Cerita tent ang Kain Sutera

Kompas.com - 20/03/2011, 03:46 WIB

China adalah negara pertama yang membuat kain sutra. Ada sebuah cerita legenda yang selalu melekat pada kain sutra.

Konon, 5.000 tahun lalu seorang permaisuri China bernama Xi Ling Shi melihat kehalusan serat yang terurai dari kepompong ulat pohon murbei.

Kemudian ia menyuruh dayang-dayangnya mengumpulkan lebih banyak kepompong untuk diternakkan dan ditenun. Atas jasanya menemukan ulat sutra dan mengenalkan cara membuat sutra, Putri Xi Ling Shi diberi gelar Dewi Sutra.

Pakaian berbahan sutra awalnya hanya boleh dikenakan oleh penghuni istana.

Seiring berjalannya waktu, sutra tak hanya dipakai untuk bahan pakaian. Serat sutra juga dipakai untuk bahan membuat alat musik, tali alat pancing, tali busur panah, juga sebagai bahan kertas.

Lama setelah itu, barulah kain sutra digunakan oleh semua kalangan di China.

Awalnya, hanya bangsa China yang tahu membuat sutra. Mereka menyimpan rapat-rapat rahasia pembuatan kain sutra selama berabad-abad.

Siapa pun yang membocorkan rahasia pembuatan sutra akan dihukum.

Wah, sutra benar-benar hanya menjadi milik China. Harganya menjadi sangat mahal. Namun, pada akhirnya, cara pembuatan sutra menyebar juga, setelah mata-mata dari Romawi berhasil mencuri ulat sutra dan membawa ke negaranya.

Sekarang, seluruh dunia bisa memproduksi kain sutra, tetapi bagaimana caranya?

Langkah awal adalah beternak ulat sutra. Nama ulat sutra Bombxy mori. Ulat ini hidup di pohon murbei. Induk Bombxy mori bisa menghasilkan 500 telur ulat sutra.

Telur-telur akan menetas menjadi larva ulat setelah 20 hari. Larva-larva ulat ini rakus sekali. Mereka makan daun murbei sepanjang hari!

Karena rakusnya, ukuran tubuhnya cepat sekali membesar. Larva akan terus membesar hingga berubah menjadi kepompong.

Nah, kepompong inilah yang dibuat menjadi benang sutra. Sebelum berubah menjadi kupu-kupu, kepompong direbus agar larva ulat di dalamnya mati. Serat di kepompong kemudian diuraikan menjadi serat sutra yang sangat halus.

Serat pun harus dipintal. Prosesnya menyerupai proses ketika ulat sutra memintal kepompongnya. Jadilah serat sutra untuk bahan kain sutra.

Satu kepompong bisa menghasilkan serat sutra tipis dan bening dengan panjang mencapai ribuan meter.

 

Sebenarnya ada banyak jenis ulat sutra. Warna asli serat sutra yang dihasilkan pun beragam. Ada yang berwarna putih, coklat muda, kuning dan kecoklatan.

Kualitas dan warna serat sutra yang dihasilkan tergantung dari jenis ulat sutra dan makanannya. Hanya ulat sutra yang memakan daun murbei, kepompongnya akan menghasilkan serat yang tipis dan mengilap.

 

Kain yang dibuat dari serat sutra terasa halus, lembut, dan menyerap keringat. Lebih istimewanya, kain sutra bisa terlihat berkilauan jika terkena cahaya.

Karena proses pembuatan kain sutra yang sangat panjang dan rumit, tak heran kalau kain sutra harganya mahal. Kain sutra pun harus

diperlakuan lebih istimewa dibandingkan dengan kain lainnya. Misalnya, bila kain terkena keringat,

harus segera dicuci agar warna kain tidak menjadi kuning.

Kain sutra sebaiknya dicuci dengan tangan, tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung, dan bila menyetrika sebaiknya dengan temperatur rendah.

 

Selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kain, ulat sutra juga bisa untuk bahan makanan.

Ulat sutra diolah dalam berbagai cara. Ada yang ditumis, digoreng, direbus, dikukus, juga dipanggang.

Di Korea, tumis pupa ulat sutra adalah makanan populer. Bahkan ada yang sudah dikemas dalam bentuk kalengan.

Di Tanzania, pupa ulat dibuat menjadi tepung. Di China, banyak penjual makanan yang menjajakan sate ulat sutra.

Orang-orang Afrika dan Zambia juga terbiasa memakan pupa ulat sutra karena kandungan protein hewaninya sangat besar. Mmm, ada yang mau mencoba?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau