AS Habiskan 300 Juta Dollar

Kompas.com - 24/03/2011, 03:45 WIB

Washington, Rabu - Amerika Serikat menguras sekitar 300 juta dollar AS atau Rp 2,7 triliun per minggu demi penegakan zona larangan terbang di atas Libya. Biaya sesungguhnya: ”tidak terkira” besarnya.

Associated Press, Rabu (23/3), merilis, operasi penegakan zona larangan terbang di Libya bisa menyita 300 juta dollar AS per minggu. Jika nilai tukar satu dollar AS adalah Rp 9.000, biaya yang dikeluarkan AS mencapai Rp 2,7 triliun per minggu. Laporan itu merujuk analisis Pusat Pengkajian Strategis dan Anggaran AS bulan ini.

Hari Selasa di Washington digelar pertemuan untuk membahas biaya operasi di tengah krisis keuangan AS. Pertemuan dihadiri pejabat Departemen Luar Negeri, Pentagon, dan Departemen Keuangan. Mereka mau menekan anggaran Operasi Fajar Odyssey yang juga melibatkan Perancis dan Inggris.

Pada hari yang sama, koalisi telah menembakkan paling sedikit 162 rudal jelajah Tomahawk dari kapal laut AS di Laut Tengah. Harga satu rudal 1 juta dollar AS hingga 1,5 juta dollar AS atau paling kurang Rp 9 miliar dan paling mahal Rp 13,5 miliar.

AS juga mengoperasikan pesawat pengebom B-2, yang terbang bolak-balik dari Missouri untuk menjatuhkan 900 kilogram bom ke Libya. Lama terbang total 25 jam dengan biaya operasi 10.000 dollar AS per jam.

Tentu saja hitungan itu hanya sebagian dari total biaya operasi satu pesawat.

Pesawat pengebom B-2 membutuhkan biaya bahan bakar yang sangat mahal. Apalagi AS juga menggunakan pesawat pengisi bahan bakar di udara. Ketika akan pulang, semua pesawat akan membutuhkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Pilot juga diberi bonus.

Belum lagi biaya operasi kapal perang yang bersiaga di Laut Tengah. AS mengoperasikan banyak kapal perang dan jet tempur. Kerugian besar masih harus dihitung lagi setelah jatuhnya jet tempur F-15 di Benghazi, Libya timur, hari Selasa.

”Setiap enam jam kita mengalami defisit miliaran dollar,” kata Roscoe Bartlett, anggota DPR untuk Komisi Angkatan Bersenjata dari Partai Republik. Katanya, dengan menghabiskan 1 miliar dollar AS di Libya, berarti mewariskan utang 1 miliar dollar AS juga bagi generasi berikutnya.

Peran NATO

Sementara itu, AS, Inggris, dan Perancis mengatakan bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) harus ikut berperan dalam struktur komando operasi militer di Libya. Namun, Perancis menentang jika NATO berada pada posisi komando umum.

Para duta besar 28 negara NATO di Brussels, Selasa, memutuskan untuk mengaktifkan rencana bagi pesawat perang dan pesawat sekutu melaksanakan embargo senjata yang telah diputuskan PBB terhadap Libya.

Setelah zona larangan terbang, koalisi mendukung NATO untuk menerapkan embargo senjata kepada Libya. Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan, kapal dan pesawat NATO tengah dikumpulkan di Laut Tengah untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

”Semua sekutu bertekad memenuhi tanggung jawab mereka sesuai resolusi PBB untuk menghentikan aksi kekerasan yang tidak bisa diterima terhadap warga sipil Libya,” kata Rasmussen.

Penerapan zona larangan terbang, dan kini rencana embargo senjata oleh aliansi multinasional, bertujuan melindungi warga sipil. Kolonel Moammar Khadafy tak gentar juga terhadap rencana itu. Pasukan loyalisnya terus melancarkan serangan darat di kota-kota strategis Libya.

Analis menilai Presiden AS Barack Obama terkesan ”serba salah” terkait Libya. Dia melangkahi konstitusi. Penggunaan militer AS dalam perang harus dengan persetujuan kongres. Itu amanat konstitusi. Pelibatan militer di Libya tanpa persetujuan kongres.(AFP/AP/REUTERS/CNN/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau