Hipertensi Bisa Berujung Gagal Ginjal

Kompas.com - 24/03/2011, 13:04 WIB

Kompas.com - Tekanan darah tinggi atau hipertensi selama ini lebih lekat dengan penyakit jantung. Padahal, hipertensi juga berkawan akrab dengan penyakit gagal ginjal kronik. Bahkan hipertensi adalah penyebab gagal ginjal stadium lanjut nomor dua terbanyak setelah diabetes.

"Penyakit ginjal kronik kini menjadi epidemi global baru. Angkanya mencapi 12,5 persen dari populasi di seluruh dunia dengan faktor risiko terbesar adalah diabetes melitus disusul dengan hipertensi," kata Prof.dr.Suhardjono, Sp.PD-KGH dalam acara diskusi kesehatan mengenai Pentingnya Kontrol Tekanan Darah pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang diadakan oleh Pfizer di Jakarta beberapa waktu lalu.

Hipertensi merupakan keadaan di mana tekanan darah berada di atas batas normal, yaitu di atas 120/80. Peningkatan tekanan darah berkepanjangan akan merusak pembuluh darah di sebagian besar tubuh.

Di dalam ginjal terdapat jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring guna mengeluarkan produk sisa darah. Jika pembuluh darah di ginjal rusak, maka kemungkinan aliran darah berhenti membuang limah dan cairan esktra dari tubuh.

Bila ekstra cairan di dalam pembuluh darah meningkat, maka bisa meningkatkan tekanan darah. "Ini adalah siklus berbahaya," kata prof.Suhardjono.

Naiknya tekanan darah memang bisa menjadi salah satu gejala munculnya penyakit ginjal. Namun, seperti halnya hipertensi, penyakit ginjal kronik (PGK) seringkali tidak bergejala. Orang mungkin menderita PGK tapi tidak menyadarinya.

"Seringkali pasien yang datang tidak merasa gejala apa-apa, baru setelah dilakukan pemeriksaan darah dan urin ketahuan sudah gagal ginjal," kata dokter dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia ini.

Secara umum PGK bisa didefinisikan sebagai ketidaknormalan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerular (LGF) sehingga menimbulkan kerusakan ginjal. Akibat gangguan fungsi ginjal itu pasien bisa mengalami muntah-muntah, bengkak pada kaki, atau pucat.

"Jika sudah ada gejala biasanya stadiumnya sudah lanjut. Padahal penyakit ini tidak bisa dikembalikan menjadi normal," kata dr.Dharmeizar, Sp.PD-KGH, konsultan ginjal dan hipertensi dari RSCM Jakarta

Faktor risiko

Ia menyebutkan, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik, yaitu diabetes, hipertensi, infeksi pada ginjal. "Penyakit ini juga sangat terkait dengan gaya hidup. Pola makan, stres dan kebiasaan minum jamu yang tidak jelas bisa meningkatkan risik penyakit ini," imbuhnya.

Menurut prof.Suhardjono, perburukan PGK bisa dicegah atau paling tidak dihambat dengan perubahan gaya hidup, pengobatan dan pengendalian faktor risiko. Misalnya dengan pengendalian gula darah dan tekanan darah. "Pada stadium lanjut terapi pengobatan anya ditujukan untuk memperlambat perburukan penyakit," katanya.

Ia menambahkan, kebanyakan pasien PGK tidak meninggal akibat gagal ginjal, melainkan komplikasi kardiovaskular. "Pada tahap awal, risiko kematian pasien akibat penyakit jantung atau stroke lima kali lebih besar. Karena itu kebanyakan pasien meninggal sebelum mencapai tahap akhir gagal ginjal yaitu yang membutuhkan cuci darah," paparnya.

Berbagai penelitian membuktikan mencegah dan pengendalian faktor risiko bisa menurunkan angka kematian dan kesakitan kardiovaskular. "Skrining dan deteksi dini dengan pemeriksaan urin dan tekanan darah sangat efektif mencegah penyakit ini," kata dr.Dharmeizar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau