Warga Benghazi Gembira

Kompas.com - 19/03/2011, 03:13 WIB

Kairo, Kompas - Rakyat di Libya timur, khususnya kota Benghazi, meluapkan kegembiraan setelah sidang Dewan Keamanan PBB di New York, AS, Kamis (17/3), meloloskan resolusi memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya. Penduduk kota Benghazi dan Tobruk yang menyaksikan lewat televisi langsung keluar rumah.

Mereka melakukan pawai berkeliling kota sembari mengibarkan bendera baru Libya. Beberapa warga lain melakukan tembakan salvo ke udara.

Ribuan pengunjuk rasa di Alun-alun Tahrir, Benghazi, rela menonton televisi yang menayangkan pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB hingga Jumat dini hari waktu setempat. Setelah keputusan itu, langsung bergema suara Allahu Akbar dan lagu nasional Libya.

Perilaku mereka memperlihatkan seakan-akan kemenangan atas rezim Moammar Khadafy sudah di depan mata. Banyak pula penduduk Benghazi yang langsung bersujud sebagai ucapan syukur atas resolusi DK PBB itu.

Ketua Dewan Nasional Transisi Libya Mustafa Abdel Jalil meminta masyarakat komunitas internasional menggempur pasukan yang loyal terhadap Khadafy di berbagai front pertempuran di Libya timur dan barat. Kemudian mereka menginginkan agar komunitas internasional memberlakukan secara efektif zona larangan terbang itu.

Sebaliknya, pemerintah loyalis Khadafy di Tripoli mengkritik keputusan DK PBB itu yang dilukiskan mengancam kesatuan wilayah Libya. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Libya Khaled Kaim menyatakan, Khadafy siap melakukan gencatan senjata. Namun, Wakil Menlu itu mengatakan, syaratnya adalah ada pihak yang merundingkan teknis dan mekanisme gencatan senjata.

Sidang Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 1973. Isinya, memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat sipil dari serangan udara yang dilakukan para loyalis Khadafy. Angkasa Libya terlarang untuk diterbangi, kecuali penerbangan untuk misi kemanusiaan.

Jerman ikut abstain

Keputusan tersebut didukung oleh 10 dari 15 anggota DK PBB. Lima negara anggota lainnya memilih abstain, yaitu China, Rusia, Jerman, India, dan Brasil. Jerman menyatakan, pengenaan sanksi terhadap Libya belum tentu memberikan hasil maksimal, tetapi malah bisa menjadi bumerang.

Ketika AS menginvasi Irak pada 2003, Jerman juga menyatakan penolakan. Menlu Jerman Joshka Fischer saat itu mengecam Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld dengan mengatakan, kejengkelan AS kepada Irak merupakan urusan AS, bukan urusan Jerman.

Di antara isi resolusi DK PBB itu terdapat penekanan bahwa negara-negara anggota PBB dapat mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi penduduk sipil dan daerah berpenduduk sipil yang berada dalam ancaman serangan, termasuk kota Benghazi.

Resolusi PBB itu juga mengutuk pelanggaran berat dan sistematis terhadap hak asasi manusia, termasuk penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, penyiksaan, dan sejumlah eksekusi oleh rezim Khadafy kepada oposisi.

Resolusi itu memerinci penegakan embargo senjata terhadap Libya, pembekuan aset, dan larangan pada sebagian besar penerbangan. Resolusi menyesalkan penggunaan tentara bayaran oleh Pemerintah Libya dan menyatakan keprihatinan tentang keamanan warga negara asing.

AS, Inggris, dan Perancis hampir dipastikan akan menjadi kekuatan utama untuk menghadang pesawat-pesawat tempur Khadafy demi penegakan zona larangan terbang itu. Diberitakan pula, dua atau tiga negara Arab akan ikut serta dalam operasi penegakan zona larangan terbang itu, di antaranya Qatar, Jordania, dan Uni Emirat Arab.

Kemulusan DK PBB mengeluarkan keputusan memberlakukan zona larangan terbang tak terlepas dari dukungan regional, yaitu Liga Arab. Sidang Liga Arab tingkat menteri luar negeri hari Sabtu lalu di Kairo meminta DK PBB segera memberlakukan zona larangan terbang. Liga Arab juga memutuskan membuka kontak dengan pihak Dewan Nasional Transisi Libya yang dipimpin oleh Mustafa Abdel Jalil.

Menurut Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Mousa, pembukaan kontak dengan Dewan Nasional Transisi secara de facto merupakan pengakuan Liga Arab atas dewan itu. Bagi kaum oposisi Libya, keputusan DK PBB itu merupakan kemenangan diplomasi sejak meletusnya revolusi Libya pada 17 Februari lalu.

Pasukan anti-Khadafy akhir- akhir ini terus terdesak oleh serangan pasukan pro-Khadafy. Kubu ini berharap resolusi Dewan Keamanan PBB bisa menghentikan gerakan maju pasukan pro-Khadafy, yang diberitakan telah berada sekitar 160 kilometer dari kota Benghazi, basis utama kaum oposisi.

Pesawat tempur Khadafy hari Kamis mulai menggempur Bandar Udara Benina di Benghazi. Pasukan Khadafy juga sudah mengepung kota Ajdabiya dari tiga arah sejak beberapa hari lalu.

(mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau