JAKARTA, KOMPAS.com - Pengalihan perhentian bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari Terminal Grogol ke Terminal Rawa Buaya belum berjalan. Penumpang banyak yang belum mengetahui pengalihan itu sehingga bus yang sudah berada di Terminal Rawa Buaya dipanggil lagi ke Terminal Grogol untuk mengangkut penumpang agar tidak terjadi penumpukan.
Sementara itu, Terminal Rawa Buaya belum sepenuhnya siap menerima limpahan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Meskipun lahannya luas, fasilitas penunjang, seperti loket penjualan tiket, belum tersedia.
Dari pantauan di Terminal Rawa Buaya, Senin (4/4/2011), terlihat tidak ada papan petunjuk atau rambu-rambu yang menyebutkan lokasi itu sebagai Terminal Rawa Buaya. Beberapa bagian lahan terminal sudah dipasang konblok, tetapi sebagian besar masih berupa tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan ilalang.
Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat Suyoto mengatakan, sosialisasi untuk penumpang terus dilakukan.
Menurut Suyoto, peruntukan Terminal Grogol bukan untuk bus AKAP.
”Bagaimanapun Terminal Grogol harus dikembalikan ke fungsi semula, yaitu untuk bus dalam kota dan angkutan kota,” ujar Suyoto.
Mengenai ketidaksiapan Terminal Rawa Buaya, Sutoyo mengatakan, untuk sementara memaksimalkan sarana yang sudah ada sambil menunggu anggaran pembangunan fasilitas penunjang itu turun.
Selain Terminal Rawa Buaya, bus AKAP juga dialihkan ke Terminal Kalideres. Kepala Terminal Kalideres Hengki Sitorus menyatakan telah siap menerima limpahan bus dari Grogol, tetapi tidak bisa lebih dari 50 bus agar tidak terjadi stagnasi karena penuhnya terminal.
Terminal terpadu
Arus lalu lintas di Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang semrawut. Kemacetan bertambah parah akibat di dua wilayah tersebut belum ada terminal terpadu. Terminal yang ada hanya terminal bayangan.
Wakil Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestro Tangerang Kabupaten Ajun Komisaris Darto mengakui, keberadaan terminal terpadu sangat mendesak dibangun di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.
”Yang namanya kota dan kabupaten, ya harus ada terminal,” kata Darto.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Kabupaten Tangerang Yani Sutisna mengatakan, berdasarkan rencana tata ruang wilayah, idealnya setiap kota atau kabupaten wajib memiliki terminal terpadu.
”Terminal terpadu sangat dibutuhkan,” ujarnya. (FRO/PIN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang