Bencana alam

Gempa 7,3 Skala Richter Guncang Jepang

Kompas.com - 10/03/2011, 04:50 WIB

TOKYO, RABU - Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di lepas pantai Jepang mengguncang Tokyo, Jepang. Kompleks permukiman dan gedung perkantoran di episentrum gempa bergoyang, Rabu (9/3).

Menurut otoritas meteorologi setempat, pusat gempa terjadi di kedalaman 10 kilometer di dasar Samudra Pasifik dengan jarak sekitar 160 kilometer di lepas pantai timur laut Tokyo.

Disebutkan pula gempa tersebut memicu kenaikan gelombang laut setinggi 60 sentimeter, tetapi cukup menyapu kawasan pantai Pasifik.

Pihak Kepolisian Tokyo melaporkan, gempa tidak menyebabkan korban jiwa dan juga tidak menimbulkan kerusakan berarti, baik pada bangunan gedung perkantoran dan permukiman di Tokyo maupun sejumlah fasilitas atau bangunan vital lain.

Fasilitas vital seperti jalur kereta api supercepat Shinkansen dan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir juga kembali beroperasi dengan baik.

Peringatan tentang kemungkinan terjadi tsunami dikeluarkan beberapa menit setelah gempa terjadi. Namun, peringatan bahaya tsunami dicabut kembali tiga jam kemudian.

Sistem peringatan dini bencana gempa di Tokyo, kota berpopulasi 30 juta orang, sudah berjalan dengan baik. Semua stasiun televisi di Jepang langsung menghentikan aktivitas siaran untuk menunggu pengumuman resmi terkait gempa dan potensi tsunami yang mungkin terjadi. Stasiun televisi juga siap mengumumkan langkah antisipasi lain jika diperlukan.

Tetap dihantui ketakutan

Walau kali ini tanpa kerusakan berarti, masyarakat Jepang masih dihantui dengan prediksi soal kemungkinan terjadi lagi ”gempa besar”. Gempa tersebut pernah terjadi tahun 1923 di Tokyo atau dikenal dengan istilah Gempa Besar Kanto, yang ketika itu memakan korban jiwa hingga 140.000 orang.

Komite Riset Gempa milik Pemerintah Jepang memperingatkan ada 70 persen kemungkinan gempa besar berkekuatan 8 skala Richter bakal terjadi kembali dalam 30 tahun ke depan di tempat yang sama di Tokyo.

Jepang berada di kawasan Lingkar Api Pasifik dan Tokyo berada di lokasi rawan gempa paling berbahaya. Hal itu lantaran Tokyo berada di atas pertemuan tiga lempeng benua, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Laut Filipina.

Ketiga lempeng benua itu sama-sama bergerak dan menggeser satu sama lain. Kondisi itu memicu tekanan seismik mahabesar. Dalam sejarahnya, gempa besar ”Ansei Edo” juga pernah meluluhlantakkan Tokyo pada tahun 1855.

Bencana gempa besar juga pernah terjadi dan menghantam wilayah Kobe pada tahun 1995 dengan korban tewas mencapai 6.400 orang.

Gempa kecil hampir terjadi setiap hari di Jepang. Masyarakat Jepang telah terbiasa dan selalu mempersiapkan diri, termasuk secara berkala mengikuti berbagai latihan, untuk menghadapi kondisi darurat.

Latihan-latihan seperti itu biasa dilakukan di setiap sekolah dan gedung perkantoran. Tidak hanya itu, setiap keluarga juga diperintahkan mempersiapkan perlengkapan untuk keselamatan di rumah masing-masing.

Sistem peringatan bahaya gempa secara otomatis langsung dikirim ke setiap orang melalui telepon seluler mereka. Selain menyiapkan gedung-gedung sekolah sebagai lokasi darurat penampungan korban gempa, berbagai fasilitas vital seperti jalur dan sistem KA Shinkansen atau fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir secara otomatis akan berhenti beroperasi begitu gempa terjadi.

Bangunan dan gedung di Jepang dirancang sedemikian rupa sehingga relatif tahan gempa. Semua gedung dibangun dengan menggunakan besi beton dan kerangka baja walau memakan biaya sangat mahal. (AFP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau