Liburan

Tiga Orang Hilang di Parangtritis

Kompas.com - 07/03/2011, 04:42 WIB

YOGYAKARTA, Kompas - Enam wisatawan domestik tergulung ombak di Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, Minggu (6/3). Tiga korban berhasil diselamatkan tim SAR, namun tiga lainnya hilang ditelan ombak.

”Sampai saat ini tiga korban belum kami temukan. Kami masih melakukan penyisiran saat keadaan air pasang dengan memasang jaring pinggir dan jaring tengah. Kedua jaring dipasang untuk mengantisipasi korban tersangkut di karang,” kata Kepala Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Besar Sri Suwari Wahyudi, Minggu (6/3) petang.

Menurut Sri Suwari, saat kejadian para korban sedang bermain-main di pinggir pantai. Tiba-tiba ombak besar menggulung mereka. Tiga korban akhirnya berhasil diselamatkan, tapi tiga korban lain, yaitu Putri (14), Septi (14), dan Partiah (18), hilang tertelan ombak.

”Ketiga korban berasal dari sekitar Kota Yogya, yaitu Berbah, Prambanan, dan Magelang. Kebetulan mereka bermain di tempat yang sama dan akhirnya tergulung ombak bersama-sama,” katanya.

Adi, tunangan Partiah, mengungkapkan, ia tak menyangka peristiwa tersebut. Menurutnya, ombak tiba-tiba datang dan menyapu tunangannya. Ia panik dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali minta tolong kepada orang-orang di sekitar lokasi.

Libur dua hari di akhir pekan kemarin memang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berwisata. Di sejumlah obyek wisata kawasan Malang Raya, sejumlah obyek wisata juga diserbu pengunjung.

Kemacetan pun terjadi di jalan-jalan akses menuju Kota Malang dan Batu. Hotel-hotel penuh walau sudah menaikkan tarif.

Sejak Sabtu pagi, jalan menuju Malang dari arah Surabaya diwarnai kemacetan. Terutama di ruas jalan raya Porong yang merupakan pusat kemacetan sejak terjadi semburan lumpur Lapindo hampir lima tahun lalu.

”Surabaya-Malang saya tempuh 4 jam dari biasanya 2,5 jam,” ujar Moch Tohir, warga Ponggok, Blitar, Jawa Timur.

Kepadatan dan kemacetan lebih parah terjadi di Kota Batu dari pelbagai arah, karena membeludaknya pengunjung dari luar Kota Batu. Bukan hanya Jatim Park, Selecta, Air Terjun Coban Rondo, dan Batu Night Spectaculer, Pantai Balekambang yang biasanya sepi, juga diserbu ribuan pengunjung.

Penyeberangan ramai

Sementara itu, penyeberangan menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Gilimanuk di Bali, Minggu kemarin, atau sehari setelah Hari Raya Nyepi, dibuka lagi . Jumlah kendaraan dan penumpang yang menyeberang pun langsung naik empat kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.

Kepala Cabang PT Indonesia Ferry Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Ketapang Charda Damanik, Minggu (6/3), mengatakan, pembukaan kembali penyeberangan dilakukan sejak pukul 05.00.

Antrean kendaraan dan penumpang yang hendak menuju Bali pun mengular hingga Jalan Ketapang. Antrean yang sudah berlangsung sejak Sabtu itu baru berkurang Minggu sore sekitar pukul 15.00. (NIT/ANO/ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau