Ekonomi Jepang Surut akibat Bencana

Kompas.com - 14/03/2011, 03:19 WIB

TOKYO, MINGGU - Pemerintah Jepang membenarkan bahwa bencana alam gempa bumi dengan kekuatan 8,9 skala Richter, yang diikuti tsunami, Jumat (11/3) lalu, akan berdampak sangat besar dan signifikan terhadap perekonomian negeri tersebut.

Hal itu terutama disebabkan kehancuran yang terjadi di sejumlah wilayah di sepanjang pantai timur laut Jepang, termasuk kerusakan pada beberapa reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), yang meledak sehingga memicu kondisi darurat nuklir di sana. Pemerintah Jepang, Minggu (13/3), menggelar rapat untuk mengetahui secara pasti berapa besar dan signifikan dampak ekonomi yang ditimbulkan bencana tersebut.

”Kami meyakini bencana kemarin memang menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap aktivitas ekonomi negara kami,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yukio Edano.

Namun, sejumlah kalangan memperkirakan butuh waktu berminggu-minggu buat Pemerintah Jepang untuk benar-benar mengetahui secara pasti dampak akibat kerusakan yang ditimbulkan, baik bagi negeri itu maupun perekonomiannya.

Apalagi, hingga saat ini kerusakan serta korban jiwa yang diketahui masih terus bertambah setiap saat. Sebelumnya, pemerintah mengumumkan jumlah korban tewas secara nasional akibat bencana tadi mencapai 1.000 orang. Namun, kepala polisi di wilayah Prefektur Miyagi, kawasan yang terkena dampak terparah bencana, memperkirakan jumlah korban tewas di daerahnya itu saja bisa mencapai lebih dari 10.000 orang. Angka tersebut dikhawatirkan masih akan terus bertambah.

Ditutup

Gempa bumi dan tsunami akhir pekan lalu telah memaksa sejumlah kawasan pelabuhan dan bandar udara penting ditutup. Walau sejumlah bandara telah dibuka kembali, tetap saja infrastruktur transportasi di wilayah timur laut lumpuh.

Sejumlah perusahaan besar di Jepang juga menyatakan memberhentikan sementara waktu kegiatan produksi mereka. Perusahaan itu antara lain produsen otomotif Toyota, Nissan, dan Honda, yang menunda total aktivitas mereka setidaknya sampai hari Senin ini.

Namun, industri otomotif lain, seperti Mitsubishi, menyatakan bakal menghentikan produksi tiga pabrik domestik mereka selama dua hari mulai Senin. Selain itu, Suzuki Motors bahkan menghentikan operasi semua pabrik mereka mulai hari ini.

Kebijakan menghentikan operasi semua pabriknya juga dilakukan perusahaan lain, seperti industri elektronik besar Jepang, Sony. Dilaporkan, enam fasilitas pabrik mereka di kawasan terkena dampak langsung terpaksa tidak berproduksi, salah satunya karena terendam banjir.

Sementara itu, produsen industri berat Fuji memastikan telah menutup delapan dari 10 pabriknya, termasuk lima pabrik kendaraan beserta suku cadang terkait untuk merek kendaraan Subaru, yang ada di Prefektur Gunma, sebelah utara Tokyo. Selain itu, mereka juga menghentikan operasi produksi pesawat terbang dan pabrik peralatan sumber daya di Tochigi.

Selain industri manufaktur dan sumber daya listrik, bencana alam juga melumpuhkan industri minyak Jepang menyusul kerusakan dan kebakaran parah yang terjadi pada sejumlah kilang minyak di sana. Perusahaan Cosmo Oil menyatakan, kebakaran terjadi di dekat tangki LPG di kilang Chiba sejak awal gempa terjadi dan sampai hari ini belum juga bisa dipadamkan.

Adapun perusahaan Maruzen Petrochemical menyatakan menutup dua pabriknya. Kedua pabrik itu memiliki kapasitas produksi yang besar, yang memiliki kapasitas produksi ethylene masing-masing sebesar 480.000 ton dan 690.000 ton per tahun. Langkah serupa dilakukan Kyokuto Petroleum, yang telah menutup kilangnya di Chiba, yang memiliki kapasitas produksi sebesar 175.000 barrel minyak per hari.

”Penutupan sementara semua pabrik dan kilang minyak juga sejumlah pembangkit listrik dipastikan sangat berdampak ke seluruh negeri. Hasil ekonomi Jepang bakal menyusut setidaknya di kuartal pertama tahun ini,” ujar Wolfgang Leim dari German Commerzbank.

Krisis listrik

Jepang juga mengkhawatirkan terjadinya krisis listrik menyusul kerusakan pada reaktor pembangkit listrik. Kerusakan terjadi di reaktor pembangkit di Fukushima Nomor 1, 250 kilometer timur laut Tokyo, yang dilaporkan bocor dan meledak Sabtu kemarin.

Padahal, PLTN di Negeri Sakura itu sangat diandalkan, mengingat sekitar sepertiga industri di Jepang sangat mengandalkan listrik yang bersumber dari PLTN.

Bencana alam memaksa sejumlah reaktor nuklir ditutup, yang oleh Pemerintah Jepang disebut memicu kelangkaan pasokan listrik. Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Banri Kaieda mengatakan, kawasan timur Jepang menderita dampak terparah akibat kondisi itu.

Dari perkiraan kasar, sedikitnya 11 dari total 50 reaktor nuklir di Jepang bakal ditutup dan berhenti beroperasi. Hal itu mengingat kebanyakan dari 11 reaktor itu berada di kawasan yang terkena dampak langsung bencana alam.

Bank Sentral Jepang memastikan akan berupaya ”habis-habisan” menjalankan kewajibannya demi menjaga likuiditas pasar sekaligus memastikan stabilitas pasar finansial pasca-gempa bumi dan tsunami yang menghantam negerinya.

Mereka mengumumkan bakal mempercepat jadwal rapat dewan kebijakan mereka, dari yang biasanya digelar selama dua hari setiap Senin dan Selasa menjadi hanya satu hari. Dengan begitu dipastikan Senin mereka sudah membuat keputusan yang dapat segera diimplementasikan.

(REUTERS/AP/DWA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau