NATO Kontraproduktif

Kompas.com - 13/04/2011, 04:32 WIB

Tripoli, selasa - Putra Moammar Khadafy paling berpengaruh, Saif al-Islam, menilai Pakta Pertahanan Atlantik Utara telah melakukan operasi kontraproduktif di Libya. Libya memang butuh ”darah baru” untuk masa depannya, tetapi konyol jika Barat dan oposisi menginginkan ayahnya turun.

Pernyataan Saif itu dirilis televisi BFM, Perancis, Senin (11/4) di Paris. Tayangan itu adalah hasil wawancara wartawan televisi dengan Saif, akhir pekan lalu.

Menurut Saif, ayahnya ingin mendorong elite baru pemuda untuk memerintah dan mengelola urusan domestik Libya. ”Kami ingin darah baru. Itulah yang kami inginkan untuk masa depan Libya. Namun, berbicara tentang (Khadafy) harus turun, itu benar-benar konyol,” kata Saif.

Barat seharusnya bekerja sama dengan pemerintah demi mewujudkan demokrasi di Libya. ”Jika Barat ingin demokrasi, konstitusi baru, pemilihan umum, kami setuju. Barat harus membantu kami menciptakan iklim yang baik. Barat malah melakukan sebaliknya dengan mengebom kami, sebuah dukungan bagi pemberontak. Semua itu sangat kontraproduktif,” ujarnya.

Putra Khadafy berpendidikan Barat ini mengatakan, meskipun ayahnya turun, krisis Libya tidak otomatis akan reda. ”Lengsernya Khadafy tidak akan mengubah apa-apa karena rakyat tak menghendaki para teroris memerintah Libya,” katanya.

”Pertanyaannya adalah bagaimana menyingkirkan militan bersenjata ini? Milisi tidak boleh memerintah,” ujar Saif.

Dengan demikian, upaya Uni Afrika mencari solusi damai guna mengakhiri krisis pun mentah lagi. Rezim menolak opsi agar Khadafy turun dan meninggalkan negerinya.

Di lain pihak, oposisi juga menolak opsi negosiasi dan menuntut Khadafy menyerahkan kekuasaannya. Oposisi, Senin di Misrata, menyindir laporan yang menyebutkan Khadafy bersedia melakukan gencatan senjata.

Mantan Menteri Luar Negeri Libya Moussa Koussa, yang berada di Inggris setelah membelot, mengatakan, Libya bisa menjadi ”Somalia baru”, terutama jika perang tidak segera berakhir. ”Ini dapat menyebabkan pertumpahan darah yang banyak. Libya bisa menjadi Somalia baru. Kami menolak Libya pecah,” katanya.

Tidak berbuat banyak

Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe, Selasa, mengatakan, NATO ”tidak cukup” bertindak untuk merobohkan loyalis Khadafy yang telah menyerang rakyat sipil. Dia mengatakan, NATO harus menghancurkan senjata Khadafy yang telah menyasar warga di Misrata.

NATO harus memainkan perannya secara maksimal. Dia juga mendesak Uni Eropa mengirim lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Misrata. Kota ketiga terbesar di Libya ini menjadi medan tempur paling sengit yang melibatkan loyalis, oposisi, dan NATO. Khadafy tetap unggul.

Selasa, loyalis juga menyerang Ajdabiya. Tujuh oposan tewas dan sejumlah oposan lainnya terluka sehingga dilarikan ke rumah sakit. Seorang oposan, Alaa Abdeljalil (35), mengatakan, para korban tewas akibat serangan roket loyalis Khadafy.

Stasiun televisi Libya melaporkan, serangan NATO di Kikla, kota di selatan Tripoli, hari Selasa menewaskan sejumlah warga sipil dan polisi. Organisasi Internasional untuk Pengungsi (IOM) mengatakan, Misrata dalam kondisi prihatin. Sebuah kapal bantuan kemanusiaan dari Italia sedang menuju Libya.(AFP/AP/REUTERS/CAL)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau