Pemerintah Suriah bisa menangkap dan menjebloskan ke penjara semua lawan politik atau siapa saja yang dianggap mengancam rezim berdasarkan hukum darurat. Assad hanya menekankan, kini ada konspirasi terhadap Suriah yang dilakukan minoritas.
”Skala konspirasi itu besar. Kami tidak ingin terlibat pertarungan. Rakyat Suriah pemaaf dan bersahabat. Namun, kami tidak pernah ragu mempertahankan prinsip dan kepentingan kami. Jika kami dipaksa terlibat pertarungan, kami akan hadapi,” ujarnya.
Setelah Assad menyampaikan pidato, ratusan warga Suriah di kota pantai Latikia (barat laut Suriah) berunjuk rasa dengan meneriakkan ”kebebasan... kebebasan”. Aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa itu.
Aktivis hak asasi manusia Suriah, Hisham Maleh, seperti dikutip kantor berita AFP, mengatakan, pidato Assad mengecewakan. Tidak ada sesuatu yang baru dan sudah sering terdengar selama ini.
Ia memperingatkan, jika terus terjadi aksi pembungkaman terhadap aksi unjuk rasa di Suriah, perlawanan akan terus dilanjutkan.
Assad berdalih soal keterlambatan mencabut hukum darurat. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat tidak jelas soal penundaan pencabutan hukum darurat tersebut.
Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengungkapkan, Assad menginstruksikan pembentukan komite hukum untuk mengkaji penghapusan hukum darurat itu untuk diganti dengan hukum antiteroris. Menurut Presiden Suriah itu, tidak ada halangan untuk melakukan reformasi meskipun kadang terlambat untuk diwujudkan.
Assad juga mengatakan setuju soal reformasi. Namun, dia memperingatkan, pelaksanaan reformasi karena tuntutan temporal bisa membuahkan hasil negatif.
Assad mengungkapkan, paket reformasi yang akan dilakukan tidak berangkat dari nol. Menurut dia, pimpinan Partai Baath (partai yang berkuasa di Suriah) telah menyiapkan rancangan undang-undang menyangkut kepartaian, hukum darurat, dan lain-lain sejak setahun lalu dan akan ditawarkan melalui dialog umum.
Ia menyebut krisis yang melanda Suriah dan kawasan Timur Tengah saat ini sebagai positif. Jika dapat mengendalikan dan lepas dari krisis, negara tersebut tampil sebagai pemenang.
”Para pelaku konspirasi mencampuradukkan tiga isu, yaitu fitnah, reformasi, dan permasalahan kehidupan sehari-hari penduduk. Pelaku konspirasi itu melancarkan aksi provokasi beberapa pekan sebelum kerusuhan di Suriah meletup melalui jaringan internet dan televisi satelit, tetapi tidak menghasilkan apa-apa,” ungkap Assad.
Presiden Suriah itu melanjutkan, setelah melakukan fitnah, para pelaku konspirasi melancarkan aksi manipulasi agar rakyat membenci pemerintah. Setelah itu, lanjut Assad, para pelaku konspirasi tersebut mengobarkan isu sektarian di Suriah dengan melakukan komunikasi lewat telepon. Salah satu tujuannya adalah menyulut pertikaian Muslim Sunni versus Muslim Syiah.
Akan tetapi, tambah Assad, pemerintah berhasil menggagalkan aksi fitnah itu. Setelah itu, kata Assad lagi, pelaku konspirasi menyelundupkan senjata dan melakukan pembunuhan agar ada ceceran darah korban yang akan menjadi modal untuk mengobarkan aksi kekerasan dalam upaya mencapai tujuannya.
Assad mengaku jaringan konspirasi itu belum terungkap secara keseluruhan dan yang terbaca hanya sebagian dari elemen jaringan tersebut. ”Ada kelompok pengacau yang mendapat dukungan dari orang-orang Suriah dan asing. Ada jaringan kelompok media, kelompok pelaku manipulatif, dan kelompok saksi mata,” ungkapnya.
Assad menyebut pula, perubahan besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah sejak beberapa bulan terakhir ini akan berdampak terhadap semua elemen di kawasan tanpa kecuali.
Ia menegaskan, perubahan itu sekaligus akan mengubah penyelesaian isu Palestina dari sekadar kecenderungan memberikan konsesi kepada Israel ke penegasan hak-hak rakyat Palestina.