”Harga minyak naik karena krisis politik di Afrika Utara dan Teluk Persia serta pemulihan dari krisis global. Analisis suplai memperlihatkan, meski harga minyak naik melebihi 100 dollar AS per barrel, OPEC tak perlu pertemuan khusus,” kata Mirkazemi di Teheran, Sabtu (26/3).
Harga minyak, yang mulai tak stabil dengan unjuk rasa di Mesir dan Bahrain, melonjak saat kerusuhan menular ke Libya. Serangan koalisi ke negara pengekspor minyak terbesar keempat di Afrika itu membuat harga terus melambung.
Mirkazemi, yang kini menjabat Ketua OPEC, menyalahkan devaluasi mata uang dollar AS sebagai penyebab harga minyak tetap tinggi. Harga minyak di New York pada akhir pekan turun 20 sen dollar AS menjadi 105,40 dollar AS per barrel setelah pertemuan para investor membahas krisis di Timur Tengah.
Dengan berlarut-larutnya krisis di Libya, konsumen kini bekerja keras mencari pengganti. Di atas kertas, mudah menyubstitusi 1,7 juta barrel produksi Libya dari negara OPEC lain. Arab Saudi menawarkan jumlah yang sama dengan menambah produksi harian mereka.
Namun, pasar minyak dunia tak hanya berpikir soal kuantitas. Minyak mentah asal Libya yang kadar belerangnya rendah dihargai tinggi karena lebih mudah dan murah
diproses menjadi bahan bakar. Sebagian besar minyak asal Arab Saudi kualitasnya lebih rendah dan lebih sulit untuk dimurnikan.
”Hal itu memaksa konsumen mencari pilihan lain karena jelas suplai dari Libya akan terhenti untuk waktu lama,” kata analis minyak dari IHS CERA, Bhushan Bahree.
Masalahnya, mencari minyak dengan kualitas serupa tidaklah mudah. Hanya sedikit pemasok yang bisa memenuhinya. ”Yang cukup dekat kualitasnya berasal dari Aljazair, Angola, dan Nigeria. Tak ada yang persis sama, tetapi hampir mirip,” kata Bahree.
Permintaan minyak mentah jenis ini melonjak sejak krisis di Libya dimulai dan melonjakkan harga minyak dari tiga negara itu. Minyak ”Bonny Light” dari Nigeria dan ”Saharan Blend” dari Aljazair di pasar premium London tercatat masing-masing 3,40 dollar AS dan 2,85 dollar AS per barrel, naik dua kali lipat dari harga pertengahan Februari.
”Nigeria memompa minyak semampu mereka untuk memenuhi permintaan,” kata Mike Fitzpatrick dari Kilduff Report, sambil mengingatkan bahwa politik Nigeria pun tak stabil.
Pengilangan minyak yang harus menentukan apakah cukup ekonomis mengalihkan produksi ke minyak mentah yang lebih sulit disuling dan lebih tidak menguntungkan.
Jika krisis berlanjut, Badan Informasi Energi Amerika Serikat memperingatkan bisa terjadi kekurangan pasokan saat kebutuhan bahan bakar melonjak pada musim panas. Ongkos produksi melonjak dan dampaknya ke perekonomian dunia akan lebih terasa.