Desa-desa petani penyadap karet di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kini semarak dengan aneka merek sepeda motor keluaran terbaru. Kendaraan-kendaraan mengilap yang belum berpelat nomor itu terparkir di kolong-kolong rumah panggung mereka, kontras dengan dinding-dinding kayu rumah yang kusam termakan usia.
Inilah cara para petani penyadap karet di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) merayakan kenaikan harga karet beberapa bulan terakhir. Motor-motor baru itu dibeli saat penghasilan mendadak ”meroket” hingga lebih dari Rp 2 juta sebulan.
”Saya beli kredit dua minggu lalu, waktu saya dapat Rp 2,5 juta dari karet,” kata Budi Susanto (28), petani penyadap dari Desa Bandar Jaya, Kecamatan Batanghari Leko, Kamis (7/4).
Petani penyadap adalah petani karet yang menggarap kebun milik orang lain dengan sistem bagi hasil proan, atau setengah bagian dari hasil panen.
Sejak Oktober 2010, harga karet memang terus naik. Hingga pada awal 2011, harga karet mencapai puncaknya sekitar Rp 30.000–Rp 40.000 per kilogram karet basah di tingkat pabrik. Di tingkat penyadap, harga tertinggi yang pernah mereka nikmati berkisar Rp 17.000–Rp 18.000 per kg akibat sistem tengkulak.
Naiknya harga karet dunia kali ini menjadi pelipur masa-masa susah ketika harga karet sangat rendah. Pada tahun 2008-2009, harga karet hanya Rp 3.000–Rp 4.000 per kg. Saat itu, pendapatan petani penggarap kurang dari Rp 1 juta per bulan.
”Saya dulu paling banyak dapat Rp 600.000–Rp 800.000 sebulan. Untuk makan saja kadang tidak cukup,” ucap Wati (40), yang harus menghidupi enam anak seorang diri setelah ditinggal almarhum suaminya.
Di balik kegembiraan sesaat itu, kekhawatiran sebenarnya terus mengintai. Harga karet rentan jatuh sewaktu-waktu. Harga karet sempat turun cukup drastis ketika konflik Timur Tengah berkecamuk ditambah gempa bumi. Maklum, Jepang adalah salah satu negara tujuan ekspor karet terbesar.
Karena penghasilan yang kecil selama ini, para petani penyadap tak pernah punya tabungan untuk berjaga-jaga di hari-hari susah. Jika harga karet turun, mereka begitu mudah terbelit utang kepada tengkulak untuk makan sehari-hari.
Di luar sepeda motor barunya, kehidupan petani penyadap karet saat ini belum bisa disebut sejahtera. Setidaknya terlihat dari rumah mereka yang sangat sederhana. Sebagian besar dibuat dari kayu hutan yang dipotong seadanya tanpa polesan.
Setiap rumah rata-rata hanya berukuran 5 x 10 meter dan nyaris tanpa perabot. Barang mewah yang terlihat hanya seperangkat televisi dan parabola, yang memang dibutuhkan untuk menangkap siaran. Kamar mandi masih menjadi sebuah kemewahan.
Padahal, sejak tahun 1900-an, karet merupakan penyokong ekonomi kerakyatan terbesar di Kabupaten Musi Banyuasin. Dari 160.663 hektar kebun karet di kabupaten antara Sungai Musi dan Banyuasin itu, hanya 9.000 hektar yang dikelola PT Perkebunan Nusantara. Sebagian besar dikelola masyarakat sendiri. Saat ini, tercatat 98.000 keluarga menjadi petani karet dengan luas lahan antara 1-2 hektar. Kebun karet dikelola secara tradisional turun temurun.
Berbagai permasalahan menjadi penyebab tingkat kesejahteraan yang rendah. Beberapa di antaranya adalah masih tingginya ketergantungan kepada tauke yang membuat harga karet rendah di tingkat petani, serta minimnya modal petani.
Rokiyah (53), petani karet di Dusun IV, Desa Pandan Dulang, Kecamatan Lawang Wetan, misalnya, mengaku tak punya biaya untuk meremajakan karetnya. Pohon karet di lahan seluas satu hektar miliknya telah berusia 30 tahun, padahal seharusnya karet sudah diremajakan saat usianya memasuki 25 tahun.
Akibatnya, hasil karetnya sangat rendah. Dia mengaku kesulitan mendapat pinjaman bank karena tak mempunyai jaminan cukup. Bantuan pemerintah belum pernah dia rasakan.
Yusro (40), yang merupakan generasi ketiga petani karet menuturkan, banyak petani karet mengalami pemiskinan karena menjual lahan. Kakeknya dulu punya enam hektar kebun karet. Kini, dia tak punya kebun. Ia terpaksa menjadi petani penyadap di kebun seorang tauke.
Bupati Muba Pahri Azhari mengatakan, pihaknya menyadari karet merupakan penggerak ekonomi rakyat. Untuk itu, beberapa program diluncurkan guna mengembangkannya. Salah satunya adalah program pengadaan satu juta bibit karet untuk membantu para petani meremajakan kebunnya.
Pemkab juga membangun jalan-jalan perkebunan di 10 kecamatan untuk mempermudah distribusi hasil kebun.