PURWAKARTA, KOMPAS.com — Para pembudidaya ikan keramba jaring apung di daerah hulu Waduk Ir H Djuanda, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terdesak oleh kian surutnya muka air pada dua bulan terakhir.
Sekitar 40 unit diperkirakan telah meninggalkan lokasi sebelumnya dan berpindah ke perairan yang lebih dalam di hilir waduk. Area genangan waduk di perbatasan Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru dan Sukamukti, Kecamatan Manis, Kamis (17/3/2011), kian sempit karena air surut.
Dua desa yang sebelumnya terpisah perairan sejauh 2-3 kilometer itu kini kurang dari 100 meter. Alur Sungai Citarum kian terlihat. Puluhan hektar area genangan waduk juga telah ditanami padi, jagung, kacang panjang, dan cabai oleh warga.
Di kawasan itu sebelumnya ada lebih dari 50 unit keramba jaring apung (KJA) dengan 4-10 petak setiap unitnya. Mayoritas keramba di antaranya dioperasikan oleh warga desa setempat. Namun, kini jumlah keramba yang tersisa hanya sekitar 10 unit karena sebagian besar telah digeser menuju hilir waduk yang memiliki perairan lebih dalam.
"Air terus surut dan kedalaman air di lokasi budidaya semula turun hingga kurang dari 1 meter. Para pembudidaya menggeser kerambanya dengan menggunakan perahu agar usaha bisa tetap jalan," kata Ahmad (71), warga Galumpit.
Jeje (64), warga Galumpit yang sebelumnya berprofesi sebagai nelayan dan pekerja di unit KJA, kini menjadi petani musiman. Dia menanami lebih dari 1.000 meter persegi area bekas genangan waduk dengan padi.
"Sebenarnya masih bisa mencari ikan, tetapi dalam kondisi surut seperti ini lebih baik memanfaatkan lahan untuk ditanami. Jika beruntung, hasilnya lumayan," kata Ahmad.
Muka air
Ada sekitar 17.000 petak KJA di Waduk Ir H Djuanda. Menurut Ketua Himpunan Pembudidaya KJA Jatiluhur, Darwis, meski surut, secara umum kondisi air justru membaik tiga bulan terakhir. Pembudidaya juga mulai menambah kepadatan tebar seiring meningkatnya kandungan oksigen terlarut, stabilnya temperatur, serta ketercerahan air.
Tinggi muka air (TMA) Waduk Ir H Djuanda, berdasarkan data Perum Jasa Tirta (PJT) II pada Kamis (17/3/2011) pukul 07.00, mencapai 96,5 meter atau lebih rendah dari Kamis pekan lalu yang setinggi 97,13 meter. TMA waduk itu tercatat terus turun sejak mencapai TMA tertinggi pada 25 Maret 2010 lalu, yakni 108,41 meter.
Penurunan juga terjadi pada dua waduk lain di aliran Sungai Citarum, yakni Saguling dan Cirata. Namun, hujan di hulu dan daerah aliran sungai membuat TMA Saguling dan Cirata berangsur naik.
Mengacu pada data yang sama, TMA Saguling mencapai 631,06 meter, naik dibandingkan sebelumnya yang sempat menyentuh 629,92 meter pada 27 Februari 2011. Adapun TMA Cirata berangsur naik dari 207,31 meter pada 22 Januari 2011 menjadi 208,62 meter.
Direktur Pengelolaan Air PJT II Herman Idrus mengatakan, pengurangan kelebihan distribusi ditempuh untuk menghemat penggunaan air, terutama untuk irigasi. Upaya peningkatan stok melalui hujan buatan terus ditempuh selama potensinya masih ada demi menghindari defisit air tahun ini.
Waduk Ir H Djuanda diandalkan untuk mengairi sekitar 230.000 hektar sawah di utara Jawa Barat pada musim tanam kedua (MT 2011) ini. Air Jatiluhur juga dibutuhkan untuk memasok kebutuhan air baku minum DKI Jakarta serta kebutuhan industri, terutama di wilayah Karawang, Bekasi, dan DKI Jakarta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang