberatan adanya pembongkaran bawang impor di Brebes. Namun, pembatasan tersebut sulit dilakukan karena bawang merah termasuk dalam komoditas tata niaga bebas.

Pemerintah, lanjutnya, juga pernah menyiapkan gudang penyimpanan untuk menampung bawang petani saat panen raya sehingga petani bisa menjual bawang merah saat harga tinggi. Namun, hal itu tidak berjalan karena kebanyakan petani memilih segera menjual hasil panen untuk modal tanam berikutnya.

Selain itu, komoditas bawang merah juga tidak tahan disimpan lama, maksimal tiga bulan. Petani tidak mau berspekulasi karena setelah disimpan, belum tentu harga bawang naik.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau