OPEC Tak Tambah Produksi

Kompas.com - 28/03/2011, 04:36 WIB

Teheran, Sabtu - Menteri Perminyakan Iran Masoud Mirkazemi mengatakan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak tak perlu pertemuan khusus untuk menambah produksi terkait krisis di Libya. Namun, negara konsumen kesulitan mencari pengganti minyak asal Libya.

”Harga minyak naik karena krisis politik di Afrika Utara dan Teluk Persia serta pemulihan dari krisis global. Analisis suplai memperlihatkan, meski harga minyak naik melebihi 100 dollar AS per barrel, OPEC tak perlu pertemuan khusus,” kata Mirkazemi di Teheran, Sabtu (26/3).

Harga minyak, yang mulai tak stabil dengan unjuk rasa di Mesir dan Bahrain, melonjak saat kerusuhan menular ke Libya. Serangan koalisi ke negara pengekspor minyak terbesar keempat di Afrika itu membuat harga terus melambung.

Mirkazemi, yang kini menjabat Ketua OPEC, menyalahkan devaluasi mata uang dollar AS sebagai penyebab harga minyak tetap tinggi. Harga minyak di New York pada akhir pekan turun 20 sen dollar AS menjadi 105,40 dollar AS per barrel setelah pertemuan para investor membahas krisis di Timur Tengah.

Berkualitas

Dengan berlarut-larutnya krisis di Libya, konsumen kini bekerja keras mencari pengganti. Di atas kertas, mudah menyubstitusi 1,7 juta barrel produksi Libya dari negara OPEC lain. Arab Saudi menawarkan jumlah yang sama dengan menambah produksi harian mereka.

Namun, pasar minyak dunia tak hanya berpikir soal kuantitas. Minyak mentah asal Libya yang kadar belerangnya rendah dihargai tinggi karena lebih mudah dan murah

diproses menjadi bahan bakar. Sebagian besar minyak asal Arab Saudi kualitasnya lebih rendah dan lebih sulit untuk dimurnikan.

”Hal itu memaksa konsumen mencari pilihan lain karena jelas suplai dari Libya akan terhenti untuk waktu lama,” kata analis minyak dari IHS CERA, Bhushan Bahree.

Masalahnya, mencari minyak dengan kualitas serupa tidaklah mudah. Hanya sedikit pemasok yang bisa memenuhinya. ”Yang cukup dekat kualitasnya berasal dari Aljazair, Angola, dan Nigeria. Tak ada yang persis sama, tetapi hampir mirip,” kata Bahree.

Permintaan minyak mentah jenis ini melonjak sejak krisis di Libya dimulai dan melonjakkan harga minyak dari tiga negara itu. Minyak ”Bonny Light” dari Nigeria dan ”Saharan Blend” dari Aljazair di pasar premium London tercatat masing-masing 3,40 dollar AS dan 2,85 dollar AS per barrel, naik dua kali lipat dari harga pertengahan Februari.

”Nigeria memompa minyak semampu mereka untuk memenuhi permintaan,” kata Mike Fitzpatrick dari Kilduff Report, sambil mengingatkan bahwa politik Nigeria pun tak stabil.

Pengilangan minyak yang harus menentukan apakah cukup ekonomis mengalihkan produksi ke minyak mentah yang lebih sulit disuling dan lebih tidak menguntungkan.

Jika krisis berlanjut, Badan Informasi Energi Amerika Serikat memperingatkan bisa terjadi kekurangan pasokan saat kebutuhan bahan bakar melonjak pada musim panas. Ongkos produksi melonjak dan dampaknya ke perekonomian dunia akan lebih terasa. (Dow Jones/afp/was)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau