Zona Evakuasi Tak Diperluas

Kompas.com - 01/04/2011, 04:25 WIB

Tokyo, kamis - Pemerintah Jepang menegaskan, zona evakuasi di sekitar PLTN Fukushima Daiichi belum perlu diperluas dari batas radius 20 kilometer. Padahal, Badan Tenaga Atom Internasional mendeteksi radiasi di atas batas normal di luar zona tersebut.

Kepala Pusat Keadaan Darurat dan Insiden Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Elena Buglova mengatakan, pihaknya mengukur tingkat radiasi di atas normal di sebuah desa terpencil yang berjarak 40 kilometer dari PLTN yang bermasalah itu. Tingkat radiasi di desa itu mencapai 2 megabecquerel (2 juta becquerel) per meter persegi atau dua kali lipat dari batas maksimal radiasi yang biasa digunakan untuk memutuskan evakuasi.

Namun, pihak Badan Keselamatan Industri dan Nuklir Jepang (NISA) mengatakan, penduduk desa tersebut belum perlu dievakuasi.

”Peringatan IAEA didasarkan pada pengukuran tunggal pada sampel yang terbatas. Sepanjang pengetahuan kami, belum perlu diadakan evakuasi di sana. Penduduk dianjurkan untuk tetap tenang,” tutur salah seorang pejabat NISA, Yoshihiro Sugiyama, di Tokyo, Kamis (31/3).

NISA bahkan berencana mencabut larangan meminum air ledeng di desa tersebut mulai Jumat ini.

Di Tokyo, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyerukan kepada semua negara anggota G-20 untuk bertemu di Paris guna membahas standar keselamatan nuklir internasional yang sifatnya mengikat. Selama ini IAEA memang memiliki standar keselamatan, tetapi tidak berwenang memaksakan pelaksanaan standar itu kepada negara-negara di dunia.

”Betul-betul aneh bahwa standar keamanan (nuklir) internasional ini ternyata tidak ada,” ujar Sarkozy, yang mengusulkan agar pertemuan itu segera digelar bulan Mei mendatang.

Sarkozy adalah kepala negara asing pertama yang mengunjungi Jepang setelah bencana gempa dan tsunami melanda bagian timur laut Jepang, 11 Maret.

Perancis juga mengirimkan pakar nuklirnya ke Jepang untuk membantu menangani krisis nuklir di Fukushima. Perusahaan pembuat reaktor nuklir asal Perancis, Areva, mengirimkan pakar reaktor nuklir air mendidih dan pakar soal pembuangan batang bahan bakar nuklir dan air yang telah terkontaminasi.

”Tidak ada preseden (untuk masalah seperti ini) dan masalahnya sangat kompleks,” ungkap CEO Areva Anne Lauvergeon.

Tingkat radiasi di laut di jarak 360 meter dari PLTN Fukushima Daiichi naik lagi menjadi 4.385 kali lipat batas yang diizinkan, Kamis. Sumber kontaminasi laut tersebut belum diketahui hingga kini.

Pemerintah Jepang pun mempertimbangkan untuk menutup kompleks reaktor yang bermasalah itu dengan semacam struktur pelapis untuk menghindari kebocoran radiasi.

Di Bali, para pelaku industri pariwisata akan menggelar doa bersama bagi Jepang. Ada dua acara yang akan dilakukan, yakni ”Pray for Japan” pada Sabtu (2/4) di Pura Uluwatu dan ”Love and Friendship for Japan”, Selasa (5/4) di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar.

(AFP/Reuters/AP/DHF/DEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau