Tumbuhkan Cinta Sungai

Kompas.com - 14/03/2011, 04:17 WIB

Jakarta, Kompas - Sejumlah kegiatan akan digelar di sungai sepanjang tahun 2011, termasuk Bersih Sungai Ciliwung, Minggu (13/3). Aneka kegiatan ini diharapkan mendekatkan masyarakat kepada sungai sehingga tumbuh kecintaan yang berujung menjaga kebersihan sungai.

Psikolog Ninik L Karim mengingatkan, upaya menumbuhkan kecintaan kepada sungai jauh lebih mengena ketimbang memberikan sanksi kepada orang yang masih membuang sampah ke sungai.

”Salah satu langkah untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada sungai adalah membuat pelbagai aktivitas di sungai sehingga masyarakat terbiasa dengan sungai. Dari interaksi di sungai inilah akan timbul kecintaan kepada sungai,” papar Ninik di sela-sela acara bersih sungai yang digagas komunitas Jakarta Glue.

Selain bersih sungai, festival sungai dan perayaan pergantian tahun juga bakal digelar di sungai Jakarta. Sejumlah peringatan hari besar keagamaan sepanjang tahun ini juga dirancang di sungai.

”Aneka kegiatan ini diharapkan juga membuat warga bersedia menghadapkan pintu rumah ke arah sungai, bukan membelakanginya,” ucap Ninik.

Banyak tercemar

Upaya melibatkan masyarakat untuk membersihkan sungai sangat dibutuhkan karena kondisi sungai yang melintas di Jakarta umumnya sudah tercemar.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010 menguji sampel air sungai, termasuk Ciliwung.

Dari delapan titik sampel Ciliwung yang diambil pada Mei, tujuh di antaranya menunjukkan bahwa air tercemar berat dan satu tercemar sedang.

Sungai yang tercemar berat umumnya tidak bisa menjadi tempat hidup ikan, sementara yang tercemar sedang hanya bisa menjadi tempat hidup sebagian jenis ikan, seperti ikan sapu-sapu. Selain itu, air sungai berwarna kehitaman dan berbau.

Saat acara Bersih Sungai Ciliwung, yang mengalir di depan Pasar Baru, tampak mengapung aneka jenis sampah. Selain sampah plastik, daun dan popok bayi juga banyak yang hanyut di sungai.

Menurut Kepala Subbidang Edukasi Lingkungan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta Rahmat Bayangkara, sepuluh tempat pembuangan sampah sementara di pinggir Ciliwung sudah ditutup sepanjang 2009-2010. Namun, masih banyak tempat pembuangan sampah sementara yang ada di sepanjang sungai.

Rahmat mengakui penanganan kebersihan sungai membutuhkan kerja keras banyak pihak. Apalagi, Ciliwung mengalir lewat 76 kelurahan di DKI Jakarta. Selain Ciliwung, ada 12 sungai lain yang mengalir melewati Jakarta.

Tempat piknik murah

Budhi Soesilo, ahli sungai sekaligus penggiat Jakarta Glue, mengatakan, saat ini orang masih enggan pergi ke sungai karena sungai kotor dan bau, padahal sungai yang baik mempunyai pelbagai fungsi.

”Selain berfungsi sebagai penyedia air, sungai juga punya fungsi sosial, antara lain untuk tempat piknik keluarga. Piknik tidak perlu mahal, tapi cukup pergi ke sungai dan anak bisa berenang di sungai. Tapi karena kotor dan bau, sungai tidak bisa berfungsi seperti idealnya,” kata Budhi dalam sambutannya.

Sungai di Jakarta juga belum menjadi tempat tujuan wisata. Padahal, di sejumlah negara, sungai menjadi tujuan wisatawan berperahu.

Menurut Agustin Priyanto, dari Sekretariat Jakarta Glue, penanganan sungai harus dikerjakan dari hulu sungai di Bogor hingga ke hilir di Ancol. Pemetaan masalah juga perlu dilakukan agar bisa diketahui kondisi sekaligus langkah yang bisa diambil untuk menangani masalah di tiap-tiap bagian.

Sejauh ini pemetaan baru dilakukan dua kali. Diketahui, sekitar 64 persen limbah yang dibuang ke sungai merupakan limbah rumah tangga. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau