Peluncuran buku

Prijanto Sentil Kelakuan Pimpinan

Kompas.com - 22/03/2011, 08:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto meluncurkan buku karangannya yang bertajuk "Nilai", Senin (21/3/2011) malam.

Buku tersebut merupakan buah renungan Prijanto sehari-hari soal kasih sayang hingga persoalan kepemimpinan. Persoalan kepemimpinan menjadi topik yang berkali-kali didiskusikan dalam peluncuran buku yang dilaksanakan di Hotel Borobudur. Maklumlah, Prijanto sebagai orang nomor dua DKI merupakan figur yang sentral di tengah birokrasi Pemprov DKI Jakarta.

Bisa jadi, salah satu perenungan Prijanto yang dituangkan dalam tulisan berjudul Jangan Pernah Terlihat Lebih Baik dari Atasan Anda menjadi sentilan bagi siapa pun yang membacanya. Di dalam tulisannya itu, Prijanto mengutip tulisan Robert Greene dalam bukunya The 48 Laws of Power.

"Di dalam pasal 1 disebutkan bahwa atasan tidak suka bawahannya lebih dari dia. Orang yang ingin menonjolkan talenta hanya akan disingkirkan dan masuk kotak," ucap Prijanto, Senin (21/3/2011), saat membedah bukunya di Hotel Borobudur, Jakarta.

Ia mengutip perkataan Robert Green, "Senantiasa buatlah atasan Anda merasa superior. Kalaupun Anda ingin menyenangkan hati mereka atau membuat mereka terkesan, jangan terlalu berlebihan dalam menunjukkan bakat-bakat Anda. Jika tidak, Anda hanya akan berhasil memancing reaksi sebaliknya, memancing perasaan takut dan perasaan tidak aman mereka. Buatlah atasan Anda tampak lebih brilian daripada sesungguhnya, maka Anda akan memperoleh kekuasaan terbesar."

Ia mengambil contoh Raja Louis XIV. Raja Perancis itu terkenal angkuh dan arogan, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Louis benci bila kemewahannya ada yang melempaui. Ketika itu, Menteri Keuangan Raja Louis, Nicaolah Fouqet, yang tak kalah mewahnya berusaha menjilat Louis dengan menyuguhkan hidangan paling mewah. Louis XIV tersinggung, Nicolas Fouqet akhirnya masuk penjara dengan tuduhan korupsi.

Namun, pada kondisi yang genting, ketika rakyat mendambakan seorang pemimpin; sementara pimpinan tersebut dicap bodoh oleh rakyat lantaran tak mampu mengatasi masalah, apakah prinsip ini juga harus dipakai dan tetap tunduk pada atasan?

Prijanto menjawabnya bijak. Setelah merenung sekian lama dan dari pengalaman-pengalamannya selama ini, pria berlatar belakang militer ini pun membuat tulisan dengan juduk Bebek dan Beo masih dalam buku yang sama.

"Sebagai pimpinan, kita punya pilihan mau memimpin anak buah yang seperti apa? Mau yang seperti bebek dan beo?" katanya. Di dalam tulisan Bebek dan Beo, Prijanto menceritakan soal tipe-tipe anak buah. Lagi-lagi tipe anak buah bisa ditentukan oleh sang pemimpin.

Ia menceritakan ada banyak pemimpin yang lebih suka bawahan bertipe bebek. Maksudnya, seperti bebek, baru saja tongkat diangkat ke arah kanan, barisan bebek sudah tahu dan mengikutinya dengan patuh. "Bebek adalah binatang yang paling menuruti perintah, tanpa reverse. Sama dengan orang yang sangat patuh, tidak punya inisiatif menurut saja. Istilahnya membebek," tulis Prijanto.

Lain lagi dengan tipe beo, bawahan dengan tipe ini hanya bisa meniru perintah tanpa alasan. "Banyak yang menyukai tipe bawahan seperti ini," ucap Prijanto.

Akan tetapi, Prijanto menuturkan dalam bukunya ada seorang raja yang justru berbeda. Ia tampak murung manakala adipati dan senopati kerajaan selalu membebek dan membeo. Ia sadar bahwa orang-orang yang kritis tidak boleh disingkirkan, dimusuhi, atau dicurigai sebagai pembangkang. Orang macam ini justru harus digunakan, diajak untuk ikut membangun kerajaan. Hasilnya pemikiran positif pun akhirnya terbangun dan membawa kemajuan kerajaan.

"Kita sebagai pemimpin, apakah akan memilih unsur-unsur pembantu kita yang bisanya hanya membebek dan membeo, asal bapak senang, ataukah orang-orang yang kritis konstruktif yang kadang menjengkelkan dan menyakitkan. Itu semua memerlukan kecerdasan dalam memilih," tulis Prijanto.

Di dalam buku setebal 118 halaman itu Prijanto juga menyentil secara halus. Kata dia, menasihati tanpa harus menggurui, dan mengajak pembaca merenung tanpa harus berkerut kening. Dia mengangkat realitas kehidupan sehari-hari dalam tulisan-tulisan yang dibagi ke dalam beberapa tema. Selain "Jangan Pernah Terlihat Lebih Baik daripada Atasan Anda" dan "Bebek dan Beo", serta beberapa tulisan menarik lainnya seperti  "Tuhan Hilang.. Mana Aku Tahu?", "Doktor Kodok", "Selir-Raja Cantik, Tapi Bodoh", serta "Demokrasi Dunia Wayang".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau