Kebakaran

Sudah Cepat Atasi Gas Bocor, Naas Masih Menimpa

Kompas.com - 14/03/2011, 04:16 WIB

Agus Sukirno (35) berusaha tampak tegar, tetapi akhirnya bulir air mata itu jatuh juga. Suaranya bergetar ketika menerima uluran tangan tetangga-tetangga dan kerabatnya yang mendatanginya di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati di Jakarta Selatan. ”Musibah, ini musibah,” kata Agus, Minggu (13/3).

Karyawan swasta ini Minggu pagi kemarin berangkat bekerja seperti biasa. Istrinya, Roaenah (28), juga masih bekerja di pasar di dalam Kompleks Perumahan Departemen Pekerjaan Umum, Pasar Jumat, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Roaenah sengaja membawa anak terkecil mereka ke pasar, sementara anak tertua mereka, Giri Purwatmoko (9), ditinggal di rumah.

Sekitar pukul 09.00, Giri tiba-tiba menyusul ibunya ke pasar dan memberitahukan ada bau gas menyengat di rumah mereka, rumah petak kontrakan bernomor 32, yang telah dihuni keluarga ini sejak tiga tahun lalu.

”Istri saya cepat-cepat pulang sambil membawa tukang gas Ghofar, yang kenal di pasar,” kata Agus.

Sesampainya di rumah berlantai dua berukuran sekitar 3 meter x 10 meter itu, Roaenah meminta Giri dan teman-temannya yang tengah main play station keluar rumah. Ia sendiri memilih menunggu dekat pagar rumah.

”Saya sempat meminta tukang gas membawa tabung yang ada di dapur ke luar rumah saja. Tetapi tukang gasnya malah meminta saya menunggu saja dulu,” kata Roaenah yang terbaring di salah satu tempat tidur di IGD RS Fatmawati.

Tidak sampai lima menit, Ghofar berada di dapur, tiba-tiba terjadi ledakan. Api seperti tersembur cepat ke luar rumah, menjebol dinding depan, atap, dan dinding belakang. Dinding yang berbatasan langsung dengan tetangga samping pun jebol, meninggalkan lubang-lubang menganga.

Puja Akbar Harahap (11), teman Giri, terpental dan menabrak mobil yang terparkir di depan rumah keluarga Agus. Sementara adiknya, Faturrahman Harahap (7), juga turut terpental hingga jatuh beberapa meter dari sumber ledakan.

”Kami lagi nunggu untuk main PS lagi. Tiba-tiba meledak. Saya sama teman-teman pada kelempar semua,” kata Puja yang kulitnya menghitam dan sebagian terkelupas.

Puja dan adiknya menderita luka bakar ringan di sekujur tubuhnya. Minggu kemarin, Puja dirawat oleh ibunya, Arpaiyah (37), di ruang tamu rumahnya.

”Puja dan Fatur boleh rawat jalan saja. Ini masih agak kaget dan kulitnya masih perih. Jadinya tidur-tiduran dulu saja,” kata Arpaiyah.

Roaenah dan Giri sendiri harus dirawat di RS Fatmawati karena sebagian wajah, kedua tangan, dan beberapa bagian tubuh lainnya terbakar. Tangan Roaenah dan Giri, misalnya, harus ditutup perban.

Sementara dua teman Giri lainnya, yaitu Fajar Dwi (9) dan Fajar Ikhsan (9), juga harus dirawat inap karena menderita luka bakar cukup serius. Yang paling parah adalah Ghofar. Ghofar harus dirawat di ruang perawatan khusus (ICU).

”Yang dirawat di sini enam orang, satu orang terluka bakar parah dirawat di ICU, satu orang lagi masih anak-anak kami rujuk ke RSPP, dan tiga lainnya yang terdiri dari dua anak-anak dan satu dewasa dirawat di sini. Sementara satu orang lagi tidak mengalami luka bakar, tetapi tertimpa benda keras,” kata Duty Manager RS Fatmawati Kemal Imran.

Keterangan Ketua RW 10 Bangun Waspodo, Sumirah (70), biasa disebut Mbah Sumirah, yang tinggal di rumah nomor 30, tertimpa tembok yang jebol akibat ledakan gas. Hingga Minggu sore, Sumirah masih dirawat di IGD RS Fatmawati.

Keluarga Hutajulu yang tinggal berbatasan dengan rumah Agus juga sangat terpukul.

”Keluarga besar kami sedang berkumpul untuk acara pemakaman. Tiba-tiba sebelum pukul 10.00 terdengar dentuman, saya pikir gempa. Tidak tahunya rumah sebelah terbakar,” kata Ira (39) yang hendak mengikuti acara pemakaman ibunya, Naiborhu Hutajulu.

Keluarga ini pun langsung mengungsikan jenazah ibu mereka dan pelayat ke keluarga terdekat.

Selain rumah keluarga Hutajulu dan Agus, rumah lain yang terbakar adalah rumah yang dihuni keluarga Suwarno, Ahmad Jauhari, Husni, Ismail, Tukimin, Sukijo, Siswadi, Muhammad Nur, Ma’mun, Prapto, dan Harahap. Total ada 12 rumah yang turut terbakar dalam peristiwa ini.

”Api menyambar enam rumah yang berada satu deretan dengan rumah Agus, dan enam rumah lainnya yang beradu ’pantat’ di belakangnya,” tambah Bangun.

Ketua Seksi Sektor VII Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan Madanih mengatakan, meskipun pasukannya tiba beberapa menit setelah ledakan dan sudah mengerahkan 12 mobil pemadam, sulit mencegah meluasnya kebakaran.

”Rumah-rumah di sini tidak banyak ventilasinya. Di dalam ruang tertutup ini gas meledak menyembur ke segala arah dengan kekuatan besar,” katanya.

Agus pun tak habis pikir. ”Istri saya sudah berupaya cepat mengantisipasi ketika ada kerusakan tabung gas. Saya juga tidak bermaksud menyalahkan tukang gas. Saya hanya bisa bilang, kejadian ini bukan salah istri saya,” kata Agus.

Sementara itu, sehari sebelumnya, Sabtu (12/3), ruang karaoke, dapur, serta restoran di Pondok Nirmala, Kelurahan Kedungbadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, juga ludes dilalap api. Tidak ada korban jiwa, tetapi nilai kerugian ditaksir Rp 1 miliar. Pemilik Pondok Nirmala, James (61), memperkirakan api berasal dari dapur. Kebakaran terjadi sekitar pukul 13.00 dan api baru dapat dikendalikan sekitar dua jam kemudian. Kepala Polsek Tanah Sareal Komisaris Indrat masih menyelidiki penyebab kebakaran itu.

Belajar dari pengalaman

Tips menggunakan kompor gas secara aman tampaknya memang perlu terus diingatkan kepada semua warga kota yang padat penduduk ini. Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ada sejumlah tips yang perlu diingat. Pada saat membeli gas, misalnya, pilihlah tabung yang kondisinya baik dan memerhatikan tanggal kedaluwarsanya. Perlu juga memeriksa selang tabung gas minimal sebulan sekali.

Sebaiknya juga menggunakan regulator yang ada meterannya agar memudahkan mengetahui berapa banyak gas tersisa. Ketika memasang regulator, perhatikan juga apakah ada suara mendesis atau tercium bau gas. Jika ya, segera lepaskan regulator dan cek cincin karet pada tutup gas. Akan lebih baik jika tabung gas juga langsung dibawa ke luar rumah ke tempat lapang dan jauhkan dari sumber api, seperti pemantik api dan sakelar listrik.

Minta juga beberapa cincin karet sekaligus kepada penjual gas untuk stok. Terkadang ada tabung gas yang tidak disertai cincin karet atau ukurannya tidak sesuai sehingga gas mudah bocor.

Letakkan tabung gas juga pada posisi berdiri tegak agar regulator dapat mengunci dengan baik. (NELI TRIANA/GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau