Perdagangan

Lagi, Februari Surplus

Kompas.com - 02/04/2011, 06:05 WIB

Jakarta, Kompas - Neraca perdagangan Indonesia selama bulan Februari 2011 mengalami surplus sebesar 2,4 miliar dollar AS. Meskipun demikian, Indonesia dinilai masih lamban memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas. Pemerintah perlu melakukan sejumlah strategi dan perencanaan yang matang untuk membangkitkan industri.

Selama Februari 2011, ekspor Indonesia tercatat 14,4 miliar dollar AS atau naik 28,94 persen dibandingkan Februari 2010. Sementara itu, nilai impor berkisar Rp 12 miliar atau naik 26,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan di Jakarta, Jumat (1/4), mengatakan, secara kumulatif, neraca perdagangan selama Januari-Februari 2011 mengalami surplus sebesar 4,45 miliar dollar AS.

Adapun ekspor Januari-Februari 2011 mencapai 29 miliar dollar AS atau naik 27,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun impor Januari-Februari sebesar 24,56 miliar dollar AS atau naik 29,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Impor, terutama, disumbang oleh mesin dan peralatan mekanik senilai 3,34 miliar dollar AS serta mesin dan peralatan listrik 2,57 miliar dollar AS.

Pemasok terbesar barang impor ke Indonesia adalah China senilai 3,32 miliar dollar AS.

Rusman menilai, tingginya laju impor dipicu oleh investasi yang terus bertumbuh sehingga mendorong kebutuhan barang modal dan bahan baku impor.

”Namun, pemerintah perlu mengantisipasi agar nilai impor tidak sampai melebihi ekspor karena justru memperlemah ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.

Secara terpisah, ekonom Hendri Saparini mengemukakan, perlu dicermati apakah kenaikan impor sungguh berdampak pada peningkatan industri dalam negeri. Tahun 2010, pertumbuhan industri tertinggi adalah di sektor otomotif dengan sebagian barang setengah jadi dan barang modal yang diimpor untuk usaha perakitan yang bernilai tambah kecil.

”Jika barang modal dan barang setengah jadi hanya untuk keperluan perakitan dan bukan untuk mendukung peningkatan industri pengolahan, bagaimana mau mendorong industri bernilai tambah?” ujarnya.

Menentukan strategi

Hendri menegaskan, pemerintah perlu segera menentukan strategi, perencanaan, dan fokus industri yang akan dikembangkan.

”Jangan puas hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi tidak mendorong industri pengolahan dalam negeri. Jangan berpikir untuk membangun industri yang kompetitif sepanjang orientasi bahan mentah masih untuk ekspor,” ujarnya.

Guna membangkitkan industri, ujar Hendri, diperlukan sejumlah perangkat kebijakan berupa revitalisasi industri, dukungan bea masuk, kebijakan fiskal, dan dukungan kredit.

Berdasarkan data BPS, defisit neraca perdagangan terbesar Indonesia pada Februari 2011 adalah terhadap Thailand, yakni sebesar 437,8 juta dollar AS, China 324,5 juta dollar AS, dan Australia 261,8 juta dollar AS.

Sepanjang tahun 2010, defisit perdagangan terhadap China sebesar 5,6 miliar dollar AS. Bulan Januari 2011, pemasok produk impor terbesar ke Indonesia ditempati China, yakni 18,19 persen. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau