Daihatsu Tetap Bangun Pabrik

Kompas.com - 17/03/2011, 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Bencana tsunami Jepang pekan lalu tidak memengaruhi komitmen Daihatsu Motor Company Ltd Jepang berinvestasi di Indonesia. Perusahaan otomotif ini tetap membangun pabrik baru di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang Timur, Jawa Barat.

Pabrik baru berkapasitas produksi 100.000 unit mobil per tahun, yang menelan investasi sekitar 400 juta dollar AS ini, diperkirakan mulai dibangun pada pertengahan tahun ini.

Presiden Direktur Daihatsu Company Ltd Koichi Ina dan Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor Indonesia Sudirman MR mengatakan hal itu saat bertemu dengan Wakil Presiden Boediono di Istana Wakil Presiden, Rabu (16/3).

”Sejauh ini masih sesuai dengan rencana, sesuai jadwal,” kata Sudirman seusai pertemuan.

Menurut Sudirman, pembangunan pabrik baru itu akan menambah kapasitas produksi Daihatsu Indonesia menjadi 430.000 unit mobil per tahun. Sejauh ini satu pabrik Daihatsu yang berada di Sunter memiliki kapasitas produksi 330.000 unit mobil per tahun. Kapasitas produksi itu merupakan yang terbesar di luar basis mereka di Jepang.

Sudirman menambahkan, 15 persen dari produksi mobil Daihatsu di Indonesia telah merambah pangsa pasar mancanegara. Komposisi yang sama akan diterapkan saat pabrik baru di Karawang itu dioperasikan.

Juru Bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat, menyatakan, Wakil Presiden dalam pertemuan itu kembali menyatakan dukacita mendalam atas bencana tsunami yang melanda Jepang. Wapres yakin, Jepang sebagai negara besar yang memiliki kepribadian yang kuat dapat mengatasi bencana itu dan bangkit lagi.

Terkait rencana ekspansi usaha itu, Wapres memberikan apresiasi dan dukungan penuh. Salah satu sisi positif yang diapresiasi Wapres dari rencana pembangunan pabrik baru itu adalah penyerapan 1.400 tenaga kerja baru.

”Wapres minta pihak Daihatsu juga mengembangkan penelitian dan pengembangan di dalam negeri, terutama dalam memenuhi kebutuhan mobil yang efisien dan ramah lingkungan di Indonesia. Di sisi lain, Wapres juga menyatakan, pemerintah terus berupaya memenuhi permintaan dunia usaha akan pengembangan infrastruktur yang lebih baik,” kata Yopie.

Koichi Ina mengapresiasi dan menyambut baik dukungan Pemerintah Indonesia dalam pengembangan usaha tersebut. Ia yakin, kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak akan terus meningkat.

Terkait dengan bencana tsunami yang melanda Jepang beberapa waktu lalu, Koichi Ina menyatakan, industri otomotif di sana tengah melakukan investigasi mengenai dampak bencana itu, khususnya yang berada di wilayah utara.

Pasar Vietnam

Sementara itu, PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) mengekspor kendaraan jadi (CBU) Hino Dutro ke Vietnam. Ekspor perdana ini dilakukan setelah prinsipal otomotif ini mampu mencapai jumlah produksi sesuai perizinan pemerintah.

Peresmian ekspor perdana yang direncanakan mencapai 200 unit itu dilakukan, antara lain, oleh Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun, Presiden Direktur HMMI Kenji Ohara, Komisaris Utama PT Indomobil Sukses International Tbk Subronto Laras, Direktur Utama PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Gunadi Sindhuwinata di pabrik HMMI di Purwakarta, Jawa Barat, kemarin.

Presiden Direktur HMMI Kenji Ohara mengatakan, hingga saat ini pemanfaatan kapasitas produksi telah mencapai lebih dari 35.000 unit per tahun. Hal ini menunjukkan, investasi telah dimanfaatkan sepenuhnya. Dengan demikian, peningkatan investasi di masa depan semakin terbuka. Selama ini HMMI telah mengekspor dalam bentuk rakitan ke Pakistan, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. (WHY/OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau