Perekonomian

Infrastruktur dan Inflasi Risiko Serius

Kompas.com - 11/04/2011, 03:21 WIB

Nusa Dua, Kompas - Buruknya infrastruktur merupakan risiko serius yang sebaiknya diperhatikan pemerintah. Indonesia juga perlu mewaspadai laju inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat.

”Perekonomian Indonesia memang berjalan dengan baik. (Namun) masih ada beberapa risiko yang mungkin harus dikelola, katakanlah seperti inflasi dan masalah infrastruktur,” ujar Direktur Pelaksana Bank Dunia untuk Kawasan Asia Pasifik, Amerika Latin, Karibia, Afrika, dan Timur Tengah Sri Mulyani Indrawati, Jumat (8/4) malam di Jimbaran, Bali, saat menghadiri Rapat Perekonomian Terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hadir mendampingi Presiden di antaranya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Hatta Rajasa menuturkan, pertemuan berjalan sangat serius, tanpa diselingi canda. Percakapan pun dilakukan dalam bahasa Inggris karena kehadiran beberapa personel Bank Dunia yang mendampingi Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, dalam pertemuan itu, pemerintah menjelaskan kondisi terakhir perekonomian Indonesia. Dalam pembicaraan itu, muncul berbagai isu mutakhir terkait risiko tekanan yang berasal dari kenaikan harga komoditas pangan dan minyak mentah di pasar global. Hal itu diungkapkan karena dunia sendiri sedang dalam proses pemulihan setelah didera krisis keuangan global pada 2008.

”Pemerintah menjelaskan perekonomian dan kami bertukar pikiran. Kami saling bertukar pikiran terkait apa-apa saja yang dapat dipelajari baik dari negara-negara lain maupun pengalaman Indonesia sendiri yang dibagi dengan negara-negara lain,” kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, terdapat karakteristik persoalan ekonomi yang sama di negara-negara berpenghasilan menengah dalam kondisi perekonomian dunia saat ini, seperti masalah kesetaraan, kebutuhan infrastruktur, dan kemampuan menjaga perekonomian dari gejolak eksternal.

”Itu dapat dijadikan referensi untuk melihat apakah Indonesia dengan perencanaan dan kebijakannya saat ini dapat mengatasi masalah tersebut,” katanya.

Terlampau panas

Pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai daya beli dan infrastruktur cenderung menyebabkan ekonomi yang terlampau panas (overheating). Hal itu terjadi karena pertumbuhan ekonomi disertai hambatan kapasitas yang terbatas.

”Atas dasar itu, diskusi ini diarahkan pada bagaimana dunia dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi dan pada saat yang sama melihat risiko-risiko yang muncul. Selain itu, bagaimana mekanisme negara-negara di dunia dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut,” tutur Sri Mulyani.

Agus Martowardojo mengatakan, pemerintah memang mulai mewaspadai laju inflasi pada 2011. Meskipun pada Maret 2011 terjadi deflasi, potensi laju inflasi tetap perlu diwaspadai.

”Saya senang, dalam kondisi seperti sekarang, lembaga pemeringkat utang mulai menaikkan rating (peringkat utang) Indonesia. Namun, kita tetap waspada pada inflasi. Sementara Januari dan Februari 2011, kan, sudah jelas. Kalau inflasi lebih rendah, peluang kenaikan peringkat utang pun akan semakin lebih terbuka,” ujar Agus.

Terkait buruknya infrastruktur, ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setijowarno, Minggu, mengatakan, dibutuhkan Menteri Koordinator Perekonomian yang lebih kuat untuk membangun infrastruktur. ”Infrastruktur kita buruk sehingga biaya ekonomi tinggi. Hal itu lebih karena tidak ada koordinasi untuk membangun. Tiap kementerian dan instansi bekerja sendiri-sendiri,” katanya.

Djoko mengingatkan, kementerian yang tak bahu-membahu menyebabkan rencana proyek yang ditawarkan ke investor juga jadi tak laku. ”Ada rencana membangun pelabuhan, tetapi tak ada jaminan kapan ruas jalan atau jalur kereta dibangun. Bagaimana investor swasta tertarik?” ujarnya.

Untuk infrastruktur yang telah terbangun, Djoko pun mengeluhkan rendahnya pengawasan sehingga seolah masyarakat tidak memperoleh manfaat dari proyek itu. (OIN/RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau