Dwi Bayu Radius
Kebakaran hutan dan lahan adalah bencana rutin tahunan di Kalimantan, utamanya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Lapisan gambut di bawah permukaan tanah sering menyulitkan pemadaman. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan luasan yang terbakar, salah satunya dengan membentuk Tim Serbu Api.
Hari-hari belakangan dan mendatang ini menjadi masa yang mencemaskan bagi para anggota Tim Serbu Api (TSA) Kalimantan Tengah (Kalteng). Hujan semakin jarang turun, sehingga mereka harus lebih siaga menghadapi kemungkinan kebakaran hutan dan lahan.
”Sekarang dalam sepekan hujan hanya turun dua kali. Sebelumnya, bisa setiap hari,” kata anggota TSA, Fransiscus Agus (36).
Di tengah hutan Kalampangan, Palangkaraya, Kalteng, akhir Februari lalu, ia sedang santai berkeliling sambil memancing. Meski begitu, ia tetap siaga. Bila hawa sudah sangat kering, para anggota TSA harus bersiap turun ke ”medan pertempuran”. Anggota-anggota TSA secara swadaya akan berpatroli hingga berhari-hari, menjaga hutan dari bahaya kebakaran.
TSA dibentuk tahun 1997, ketika anomali cuaca mengganas akibat El-Nino. Api sering tak berhasil dipadamkan karena keterbatasan tenaga manusia dan sumber air yang jauh. Padahal, hamparan gambut di Kalteng sangat mudah terbakar di musim kemarau.
”Bila dibiarkan, persoalan tak akan selesai. Maka, saya coba kumpulkan teman-teman yang bersedia menjaga hutan,” ujar Suwido Limin, penggagas TSA. Dia pun memberikan pelatihan.
Kini, TSA di Kalteng tersebar di Kalampangan, Sabangau, Penda Katapi, Lahei, Tangkiling, dan Bawan dengan cakupan lahan lebih dari 90.000 hektar.
Prosedur kerja TSA, anggota berpatroli dengan dilengkapi handy talkie. Bila menemukan asap atau api, mereka memanggil rekannya. Selanjutnya, mereka memeriksa lahan, dan jika melihat kebakaran akan memadamkannya. Setiap tim patroli terdiri atas empat orang.
Anggota TSA punya cara unik untuk memadamkan api. Mereka akan melempar ”bom air” dalam plastik yang disebut bomtik ke arah api. Jangan bayangkan bomtik itu seperti peledak yang biasa digunakan para teroris atau pekerja tambang. Bom andalan TSA hanya berupa plastik berisi air lebih kurang satu liter. Setiap anggota membawa keranjang berisi sekitar 20 bomtik.
”Sengaja saya bikin yang gampang dioperasikan. Anak-anak pun bisa menggunakannya. Sederhana tapi efektif. Tinggal dilempar, jangkauannya bisa sampai 15 meter,” ujar Suwido.
Cara ini dia nilai sederhana tetapi lumayan efektif. Sebab, pemadaman menggunakan helikopter yang sangat mahal ternyata juga tidak efektif, sementara masyarakat hanya menjadi penonton.
Untuk diketahui, biaya pemadaman dengan helikopter bisa mencapai Rp 40 juta per jam. Setiap kali pemadaman berlangsung, pesawat terbang bisa mengudara enam hingga 10 jam.
”Kalau dana itu digunakan di darat, bisa untuk membuat pagar manusia yang memegang bomtik. Setiap meter ada orang yang menghadang api,” seloroh Suwido.
Jika kebakaran tak bisa ditanggulangi dengan bomtik, petugas TSA cukup memadamkannya dengan mengoper ember secara berantai dari sumber air terdekat seperti kanal, rawa, atau sungai.
Memang, tidak selamanya pemadaman tradisional seperti itu sukses. Terutama kalau sumber air tidak mudah didapat. Juga sering kali api muncul di tempat lain atau tempat yang sudah ditinggalkan, ketika TSA sedang sibuk memadamkan di suatu tempat. Karakter lahan gambut memang begitu: api bisa membesar lagi setelah sebelumnya dikira sudah padam.
Tahun 2009 misalnya, terjadi kebakaran besar di Kalampangan akibat pemburu yang masuk ke hutan dan menyalakan api. ”Saat itu, kebakaran terjadi hampir merata di Kalampangan. Kami kebobolan. Sudah dijaga di pinggir, ternyata pemburu bisa masuk,” kata Suwido. Luas Kalampangan lebih kurang 30.000 hektar. Akhirnya, dengan susah payah kebakaran selama lebih kurang tiga bulan itu bisa dipadamkan.
Koordinator Lapangan TSA Kalteng, Haga Salmin, mengungkapkan, keterbatasan dana adalah masalah utama. Maklum, tim ini murni swadaya masyarakat. Tidak ada bantuan dari anggaran pemerintah.
Bantuan biasanya diperoleh dari sumbangan sejumlah lembaga swadaya masyarakat luar negeri, meski itu juga tak menentu.
Tak heran, kalau menjelang musim kemarau ini TSA belum punya dana. Padahal, jadwal patroli sudah diberlakukan. Setiap anggota TSA harus diberi honor Rp 70.000 per hari.
Karena keterbatasan dana itu, banyak anggota belum beraktivitas. Patroli baru sebatas melintasi hutan sambil memancing. Bila piket sudah berjalan, setiap anggota umumnya berpatroli selama seminggu. Masa tugas anggota TSA bisa lebih lama jika dibutuhkan.
Sebagian besar anggota TSA memang tidak punya pekerjaan tetap. ”Karena itu, selain mencegah kebakaran, TSA juga bermanfaat untuk memberdayakan masyarakat desa. Pemuda yang tak punya pekerjaan bisa dilibatkan dalam TSA,” katanya.
Akan tetapi, Fransiscus mengaku bukan semata honor itu yang membuatnya bergabung dengan TSA. ”Hutan yang terbakar membuat napas sesak karena asap tebal dan saya tak mau menghirupnya. Saya senang melihat alam lestari,” kata Fransiscus, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya yang sudah punya pekerjaan tetap itu.
Sebagai ”pasukan pemadam”, TSA memang masih minim personel dan peralatan. Jumlah personel misalnya, baru 40 orang, sementara pompa air baru ada 15 unit. Itu pun 5 di antaranya rusak.
Karena itu, dalam bekerja TSA sering bergabung dan berkoordinasi dengan masyarakat binaan Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dishut Kalteng Rudin Purba menjelaskan, lurah atau kepala desa berperan sebagai koordinator warga. ”Jadi, kalau terjadi kebakaran, mereka saling membantu dengan TSA. Ada pos-pos jaga di setiap kelurahan atau desa,” ujarnya.
Jika itu masih dirasa kurang, Dishut akan menerjunkan tim Manggala Agni, yakni pemadam kebakaran hutan yang berada di bawah Kementerian Kehutanan.
TSA memang bukan pegawai organik Dishut seperti Manggala Agni. Akan tetapi, semangat mereka tak kalah. Sesuai moto Kalteng Isen Mulang (pantang mundur), seakan sudah terpatri bahwa anggota TSA tak akan pulang sebelum api padam.