Perekonomian regional

Laos Mengatasi Ketertinggalan Ekonomi

Kompas.com - 28/03/2011, 05:18 WIB

Oleh Eny Prihtiyani

Melintasi Sungai Mekong di kota Vientiane, yang menjadi garis pembatas Laos dengan Thailand, tampak sekali ketimpangan kedua negara tersebut. Di selatan, terlihat Thailand dengan gedung-gedung tinggi menjulang, sedangkan Laos masih berupa perkampungan kumuh. 

Nano Harsihono, pegawai Kedutaan Besar Indonesia di Laos yang mengantarkan kami berkeliling ke Vientiane, Selasa (1/3), menceritakan, Thailand menjadi negeri impian bagi masyarakat Laos. ”Masyarakat di sini sering membayangkan kapan bisa semaju Thailand. Bagi kalangan berpunya di Laos, Thailand menjadi tujuan utama untuk berbelanja karena di sana semuanya dengan mudah bisa didapatkan,” kata pria yang sudah lima tahun tinggal di Laos tersebut.

Ketertinggalan ekonomi Laos juga tampak dari kondisi Vientiane yang menjadi jantung kota utama. Dibandingkan dengan Jakarta, kondisinya jauh berbeda. Tidak ada gedung hingga bertingkat delapan. Tidak ada infrastruktur kereta api. Tidak ada jalan tol, apalagi jalan layang. Jika dibandingkan, kondisinya hampir sama dengan ibu kota provinsi di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Semarang.

Dibandingkan dengan negara-negara di sekelilingnya, perekonomian Laos memang tertinggal. Pendapatan per kapitanya tercatat 986 dollar AS per tahun. Pendapatan per kapita Thailand tercatat 4.700 dollar AS, Kamboja 700 dollar AS, sedangkan Singapura mencatat pendapatan per kapita tertinggi sebesar 37.000 dollar AS.

”Dibandingkan lima tahun silam, sekarang kondisinya jauh lebih baik. Pembenahan-pembenahan terus dilakukan. Salah satunya dengan membangun rel kereta api penghubung ke Thailand sepanjang 3,5 kilometer. Meski panjangnya masih terbatas, itu sudah lumayan,” ujar Nano.

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Laos Kria Fahmi Pasaribu, selama dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Laos mencapai 8 persen. Itu merupakan pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah Laos. Salah satu pemicunya adalah masuknya sejumlah perusahaan swasta untuk berinvestasi. Sayangnya, pertumbuhan itu masih terkonsentrasi di wilayah selatan atau di sekitar Vientiane.

Infrastruktur

Pertanian menjadi sektor utama karena menyumbang sekitar 50 persen dari produk domestik bruto dan mampu menyerap 80 persen tenaga kerja yang ada. Sektor kedua adalah tambang emas dan tembaga. ”Penemuan sejumlah lokasi tambang menjadi pendorong kuat ekonomi di Laos. Sayangnya, tenaga kerja ahli di bidang pertambangan masih minim. Ada sekitar 60 insinyur dari Indonesia yang bekerja di pertambangan emas di Laos,” katanya.

Di sepanjang jalan di kota Vientiane banyak dijumpai toko yang menjajakan perhiasan emas. Dalam Vientiane Times, 25 Februari lalu, Mr Phouvong Phamisith, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas di Laos, mengatakan, emas berpotensi menjadi ikon wisata. Sayangnya, Laos belum memiliki merek khusus.

Meski dipimpin oleh rezim komunis, Pemerintah Laos telah melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta sejak tahun 1986. ”Secara ekonomi kami sudah lebih bebas, tetapi secara politik kami masih otoriter. Di sini hanya ada satu partai dan tidak ada kekuatan oposisi,” ujar seorang jurnalis Vientiane Times yang tengah meliput pertemuan para menteri ASEAN.

Geliat ekonomi di Laos juga terlihat dari banyaknya debu yang beterbangan di jalan. Debu itu berasal dari kegiatan konstruksi yang tengah gencar, dari pembangunan hotel, kantor pemerintah, hingga pusat perdagangan. Tidak hanya itu, pemerintah juga tengah memulai proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan kota Kunming di China barat daya dengan Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia.

Nam Viyaket, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Laos, mengatakan, pembangunan bagian rel kereta yang menghubungkan Laos dengan China akan dimulai pada awal tahun 2011 dan akan rampung dalam empat tahun. Ia yakin proyek tersebut akan berkontribusi banyak bagi ekonomi Laos.

Menurut dia, China menjadi mitra penting ekonomi Laos. Selain membiayai pembangunan infrastruktur rel kereta api, China juga terlibat dalam berbagai proyek perdagangan kayu dan pembangkit listrik tenaga air di Laos. Perdagangan bilateral China dengan Laos tumbuh hingga lebih dari separuh pada tahun 2009 menjadi 751,8 juta dollar AS.

Sumber daya manusia

Pertumbuhan ekonomi Laos terhambat oleh minimnya sumber daya manusia di negara berpenduduk sekitar 6 juta itu. Kalangan berpendidikan banyak yang memilih pindah ke luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan dengan standar gaji tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bank Dunia pada tahun 2005, sebanyak 37 persen penduduk Laos yang mengenyam pendidikan tinggi tinggal di luar negeri.

Langkah Laos mengatasi ketertinggalan ekonomi mau tak mau harus mendapat dukungan dari negara sekitar, terutama dari ASEAN. Keberhasilan Laos dalam memacu perekonomiannya akan mempermudah ASEAN dalam mewujudkan integrasi negara itu ke dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

”Selain Laos, masih ada dua negara lagi yang tingkat ekonomi masih senjang di ASEAN, yakni Myanmar dan Kamboja. Ini menjadi tanggung jawab bersama ASEAN,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau