Ledakan kedua pada reaktor Unit 3 PLTN Fukushima Daiichi terjadi Senin sekitar pukul 11.01. Televisi merilis gambar asap pekat membubung ke udara dan mengatakan telah terjadi ledakan di Unit 3 dan 11 pekerja terluka. Ledakan pada Unit 1 terjadi Sabtu. PLTN dioperasikan Tokyo Electric Power Co (Tepco).
Beberapa saat setelah ledakan kedua, Tepco mengatakan, reaktor Unit 2 pun terganggu. Takako Kitajima, pejabat Tepco, mengatakan, petugas memompakan air laut untuk mendinginkan reaktor Unit 2. Langkah itu oleh ahli nuklir AS justru dinilai sebagai tindakan ceroboh dan panik karena justru dapat memicu ledakan baru di Unit 2.
Ledakan pada Sabtu lalu melukai tujuh pekerja. Ledakan yang merusak pengungkung reaktor Unit 1 itu memicu kepanikan hebat di kalangan warga. Sekitar 180.000 orang yang berada di radius 20 km dari PLTN pun meminta dievakuasi.
Dalam jumpa pers Badan Keselamatan Nuklir dan Industri Jepang (NISA) yang diikuti wartawan Kompas
”Ledakan karena konsentrasi hidrogen menjebol bangunan beton yang melindungi reaktor dengan proses sama seperti yang terjadi pada Unit I. Lapisan pelindung reaktor masih berfungsi,” demikian pernyataan NISA.
Warga bertambah panik terutama akibat ledakan Unit 1 menyebabkan 22 orang terkontaminasi radiasi dan 190 orang terpapar. Opini publik Jepang, bencana nuklir terburuk di Chernobyl, April 1986, mungkin bisa terulang di Fukushima. Hal itu menimbulkan kepanikan baru warga korban tsunami.
Khawatir akan terjadi hal yang lebih buruk, sejumlah negara di Eropa meminta warganya mempertimbangkan untuk meninggalkan Jepang. Puluhan warga asing pun mulai meninggalkan Jepang, Senin, tidak lama setelah ledakan di Unit 3.
Beragam reaksi internasional menanggapi ledakan kedua, yang juga disertai hilangnya kemampuan pendingin di Unit 2. Hal itu mengindikasikan bahaya nuklir bisa semakin nyata mengancam keselamatan. AS telah menarik kapal induk USS Ronald Reagan dari lepas pantai Jepang karena takut terpapar reaksi nuklir.
Kapal induk yang sedang berlabuh di 160 kilometer lepas pantai Jepang itu mendeteksi adanya radiasi dari PLTN Fukushima. Petugas AS mengatakan, paparannya mungkin setara dengan sebulan paparan radiasi alam. Karena itu, kapal ditarik lebih jauh keluar.
Pesawat AS yang sedang terbang mengangkut bahan bantuan ke daerah bencana Jepang pun ditarik. Tidak lama setelah ledakan, Armada VII AS menarik kapal dan pesawatnya menjauh.
Pemerintah Perancis bertindak lebih tegas lagi. Warganya diimbau segera keluar dari Jepang dalam beberapa hari ke depan jika mereka tidak punya alasan khusus untuk bertahan. Perancis juga memperingatkan, jika reaktor nuklir meledak, debu radioaktif bisa mencapai Tokyo dalam beberapa jam.
Austria juga memperingatkan warganya untuk meninggalkan Jepang. ”Sepertiga staf kami sudah pergi dari Tokyo,” kata pejabat Uni Eropa di Jepang, Stefan Huber. Sejumlah eksekutif perusahaan Jerman, seperti Bosch, Daimler, dan BMW, mengevakuasi keluarganya.
NISA mengatakan, tidak ada kemungkinan krisis nuklir mirip Chernobyl di PLTN Fukushima menyusul ledakan hidrogen tersebut. Menteri Strategi Nasional Jepang Koichiro Genba kepada Jiji Press mengatakan, Jepang tak akan alami kasus seperti Chernobyl.
Sekretaris Kabinet Yukio Edano mengatakan telah menerima laporan ledakan kedua itu, tetapi itu ledakan hidrogen dan tidak merusak reaktornya. Gangguan di PLTN masih dalam batas aman, tak berbahaya.
Pihak NISA menegaskan, lapisan pelindung reaktor masih utuh, tidak ada bahaya radiasi, kontaminasi, dan ledakan di dalam reaktor. ”Tidak ada risiko ledakan hidrogen karena tidak ada oksigen di dalam lapisan pelindung. Selama warga mengungsi seperti diperintahkan, tak akan ada efek terhadap kesehatan manusia,” demikian pernyataan NISA.
Tingkat radiasi yang diukur di dekat reaktor, Senin pukul 13.12, sebesar 34,2 microsievert per jam. Sebagai perbandingan, tingkat radiasi pemeriksaan rontgen perut dengan sinar-X di rumah sakit mencapai 600 microsievert. Seseorang yang melakukan perjalanan pergi-pulang naik pesawat dari Jepang ke Pantai Timur AS akan menerima radiasi sebesar 200 microsievert.
Tingkat radiasi itu jauh di bawah radiasi yang terukur di reaktor Unit 1 yang meledak Sabtu pekan lalu. Pengukuran tingkat radiasi di pagar bangunan reaktor Senin dini hari menunjukkan angka 680 microsievert per jam.
Menurut Perdana Menteri Jepang Naoto Kan, situasi reaktor nuklir yang terganggu gempa masih mengkhawatirkan. Pihak berwenang sudah melakukan upaya mencegah kerusakan meluas. Pejabat terkait mengonfirmasi, tiga reaktor nuklir di utara Tokyo overheating, menimbulkan kekhawatiran terjadi radiasi.
Jepang menghadapi tiga bencana sekaligus: gempa, tsunami, dan kini ancaman nuklir.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin, menyatakan, pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati mendalam kepada pemerintah dan rakyat Jepang. Pemerintah berupaya memberikan bantuan kepada Jepang. Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menyelamatkan warga negara Indonesia (WNI) yang turut menjadi korban.
”Kami memahami apa yang dirasakan bangsa Jepang karena kita juga mengalami musibah yang sama tahun 2004. Komunikasi dengan Jepang dalam tiga hari terakhir belum mendapatkan penjelasan tentang apa yang bisa kita bantu, tapi diputuskan memberangkatkan satu kontingen untuk memberikan bantuan,” kata Presiden.
Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah meminta pemerintah memastikan keberadaan 75.000 buruh migran Indonesia di Jepang. Selama ini KBRI hanya menyebut ada 25.000-an WNI di Jepang.