Pasokan Sensor dan Pigmen Terhenti, Produsen Mobil Pusing

Kompas.com - 28/03/2011, 10:20 WIB

TOKYO, KOMPAS.com — Gempa yang menggoyang utara Jepang (Tohoku) dua minggu lalu kini membuat pusing produsen mobil di luar negara tersebut. Pasalnya, beberapa komponen yang sebagian besar atau bahkan hanya dibuat di Jepang produksinya terhenti.

Produsen seperti Peugeot-Citroen, Renault, VW, GM, dan Ford untuk pabriknya di Eropa dan Amerika Serikat pusing karena salah satu komponen mesin yang sangat penting, yaitu airflow sensor atau sensor aliran udara, pasokannya terhenti. Sementara stok yang selama ini hanya cukup untuk 10 hari semakin menipis.

Sensor aliran udara untuk mesin ini harganya 90 dollar AS atau Rp 800.000 unit, berfungsi memantau suhu dan densitas udara yang mengalir ke mesin. Menurut The Wall Street Journal, 60 persen sensor udara yang digunakan oleh produsen mobil dunia berasal dari Hitachi Automotive System. Nah, pabrik tempat membuat komponen tersebut berada di Prefektur Iwaki, di utara Tokyo.

Diberitakan, pabrik tersebut langsung stop berproduksi begitu gempa melanda Jepang pada 11 Maret lalu. Kendati Hitachi sudah mulai membuka pabrik kembali pada 26 Maret lalu, tetapi kapasitas produksinya belum normal. Selain kerusakan, masalah yang dihadapi Hitachi saat ini adalah kelangkaan pasokan air dan listrik.  

Turun 70 persen
Produsen yang menggunakan komponen dari Hitachi adalah General Motors untuk pikap yang dibuat di Shreveport, LA, serta pabrik lainnya di Eropa, yaitu Eisenach, Jerman, dan Zaragoza, Spanyol.

Di Perancis, PSA Peugeot-Citroën menjadwalkan untuk mengurangi produksi pada sebagian besar pabriknya sejak Rabu lalu karena kekurangan sensor tersebut. Model yang terpengaruh produksinya adalah Peugeot 207, Citroën C3, dan model lainnya.

"Part yang sudah dikirim hanya bisa memenuhi kebutuhan 10 hari," demikian dikatakan juru bicara wanita perusahaan tersebut dan dilansir oleh Wall Street Journal. Karena itu, saat ini diperkirakan penurunan produksi bisa mencapai 40-50 persen, terutama pabrik Peugeot dan Citroën di Madrid dan Vigo di Spanyol.

Pabrik lainnya adalah Poissy dan Aulnay di Perancis dan Trnawa di Slowakia. Sementara itu, pabrik Sochaux, Sevelnord, dan Mulhouse—semuanya di Perancis—penurunan bisa mencapai 75 persen.

Hanya pabrik Peugeot di China dan Amerika Latin yang tidak terpengaruh. Pasalnya, mobil yang dibuat di kawasan tersebut menggunakan mesin dan sensor yang berbeda. Berita terakhir, Toyota telah menghentikan produksi mobilnya di Amerika Serikat dan Kanada.

Pigmen cat
Komponen lain yang juga kritis pasokannya saat ini adalah pigmen pengilap cat. Pasalnya, pigmen ini hanya dibuat oleh sebuah perusahaan Jerman,
Merk KgaA di Jepang, dan pabriknya berlokasi di Onahama, salah satu kota pantai yang rusak parah digoyang gempa dan diterjang tsunami. "Kita baru melihat puncak gunung es. Diperkirakan, dampak terbesar dirasakan pada pertengahan April mendatang," kata Michael Robinet, analis senior perusahaan riset IHS Automotive, dikutip Bloomberg.

"Setelah itu akan sulit bagi produsen mobil dunia lepas dari dampak tersebut, terutama setelah minggu kedua April," lanjutnya.

Pasokan komponen lain yang juga terganggu adalah layar LCD untuk sistem navigasi mobil dan mikrocip untuk memantau aliran bahan bakar dan kerja mesin lain. Namun, kekhawatiran utama adalah sensor aliran udara.  

Sementara itu, diberitakan pula, pasokan cat Tuxedo Black juga mulai berkurang. Akibatnya, perusahaan mobil di Amerika Serikat membatasi pilihan warna.

Belum ada perkiraan atau penjelasan apakah terhalangnya pasokan komponen tersebut akan menyebabkan harga mobil naik. Pasalnya, bisa berlaku prinsip ekonomi, stok terbatas, harga naik!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau