Tender MRT Bisa Tertunda

Kompas.com - 10/03/2011, 04:40 WIB

jakarta, kompas - Tender pembangunan mass rapid transit dikhawatirkan tidak bisa dijalankan tepat waktu. Hal ini karena pemerintah pusat belum menentukan lembaga penerima dana pinjaman dari Jepang, apakah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau PT MRT Jakarta.

”Lebih baik kita bersabar dahulu. Jangan menggelar lelang sebelum ditentukan siapa yang akan memegang uang tersebut. Jika tidak ditentukan, bisa kisruh di belakang hari,” kata Agus Prabowo, Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Rabu (9/3).

Rencananya, tender akan dilakukan Juni-Juli 2011. Pemenang akan diumumkan satu tahun kemudian. Pembangunan mass rapid transit (MRT) dimulai akhir tahun 2012.

Agus menjelaskan, ada dua lembaga yang berhak memegang dana pinjaman itu, yakni Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta atau PT MRT Jakarta.

Jika Pemprov DKI Jakarta yang memegang dana, Pemprov DKI juga yang akan membangun infrastruktur MRT. Lalu setelah jadi, infrastruktur itu diserahkan kepada PT MRT Jakarta sebagai aset.

Sementara itu, jika dana diserahkan kepada PT MRT Jakarta, prosesnya akan menjadi lebih praktis. Namun, kredibilitas PT MRT Jakarta harus dijaga ketat mengingat uang yang diterima sangat besar.

Semula pinjaman yang akan dikucurkan untuk MRT sebesar Rp 15 triliun. Lalu meningkat lagi menjadi Rp 23 triliun. Jika semua rute dibangun, utara-selatan dan barat-timur, anggarannya diperkirakan mencapai Rp 90 triliun.

Perlu duduk bersama

Untuk memutuskan siapa yang memegang dana pinjaman, menurut Agus, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, dan Pemprov DKI Jakarta harus duduk bersama menyinkronkan semua aturan yang ada.

Soalnya, ada peraturan Menkeu yang melarang pemerintah daerah (pemda) meminjam uang dari luar negeri. Jika pemda yang memegang, berarti pemda yang meminjam. Padahal, pinjaman ini merupakan kesepakatan pemerintah dengan pemerintah.

Ada juga peraturan Mendagri yang mengharuskan semua proyek selesai sebelum masa jabatan kepala pemda berakhir. Padahal, pembangunan MRT adalah proyek jangka panjang.

”Semua pihak harus legawa dengan keputusan yang dibuat,” kata Agus.

Gubernur optimistis

Sementara itu, Gubernur DKI Fauzi Bowo meyakini proyek MRT tidak mundur lagi. Menurut dia, pihak JICA telah menyetujui pengucuran pinjaman dana dan sudah ada rencana detail teknis pembangunan. Proyek MRT juga didukung pemerintah pusat sehingga tidak mungkin masalah birokrasi menghambat proyek ini.

”Saat ini bahkan sudah mulai persiapan pembangunan, seperti pembebasan lahan di Fatmawati,” katanya. (NEL/ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau