Harga satu kilogram (kg) karet dengan kadar kering 60 persen sebelumnya sempat jatuh ke harga Rp 18.000. Pada awal pekan ini harga karet membaik ke Rp 20.000, dan kembali naik menjadi Rp 24.000, Jumat (25/3) ini.
Ketua Kelompok Tani Budi Utomo di Desa Pondok Meja, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Kliwon, Jumat, mengatakan, membaiknya harga karet disambut antusias kalangan petani. Kliwon sebelumnya sempat mengurangi volume penjualan hasil panen dari 7,5 ton per minggu menjadi hanya 2,5 ton pada pekan lalu. Namun, pada Sabtu hari ini dia berencana menjual 20 ton sekaligus.
”Tadinya, kami sengaja menahan sebagian hasil panen sambil menunggu harga karet membaik. Sekarang harga naik lagi, saya akan langsung jual seluruh panen yang tersimpan,” katanya.
Kliwon memperkirakan kenaikan harga karet didorong oleh rendahnya suplai dari petani. Walaupun permintaan dari Jepang merosot, ada permintaan baru dari pembeli lain ke pabrik pengolah karet.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tagor Mulia memperkirakan saat ini harga karet tengah membaik, tetapi hal itu belum menjadi patokan kondisi telah stabil. Harga dapat turun kembali setiap saat. Ia mengimbau agar petani mempersiapkan diri menghadapi kondisi itu.
”Pengaruh gempa di Jepang dan konflik di Timur Tengah masih sangat kuat, sedangkan produksi di Malaysia juga sedang tinggi. Harga belum cukup stabil untuk saat ini,” kata Tagor.
Tagor mengingatkan petani untuk menabung pada saat harga karet sedang bagus, untuk antisipasi saat harga turun. ”Kalau petani punya tabungan, mereka dapat menahan karetnya tidak dijual ketika harga sedang rendah. Kualitas karet malah akan lebih baik karena kadar keringnya semakin tingi,” ujar Tagor.
Kondisi berbeda terjadi di Kepulauan Bangka Belitung. Dalam tiga pekan terakhir harga karet di Kabupaten Bangka turun hingga Rp 9.000 per kg.
Di Kecamatan Merawang, Jumat kemarin, harga karet di kebun rata-rata Rp 7.000 per kg. Pada awal Maret 2011, harga karet di kebun masih bertahan di rentang Rp 14.000 hingga Rp 16.000 per kg. ”Kami tidak tahu apa penyebab harga karet di kebun semakin rendah,” ujar Hoslih, salah seorang petani.
Petani khawatir penurunan harga terus terjadi, sementara mereka tidak dapat melakukan apa-apa untuk mencegah penurunan harga itu. ”Kami tidak menentukan harga. Pengumpul karet datang dan menawarkan harga seperti itu. Kalau tidak mau jual, kami malah rugi karena karet tidak laku,” ujarnya.
Hoslih dan sebagian besar
Tugimin, petani di Kecamatan Mendo Barat, menambahkan, tawaran Rp 7.000 per kg muncul sejak dua pekan lalu. ”Waktu harga turun dari Rp 16.000 ke Rp 12.000, rasanya sudah berat sekali. Sekarang lebih berat lagi karena sudah lebih separuh harga bulan lalu,” katanya.