JAKARTA, KOMPAS.com — Pasangan Heriyanto dan Yana, warga Jalan Saharjo, Gang Bhakti 8 RT 01 RW 05, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, menerima santunan dari Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Kamis (24/3/2011). Uang Rp 3 juta itu, paling tidak, bisa digunakan untuk menutup biaya penguburan Mohammad Ilham (11), putra mereka yang tewas terbakar pada Rabu kemarin.
”Heri dan Yana masih sulit bicara, masih sangat sedih, ingat Ilham,” kata seorang tetangga pasangan tersebut, Kamis pagi.
Ilham adalah korban kebakaran yang melanda permukiman di Gang Bhakti, Rabu sekitar pukul 15.00. Tidak ada yang bisa memastikan titik sumber api. Namun, kobaran si jago merah pertama kali memang tampak dari rumah yang dihuni keluarga Heriyanto.
Sontak warga sekitar berteriak minta tolong mengevakuasi keluarga mereka yang masih berada di dalam rumah; dan segera beraksi mengguyur api dengan air di ember atau kucuran selang. Tapi, api terus merambat.
Sebanyak 22 mobil pemadam kebakaran dari Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur dikerahkan. Akhirnya, pada pukul 17.30, api bisa dipadamkan, tetapi sedikitnya 30 petak rumah telanjur hangus.
Di tengah hiruk-pikuk pemadaman, keluarga Heri sibuk mencari Ilham. Menurut beberapa tetangga, sebelum kebakaran Ilham sempat diketahui tengah bermain bersama teman-temannya. Namun, informasi lain menyebut Ilham memang berada di dalam rumah saat kebakaran terjadi.
Seusai menguburkan Ilham di pemakaman setempat, Heri dan Yana hanya bisa menyimpan kesedihan mereka. Selain putra mereka itu, harta benda keluarga juga turut ludes dilalap api.
Kepala Seksi Sektor VII Sudin Damkar Jakarta Selatan Madanih, Rabu sore, mengatakan belum tahu pasti penyebab kebakaran. Tapi, dari informasi di lapangan dan pantauan awal, kemungkinan besar penyebabnya korsleting.
Seorang petugas pemadam mengatakan, kebakaran yang terjadi cukup besar karena jumlah rumah yang terbakar banyak. Petugas pemadam juga kesulitan mencapai lokasi kebakaran karena berada di permukiman padat yang akses masuknya sulit dilalui mobil pemadam. Sumber air juga kurang. Yang terdekat adalah Banjir Kanal Barat yang berjarak 300-500 meter dari lokasi kebakaran.
Melihat permukiman di Gang Bhakti ini, lazimnya pemandangan permukiman padat lain di Ibu Kota, kabel-kabel listrik berseliweran antara rumah satu dan lainnya. Sebuah colokan berbentuk bulat yang sebagian hangus terbakar di salah satu reruntuhan bangunan tampak masih dilekati colokan tiga cabang. Lelehan plastik dan sisa benang tembaga mengindikasikan setidaknya dari colokan itu listrik dialirkan ke dua alat elektronik berbeda.
”Seperti ini, mah, biasa. Kalaupun kebakaran, mungkin memang musibah,” kata Nung (54), seorang ibu yang berjalan-jalan di lokasi kebakaran, Kamis pagi.
Hingga sore kemarin, lebih dari 100 orang korban kebakaran ditampung mengungsi di Masjid As-Shalihin dan menunggu bantuan dari para dermawan. Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan mengirimkan bantuan berupa beras 200 kilogram, 10 dus mi instan, 1 dus kecap, 40 tikar, 40 selimut, 150 bungkus makanan siap saji, serta lima terpal.
Rahman, Kepala Seksi Sudin Sosial Jakarta Selatan, mengatakan, bantuan langsung dikirim ke lokasi kebakaran sejak Rabu malam. Palang Merah Indonesia juga sudah siap dengan dapur umumnya tak berapa lama setelah kebakaran usai.
Wakil rakyat yang duduk di DPRD ataupun perwakilan partai juga mengalirkan bantuan uang dan barang. Tak lupa bendera partai pun dikibarkan di Gang Bhakti dengan dalih sebagai penanda posko bantuan.
Namun, adakah yang peduli untuk sigap menggalang upaya antisipasi mencegah kebakaran? Suatu upaya yang lebih diperlukan guna mencegah bertambahnya korban dan menguapnya miliaran rupiah nilai materi harta benda, mengingat kebakaran bisa dua hingga tiga kali terjadi setiap hari di Jakarta. (Neli Triana)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang