Pidato Presiden Mengecewakan

Kompas.com - 01/04/2011, 04:11 WIB

Kairo, Kompas - Pidato Presiden Suriah Bashar al-Assad di parlemen, Rabu (30/3), mengecewakan rakyat dan masyarakat internasional. Isi pidatonya terlalu umum. Assad tidak menyampaikan agenda reformasi di Suriah dan pencabutan hukum darurat yang diberlakukan di negara itu sejak 1963.

Pemerintah Suriah bisa menangkap dan menjebloskan ke penjara semua lawan politik atau siapa saja yang dianggap mengancam rezim berdasarkan hukum darurat. Assad hanya menekankan, kini ada konspirasi terhadap Suriah yang dilakukan minoritas.

”Skala konspirasi itu besar. Kami tidak ingin terlibat pertarungan. Rakyat Suriah pemaaf dan bersahabat. Namun, kami tidak pernah ragu mempertahankan prinsip dan kepentingan kami. Jika kami dipaksa terlibat pertarungan, kami akan hadapi,” ujarnya.

Setelah Assad menyampaikan pidato, ratusan warga Suriah di kota pantai Latikia (barat laut Suriah) berunjuk rasa dengan meneriakkan ”kebebasan... kebebasan”. Aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa itu.

Aktivis hak asasi manusia Suriah, Hisham Maleh, seperti dikutip kantor berita AFP, mengatakan, pidato Assad mengecewakan. Tidak ada sesuatu yang baru dan sudah sering terdengar selama ini.

Ia memperingatkan, jika terus terjadi aksi pembungkaman terhadap aksi unjuk rasa di Suriah, perlawanan akan terus dilanjutkan.

Assad berdalih soal keterlambatan mencabut hukum darurat. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat tidak jelas soal penundaan pencabutan hukum darurat tersebut.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengungkapkan, Assad menginstruksikan pembentukan komite hukum untuk mengkaji penghapusan hukum darurat itu untuk diganti dengan hukum antiteroris. Menurut Presiden Suriah itu, tidak ada halangan untuk melakukan reformasi meskipun kadang terlambat untuk diwujudkan.

Dikaitkan dengan Palestina

Assad juga mengatakan setuju soal reformasi. Namun, dia memperingatkan, pelaksanaan reformasi karena tuntutan temporal bisa membuahkan hasil negatif.

Assad mengungkapkan, paket reformasi yang akan dilakukan tidak berangkat dari nol. Menurut dia, pimpinan Partai Baath (partai yang berkuasa di Suriah) telah menyiapkan rancangan undang-undang menyangkut kepartaian, hukum darurat, dan lain-lain sejak setahun lalu dan akan ditawarkan melalui dialog umum.

Ia menyebut krisis yang melanda Suriah dan kawasan Timur Tengah saat ini sebagai positif. Jika dapat mengendalikan dan lepas dari krisis, negara tersebut tampil sebagai pemenang.

”Para pelaku konspirasi mencampuradukkan tiga isu, yaitu fitnah, reformasi, dan permasalahan kehidupan sehari-hari penduduk. Pelaku konspirasi itu melancarkan aksi provokasi beberapa pekan sebelum kerusuhan di Suriah meletup melalui jaringan internet dan televisi satelit, tetapi tidak menghasilkan apa-apa,” ungkap Assad.

Presiden Suriah itu melanjutkan, setelah melakukan fitnah, para pelaku konspirasi melancarkan aksi manipulasi agar rakyat membenci pemerintah. Setelah itu, lanjut Assad, para pelaku konspirasi tersebut mengobarkan isu sektarian di Suriah dengan melakukan komunikasi lewat telepon. Salah satu tujuannya adalah menyulut pertikaian Muslim Sunni versus Muslim Syiah.

Akan tetapi, tambah Assad, pemerintah berhasil menggagalkan aksi fitnah itu. Setelah itu, kata Assad lagi, pelaku konspirasi menyelundupkan senjata dan melakukan pembunuhan agar ada ceceran darah korban yang akan menjadi modal untuk mengobarkan aksi kekerasan dalam upaya mencapai tujuannya.

Assad mengaku jaringan konspirasi itu belum terungkap secara keseluruhan dan yang terbaca hanya sebagian dari elemen jaringan tersebut. ”Ada kelompok pengacau yang mendapat dukungan dari orang-orang Suriah dan asing. Ada jaringan kelompok media, kelompok pelaku manipulatif, dan kelompok saksi mata,” ungkapnya.

Assad menyebut pula, perubahan besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah sejak beberapa bulan terakhir ini akan berdampak terhadap semua elemen di kawasan tanpa kecuali.

Ia menegaskan, perubahan itu sekaligus akan mengubah penyelesaian isu Palestina dari sekadar kecenderungan memberikan konsesi kepada Israel ke penegasan hak-hak rakyat Palestina.

(mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau