Jakarta, Kompas
Selama Februari 2011, ekspor Indonesia tercatat 14,4 miliar dollar AS atau naik 28,94 persen dibandingkan Februari 2010. Sementara itu, nilai impor berkisar Rp 12 miliar atau naik 26,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan di Jakarta, Jumat (1/4), mengatakan, secara kumulatif, neraca perdagangan selama Januari-Februari 2011 mengalami surplus sebesar 4,45 miliar dollar AS.
Adapun ekspor Januari-Februari 2011 mencapai 29 miliar dollar AS atau naik 27,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun impor Januari-Februari sebesar 24,56 miliar dollar AS atau naik 29,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Impor, terutama, disumbang oleh mesin dan peralatan mekanik senilai 3,34 miliar dollar AS serta mesin dan peralatan listrik 2,57 miliar dollar AS.
Pemasok terbesar barang impor ke Indonesia adalah China senilai 3,32 miliar dollar AS.
Rusman menilai, tingginya laju impor dipicu oleh investasi yang terus bertumbuh sehingga mendorong kebutuhan barang modal dan bahan baku impor.
”Namun, pemerintah perlu mengantisipasi agar nilai impor tidak sampai melebihi ekspor karena justru memperlemah ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Secara terpisah, ekonom Hendri Saparini mengemukakan, perlu dicermati apakah kenaikan impor sungguh berdampak pada peningkatan industri dalam negeri. Tahun 2010, pertumbuhan industri tertinggi adalah di sektor otomotif dengan sebagian barang setengah jadi dan barang modal yang diimpor untuk usaha perakitan yang bernilai tambah kecil.
”Jika barang modal dan barang setengah jadi hanya untuk keperluan perakitan dan bukan untuk mendukung peningkatan industri pengolahan, bagaimana mau mendorong industri bernilai tambah?” ujarnya.
Hendri menegaskan, pemerintah perlu segera menentukan strategi, perencanaan, dan fokus industri yang akan dikembangkan.
”Jangan puas hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi tidak mendorong industri pengolahan dalam negeri. Jangan berpikir untuk membangun industri yang kompetitif sepanjang orientasi bahan mentah masih untuk ekspor,” ujarnya.
Guna membangkitkan industri, ujar Hendri, diperlukan sejumlah perangkat kebijakan berupa revitalisasi industri, dukungan bea masuk, kebijakan fiskal, dan dukungan kredit.
Berdasarkan data BPS, defisit neraca perdagangan terbesar Indonesia pada Februari 2011 adalah terhadap Thailand, yakni sebesar 437,8 juta dollar AS, China 324,5 juta dollar AS, dan Australia 261,8 juta dollar AS.
Sepanjang tahun 2010, defisit perdagangan terhadap China sebesar 5,6 miliar dollar AS. Bulan Januari 2011, pemasok produk impor terbesar ke Indonesia ditempati China, yakni 18,19 persen.