Transportasi

Suatu Pagi di KRL Sudirman Ekspres

Kompas.com - 09/03/2011, 04:50 WIB

Pagi kemarin, Debra (28), warga Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, seperti hari-hari kerja lainnya, pukul 07.45 sudah berdiri di peron menanti kedatangan kereta rel listrik Sudirman Ekspres di Stasiun Rawa Buntu, BSD. Rambut sebahunya tidak bisa menutupi earphone yang menutup telinga mendengarkan alunan lembut ”Recuerdos de la Alhambra” (Tarrega).

Bangku panjang dari dua potongan rel berjajar yang tersedia di peron tampaknya tidak cukup menarik bagi Debra untuk duduk. Ia lebih memilih berdiri di peron dan menikmati udara pagi yang hangat.

Tidak lama kemudian, hampir bersamaan datang Tedi (35), dan Sara (34), keduanya juga warga di salah satu perumahan di kawasan BSD. Meskipun tidak kerja di tempat yang sama dan tidak tinggal di rumah yang berdekatan, mereka bertiga tampak akrab. Keakraban itu ternyata dipertemukan oleh jadwal keberangkatan KRL. Mereka sering bertemu di pagi hari saat berangkat kerja.

”Saya biasa turun di Stasiun Tanah Abang, kemudian naik ojek ke kantor yang ada di kawasan Sudirman,” ujar Debra yang ditemui di Stasiun Rawa Buntu, kemarin.

KRL Sudirman Ekspres ini sebetulnya cukup nyaman dan menyenangkan kalau tidak ada gangguan. Pasalnya, cukup membayar tiket seharga Rp 8.000, bisa menikmati kereta yang bersih, tempat duduk yang empuk, dan penumpangnya juga tidak terlalu padat serta pendingin ruangannya juga terasa adem.

”Tapi yang lebih penting lagi, cepat sampai tujuan. Sekitar 30 menit sudah tiba di Tanah Abang dan cukup bayar Rp 8.000,” ujar Debra, yang mengaku sudah dua tahun terakhir menjadi penumpang setia KRL.

Tedi, pria lajang yang juga bekerja di kawasan Sudirman, mengaku amat tersiksa jika KRL mengalami gangguan, seperti yang terjadi pada 2 Maret lalu. Pentograf KRL 374 Sudirman Ekspres, pada pukul 7.38 menyangkut di kawat listrik di Stasiun Tanah Abang sehingga listrik aliran atas harus dipadamkan semua.

Meskipun perjalanan KRL sering mengalami gangguan, Tedi mengaku, naik KRL Sudirman Ekpres tetap menyenangkan. Pasalnya, keretanya bersih, tidak ada pedagang asongan, serta penumpangnya juga tampak bisa saling menghormati penumpang lain.

”Tidak heran kalau penumpang perempuan juga banyak yang merasa senang,” ujar Sara yang mengaku baru dua bulan terakhir mencoba naik KRL, setelah mendengar cerita menyenangkan dari rekan sekantornya yang sering naik KRL.

Etika

Kondisi KRL Sudirman Ekspres di jalur Serpong-Tanah Abang-Manggarai memang lebih baik ketimbang KRL ekonomi non-AC. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi kereta diesel ekonomi dari Rangkas Bitung, yang hampir semua pintu masuknya tertutup oleh barang-barang dagangan atau hasil pertanian yang akan dibawa ke sejumlah pasar di Jakarta.

Pengalaman Kompas menumpang KRL Sudirman Ekspres memang menyenangkan. Penumpang yang umumnya pegawai kantoran menengah ke atas itu tampak punya etika kesopanan. Antarpenumpang tidak saling mengganggu. Saling berucap maaf jika tidak sengaja menyenggol penumpang lain.

Penumpang yang tidak kebagian tempat duduk umumnya berdiri dengan sopan. Sebagian penumpang asyik dengan membaca koran atau buku yang dibawanya. Ada pula yang tekun memainkan BlackBerry atau ponselnya.

Penumpang yang mendapat tempat duduk dan tidak suka ngobrol lebih memilih diam atau tidur di sepanjang perjalanan. Sebagian lainnya asyik menikmati musik dengan headphone atau earphone. (MAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau