Gelembung Strata Menengah

Kompas.com - 28/03/2011, 05:00 WIB

OLEH FAISAL BASRI

Hanya dalam tujuh tahun, kelas menengah di Indonesia bertambah 50 juta orang, dari 81 juta orang pada 2003 menjadi 131 juta orang pada 2010. Itu menurut Bank Dunia. Adapun perhitungan Bank Pembangunan Asia untuk kurun waktu yang lebih panjang, 10 tahun, hanya ada peningkatan 44 juta orang, yakni dari 54 juta orang pada 1989 menjadi 98 juta orang tahun 1999.

Kedua lembaga di bawah naungan PBB ini menggunakan sumber data yang sama, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan Badan Pusat Statistik. Metode perhitungannya juga sama, yakni berdasarkan pengeluaran per kapita sehari dalam dollar AS menurut paritas daya beli tahun 2005. Definisi kelas menengah pun sama, yaitu pengeluaran per kapita sehari sebesar 2-20 dollar AS.

Yang cukup mengganggu adalah kalau kita membandingkan angka Bank Pembangunan Asia (ADB) tahun 2009 dan angka Bank Dunia tahun 2010. Kenaikan jumlah kelas menengah sebanyak 33 juta orang dalam setahun adalah pencapaian spektakuler. Kita tak tahu versi mana yang lebih akurat. Namun, keduanya punya pola dan kecenderungan serupa.

Baik kajian ADB maupun Bank Dunia menghasilkan kesimpulan yang sama. Pertama, ada peningkatan jumlah kelas menengah yang cukup signifikan selama periode pascakrisis 1998. Porsi mereka dalam total pengeluaran sangat dominan. Menurut versi Bank Dunia, pangsa pengeluaran kelas menengah naik dari 58,1 persen tahun 2003 menjadi 76,7 persen tahun 2010.

Kenaikan terbesar pada kelompok pengeluaran 2 dollar AS sampai 6 dollar AS. Kalau dipersempit lagi, paling mencolok pada kelompok pengeluaran 4-6 dollar AS. Porsi kelompok ini di dalam pengeluaran total penduduk naik dari 9,6 persen tahun 2003 menjadi 20 persen tahun 2010.

Dalam hal persentase kenaikan jumlah terlihat, kian tinggi kelompok pengeluaran, semakin besar persentase kenaikannya. Sebagai contoh (versi ADB), kenaikan jumlah kelompok menengah-bawah (2-4 dollar AS) naik hampir dua kali lipat dalam 10 tahun. Sementara itu, kelompok menengah-tengah naik hampir tiga kali lipat. Kelompok menengah-atas naik lebih dari lima kali lipat.

Konsekuensi logis dari pola di atas adalah ketimpangan yang kian memburuk. Hal ini dikonfirmasikan oleh angka koefisien gini yang terus naik sejak 2003 hingga 2010, yakni masing-masing 0,32 dan 0,38. Walaupun angka koefisien gini kita masih pada kisaran nol sampai 0,4 (baik), angka itu sudah mendekati batas moderat (0,4-0,5). Harus diingat, koefisien gini kita adalah berdasarkan pengeluaran sehingga cenderung lebih baik ketimbang koefisien gini berdasarkan pendapatan. Tak diragukan, ketimpangan pendapatan di Indonesia lebih parah daripada yang digambarkan oleh koefisien gini berdasarkan pengeluaran. Setidaknya, boleh jadi, kita sudah pada kisaran moderat.

Kita pun tak boleh lekas puas terhadap pelonjakan ini mengingat mayoritas kelas menengah kita masih bercokol di kelompok kelas menengah lapisan terbawah (2-4 dollar AS), yaitu sebesar 30,9 persen (versi ADB) dan 38,5 persen (versi Bank Dunia) dari total penduduk. Bandingkan, misalnya, dengan lapisan 4-6 dollar AS yang hanya 7,5 persen (versi ADB) dan 11,7 persen (versi Bank Dunia) serta lapisan 6-10 dollar AS yang cuma 3,3 persen (versi ADB) dan 5 persen (versi Bank Dunia). Jauh lebih tipis lagi kelompok menengah atas (10-20 dollar AS) yang hanya 1,1 persen (versi ADB) dan 1,3 persen (versi Bank Dunia).

Jika kita bandingkan dengan data komposisi pekerja menurut sektor dan status pekerjaan, hampir bisa dipastikan bahwa mayoritas kelas menengah kita adalah pekerja informal yang tak punya hak-hak normatif pekerja, seperti upah tetap, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, jaminan hari tua, dan tunjangan pengangguran.

Kita kian tak boleh lekas puas seandainya membandingkan dengan perkembangan kelas menengah negara tetangga. Persentase kita tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand. Juga kalah dari China, Filipina, dan Vietnam.

Satu lagi kelemahan kita, yakni kenyataan bahwa pedesaan sangat lambat menghasilkan kelas menengah baru. Sekitar 83 persen kelas menengah di pedesaan adalah lapisan menengah-bawah. Bandingkan dengan lapisan sama di perkotaan yang hanya 68 persen.

Tentu ada yang belum pas dengan strategi dan kebijakan pembangunan. Sektor pertanian dan pembangunan pedesaan cenderung terabaikan. Industri manufaktur terbata-bata. Dengan demikian, kebanyakan mereka masih harus berkubang dengan kemiskinan.

Padahal, sektor pertanian dan industri manufaktur yang tangguh merupakan mesin paling ampuh untuk menumbuhkan kelas menengah dalam artian yang lebih hakiki. Bukan sekadar berdasarkan klasifikasi pengeluaran semata, sebagaimana yang dikaji oleh ADB dan Bank Dunia.

Sejauh ini kita baru berhasil menggelembungkan strata menengah, semata-mata berdasarkan kelompok pengeluaran. Bukan kelas menengah yang tangguh, yang tak mudah terempas kembali ke jurang kemiskinan karena sedikit gejolak saja, semisal kenaikan harga bahan bakar minyak.

Faisal Basri, Pengamat Ekonomi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau