Blatter Cekal Nurdin

Kompas.com - 09/03/2011, 05:20 WIB

Jakarta, kompas - Presiden FIFA Sepp Blatter menegaskan, Nurdin Halid tidak bisa dipilih lagi menjadi ketua umum PSSI karena sesuai dengan Kode Etik FIFA, individu dengan catatan kriminal tidak memenuhi syarat untuk dipilih. Blatter akan segera menindaklanjuti hal ini.

Pernyataan Blatter itu disampaikan dalam pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo di kantor FIFA di Zurich, Swiss, Selasa (8/3). Pertemuan itu berlangsung dalam suasana akrab dan santai selama satu jam, mulai dari pukul 11.45 waktu Zurich.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)/Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo, yang bertemu Blatter setelah menerima Djoko, menegaskan bahwa empat orang tidak boleh mencalonkan lagi. Keempat orang itu adalah Nurdin Halid, Nirwan D Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta.

Blatter juga menginstruksikan supaya Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia harus bersatu dan diberi tenggat waktu hingga akhir Mei. ”Jika masih terjadi dualisme liga, FIFA akan menjatuhkan sanksi tegas kepada Indonesia,” ujar Rita Subowo mengutip Blatter.

Blatter juga menegaskan, FIFA tidak mengakui Statuta PSSI dan harus kembali ke draf final Statuta PSSI versi bahasa Inggris yang disetujui oleh FIFA pada 13 Februari 2009.

Sebelumnya, kepada Djoko Susilo, Blatter mengatakan, FIFA tidak akan membiarkan dia (Nurdin Halid) dipilih lagi karena sesuai dengan Kode Etik FIFA, mantan narapidana tidak boleh dipilih lagi.

Pernyataan Blatter itu menjawab pertanyaan Djoko mengenai sikap FIFA terhadap masalah yang melilit PSSI dan posisi Nurdin Halid yang diminta turun oleh masyarakat pencinta bola di Indonesia. ”Saya mengikuti perkembangan di Indonesia dan mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia,” ujar Blatter ditirukan oleh Djoko.

”Sikap kami tidak perlu diperdebatkan lagi,” kata Blatter, yang diikuti dengan bersulang tanda persahabatan.

Pernyataan Blatter sempat terpotong oleh Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi Thierry Regenass yang mengatakan sesuatu kepada Blatter menggunakan bahasa Perancis. Regenass adalah perwakilan FIFA yang pada kongres PSSI untuk meratifikasi Statuta FIFA pada April 2009 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara.

Blatter menegaskan, PSSI harus menjalankan keputusan Komite Eksekutif FIFA pada 3 Maret. PSSI diperintahkan menggelar kongres biasa pada 26 Maret untuk memilih anggota Komite Pemilihan berlandaskan Electoral Code yang sesuai dengan Standard Electoral Code FIFA. Komite Pemilihan itu yang akan menggelar kongres pemilihan ketua sebelum 30 April.

Pernyataan Blatter itu juga disaksikan Duta Besar Vietnam dan Duta Besar Filipina. Djoko menegaskan, kedua koleganya itu bisa dikonfirmasi atas pernyataan Blatter mengenai Nurdin Halid dan PSSI.

Tidak batal

Djoko juga mengklarifikasi ada isu yang disebarkan bahwa pertemuannya dengan Blatter batal dilaksanakan. ”Isu itu tidak benar. Awalnya kami memang dijadwalkan bertemu Blatter pada pukul 10.30 waktu Zurich, tetapi Blatter ada rapat sejak pagi dan dikhawatirkan bakal molor. Informasi itu sudah disampaikan kepada kami sehari sebelumnya dan tadi kami bertemu Blatter pukul 11.45. Jadi tidak benar isu kami batal bertemu,” ujar Djoko.

Mengenai pertemuan antara PSSI dan Blatter, kata Djoko, diinformasikan akan berlangsung pada Kamis. Pada hari itu ada pesta internal karyawan FIFA.

”Melihat sikap Blatter yang akrab dan terbuka, saya yakin akan ada tindak lanjut mengenai sepak bola Indonesia,” ujar Djoko. (ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau