Fenomena

Ulat Bulu Mulai Serang Kota Malang

Kompas.com - 11/04/2011, 17:56 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Ulat bulu kini sudah tidak hanya menyerang Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Pasuruan. Mulai Senin (11/4/2011) siang, ulat bulu sudah menyerang Kota Malang.

Fenomena di Kota Malang ini pertama kali ditemukan oleh segerombolan anak-anak kecil yang sedang asik bermain di pinggir jalan, dekat pohon cemara, yang tepat berada di pinggir sungai.

"Ulat-ulat itu ada di pohon cemara. Saya kanget saat ulat bulu itu dibuat mainan oleh anak-anak. Setelah saya tahu bahwa itu ulat bulu, langsung saya tanya dari mana ulat bulu itu berasal," cerita Indasah (50), Ketua RT 05, RW 01 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, kepada Kompas.com, Senin (11/4/2011).

Ketika itu, Indasah langsung diantar ke pohon cemara dan diberitahu keberadaan ulat bulu oleh beberapa anak-anak itu. "Ternyata, ulat bulu itu sudah banyak menempel di pohon cemara itu. Baru ada dua pohon cemara yang sudah dihuni oleh ulat bulu itu. Di daerah lain belum aku tahu," katanya.

Ulat yang ada di dua pohon cemara itu memang terlihat cukup banyak. Bentuk ulatnya cukup banyak dan besar. "Ini jelas gatal. Namun, untuk di sini, belum ada yang terkena gatalnya. Karena keberadaan ulat ini baru diketahui sekarang," kata Indarsah.

Sementara itu, menurut Syaiful Abduh (45) alias CIpol, pemilik rumah yang sekira 3 meter dari pohon cemara yang dihuni ulat bulu itu mengaku, bahwa kalau malam hari sering menemukan ulat bulu itu naik ketembok rumahnya.

"Hanya saya belum sadar kalau ulat itu adalah ulat bulu yang berbahaya. Kalau sudah tahu bahwa itu adalah ulat bulu, harus segera dimusnahkan dengan cara dibakar agar mati. Kalau tidak segera dimusnahkan berbahaya buat anak-anak kecil," katanya.

Tak lama setelah mengetahui keberadaan ulat bulu itu, Syaiful Abduh langsung melaporkan ke ketua RW setempat. "Agar Ketua RW 01 yang melaporkan ke Dinas pertamanan Kota Malang," katanya.

Syaiful Abduh dan beberapa warga sekitar mengaku resah dengan munculnya ulat bulu yang tak jauh dari rumah warga itu. "Harus segera dimusnahkan. kalau tidak warga yang akan jadi korban. Dan Setelah tahu di sini ada ulat bulu, banyak warga yang sudah resah," ujarnya.

Sementara itu, menanggapi beberadaan ulat bulu di Kota Malang itu, Kepala Seksi (Kasi) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang Slamet Husnan mengatakan, ulat bulu yang ada di kota Malang itu berbeda dengan ulat yang ada di Kabupaten Probolinggo. "Artinya ulat bulu yang tidak berbahaya. Sudah wajar di setiap pohon itu ada ulat bulu seperti itu," katanya.

Namun, Slamet mengaku ulat yang ada di Kota Malang itu juga gatal kalau mengenai kulit. "Makanya, kami sudah melakukan menyemprotan, salah satunya dilakukan di seluruh pepohonan besar yang ada di Alun-alaun," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau