FOTO: Kerusakan Dahsyat Tsunami Jepang

Kompas.com - 14/03/2011, 07:28 WIB

TOKYO, KOMPAS.com — Empat gerbong kereta terbalik dan tergeletak pada sisi sudut miring yang rasanya mustahil. Sebuah kapal pesiar terbaring miring. Sementara, sebuah kapal lainnya terletak bagai mainan jungkat-jungkit yang hampir jatuh di tepian dermaga.

Semua alat transportasi tersebut terlempar dari jalurnya akibat kekuatan menghancurkan tsunami, dan difoto dari atas bagaikan mainan yang terserak oleh seorang anak yang telah bosan bermain. Di tempat lain, korban yang ketakutan menunggu untuk diselamatkan di atas sebuah bangunan di Kesennuma, timur laut Jepang, dengan menggunakan tanda SOS raksasa dari seprei.

Sementara penduduk di Rikuzentakata dapat dilihat pada atap sebuah blok apartemen yang seakan telah melewati sebuah penghancuran. Ini adalah adegan-adegan apokaliptik yang ditangkap dari langit di atas timur laut Jepang,  Minggu (13/3/2011).

Empat buah kereta yang membawa ratusan, mungkin ribuan penumpang, hilang setelah gempa. Setidaknya satu adalah kereta 'peluru' berkecepatan tinggi. Operator kereta kehilangan kontak dengan mereka ketika mereka beroperasi melalui garis pantai, Jumat lalu. Perusahaan Kereta Api Jepang Timur mengakui mereka tidak mengetahui berapa jumlah penumpang yang diangkut.

Kesennuma, dekat lepas pantai di sekitar episentrum gempa berkekuatan 9,0, terbakar hebat dan dikabarkan api mulai menyebar di luar kendali. Foto udara kota itu, yang menjadi tempat tinggal bagi 74.000 jiwa, menampakkan seluruh area terkungkung api. Para saksi mengatakan bahwa api disebabkan oleh tsunami yang menerjang mobil-mobil sehingga terjadi kebocoran bahan bakar. Mereka menyebutnya sebagai kota api dan air, apa yang tidak dilahap api ditenggelamkan oleh air.

Pejabat pemerintah mengatakan bahwa jumlah yang tewas akan melambung karena ribuan orang masih belum terhitung. Sekitar 215.000 pengungsi telah diamankan di tempat penampungan darurat.

Nasib warga di flat-flat yang runtuh di Rikuzentakata, juga di pantai timur laut, tidak jelas hingga Sabtu malam. Cuplikan siaran di TV Jepang menunjukkan bahwa menit-menit sebelum tsunami melanda, kota itu tampak sebagai sebuah kota khas Jepang yang berada pada jam-jam sibuk, dengan ratusan mobil di jalan. Kemudian, saat badai tsunami menyapu, seluruh kawasan menyatu jadi laut, menyebabkan banjir yang membuat hanya sedikit orang yang mampu bertahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau