JAKARTA, KOMPAS.com — Peristiwa penembakan waria, Kamis (10/1/2011) dini hari di Taman Lawang, Menteng, Jakarta Pusat, menunjukkan komunitas waria sangat rentan menerima kekerasan dari pihak lain. Kejadian yang menewaskan Faisal Harahap alias Shakira (28) serta melukai 2 orang lainnya, diduga bisa terjadi pada komunitas lainnya.
"Hal pertama dari kejadian kemarin adalah tentang kekerasan. Apa yang menimpa Shakira bisa terjadi ke masyarakat lainnya," kata aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Kekerasan (Kontras), Sinung Karto, saat berbicara dalam siaran pers di Kantor YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (11/3/2011).
Selain unsur kekerasan, Kontras mencermati adanya pemakaian senjata api di luar kewenangannya. Kontras meminta polisi atau pihak yang selama ini diberi kewenangan memegang senjata agar diperiksa secara internal.
Sinung menambahkan, dibutuhkan evaluasi rutin dan perizinan ketat dalam pemberian senjata kepada sipil untuk kemudian dipegang dan digunakan. "Masa izin penggunaan senjata semestinya diperpendek jadi 3 bulan. Ini untuk tes psikologi dan tes lainnya sehingga pemakaian senjata bisa dikontrol," jelas dia.
Sementara Direktur Program LBH Masyarakat Ricky Gunawan mengatakan, penggunaan senjata api di tengah masyarakat perlu ditanggapi sangat serius. Apalagi, senjata api tidak mudah didapat.
"Kalau hanya serangan terhadap waria, itu sudah masuk kejahatan dengan kebencian terhadap waria. Bisa jadi itu karena termotivasi stigma dan diskriminasi dengan ideologi tertentu," ungkap Ricky.
Pada kesempatan yang sama, tim pendamping korban penembakan waria akan menyampaikan hasil kerjanya pekan depan. "Senin (14/3/2011) nanti kami akan menampilkan saksi kunci Agus alias Venus di hadapan wartawan. Mengapa Venus? Karena dialah yang menerima kalimat ancaman dari pelaku penembakan," kata Alvon Kurnia dari YLBHI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang