Kalau berita yang disiarkan The New York Times
Begitulah kira-kira nasib Saleh nantinya, atau nasib Mubarak kemarin dahulu, seperti ditulis oleh Laura Kasinof dan David E Sanger. Menurut mereka, Amerika Serikat (AS) yang selama ini mendukung Presiden Yaman, termasuk saat menghadapi para pemrotes, kini mengubah posisinya. AS berpendapat bahwa Saleh tidak cukup melakukan reformasi seperti yang dituntut rakyat dan, karena itu, harus turun jabatan.
Inilah cerita baru dari Timur Tengah saat usaha kaum oposisi di Libya yang dibantu NATO untuk menggusur Moammar Khadafy belum menunjukkan hasil, satu lagi sekutu AS akan tumbang.
Padahal, selama ini Washington dapat dikatakan sangat membutuhkan Sana’a. Kedua negara menjalin hubungan saling tergantung. AS memasok senjata dan pemimpin Yaman memberikan tempat bagi militer AS dan CIA untuk menggempur markas Al Qaeda. Yaman adalah garda depan AS dalam memerangi Al Qaeda.
Kini situasi di Yaman suram, setelah pecah demonstrasi menentang kepemimpinan Saleh. Mundurnya komandan militer yang sangat berpengaruh di negeri itu, Mayjen Ali Mohsin al-Ahmar yang kemudian menyatakan berpihak kepada pemrotes, membuat Pemerintah Yaman mulai limbung. Kondisi bertambah parah karena lima komandan militer juga mundur serta para pemimpin suku yang berpengaruh juga mencabut dukungan kepada Saleh. Makin banyaknya korban tewas memberikan sumbangan besar bagi semakin lemahnya pemerintahan Saleh.
Yaman bagaikan kapal oleng. Ditambah lagi harga bahan pangan melambung; nilai mata uang Yaman, rial, anjlok. Dollar AS hilang dari pasar, dari tempat-tempat penukaran uang asing. Menurut Program Pangan Dunia, harga tepung gandum naik 45 persen sejak pertengahan Maret lalu dan harga beras naik 22 persen.
Uang banyak dihambur-hamburkan pemerintah. Saleh membayar para pendukungnya untuk datang ke ibu kota, mendukungnya. Ia juga membagi-bagikan uang kepada para pemimpin suku agar tetap setia kepada dirinya. Februari lalu, ia berjanji memotong pajak pendapatan dan menaikkan gaji pegawai negeri serta militer.
Namun, Washington melihat lain. Cukup sudah bagi Saleh menjadi penguasa. Sudah terlalu lama Saleh berkuasa, 32 tahun lebih! Februari lalu, ia menyatakan tak akan mencalonkan lagi saat masa jabatannya habis tahun 2013. Namun, ia sudah mencalonkan anaknya, Ahmed, yang memimpin Garda Republik, pasukan elite. Hanya saja, rakyat ingat, sebelum dipilih lagi tahun 2006, ia juga mengatakan tak akan mencalonkan diri lagi.
Adalah Tragedi 11 September, serangan teroris ke gedung kembar World Trade Center di AS, serta Pentagon, yang mendorong kerja sama AS dan Yaman makin erat. AS khawatir Yaman akan jatuh ke tangan Al Qaeda. Karena itu, Washington menggelontorkan bantuan ke Yaman. Lima tahun terakhir, AS memberikan bantuan militer senilai 250 juta dollar AS.
Akan tetapi, pemerintahan Saleh oleh Washington dinilai tak efektif dan korup. Dan, kesanggupan untuk memerangi Al Qaeda juga dipertanyakan. Sebenarnya, Yaman selama ini menghadapi pemberontakan di utara dan usaha pemisahan diri di selatan, yang semula memang negeri merdeka.
Berlakukan di sini ujar-ujar lama, ”tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada adalah kepentingan”. Dalam bahasa lain, yang lebih sinis mungkin berbunyi ”habis manis sepah dibuang”. Untuk apa mempertahankan sepah kalau sudah tidak ada rasa manisnya lagi, begitu bagi AS.
Maka bersiap-siaplah Ali Abdullah Saleh angkat koper.