"Homestay" Akan Diperbanyak di Borobudur

Kompas.com - 17/04/2011, 09:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Candi Borobudur adalah salah satu objek wisata yang terkenal di dunia. Tingginya kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Candi Borobudur sudah tidak dipertanyakan lagi. Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun, ironisnya di tahun 2008, Desa Borobudur termasuk desa miskin.

"Tahun 2008, Desa Borobudur yang memang punya Candi Borobudur malah desa yang termiskin kedua di Kecamatan Borobudur. Di keseluruhan kecamatan yang ada di Magelang, Kecamatan Borobudur termiskin kelima. Kenapa hal ini terjadi? Karena saat kita lakukan pengamatan langsung, ternyata yang jadi pemain dari luar desa," ungkap Direktur Pemberdayaan Masyarakat Kemenbudpar, Bakri di Jakarta belum lama ini.

Maksud Bakri dengan pemain adalah para penjual makanan, minuman, dan suvenir, sebagian besar berasal dari luar Desa Borobudur. Di sisi lain, mereka pun hanya berperan sebagai pedagang asongan.

"Kebanyakan wisatawan saat itu datang hanya untuk lihat-lihat Candi Borobudur, foto-foto, lalu pulang. Jadi sedikit sekali yang netes ke bawah," katanya. Apalagi saat itu, lanjut Bakri, hubungan antara masyarakat, dinas pariwisata setempat, dan pengelola Candi Borobudur kurang bagus.

"Tahun 2009 kita masuk ke beberapa desa sekitar Candi Borobudur. Tujuannya ingin supaya orang-orang di sini diberi keterampilan dan fasilitas biar potensi desa dan masyaraat untuk berbisnis dengan kawasan Candi Borobudur pun meningkat," ungkapnya.

Program untuk setiap desa pun bermacam-macam, mulai dari keterampilan kerajinan tangan, pelatihan bahasa sebagai pramuwisata lokal, dan sebagainya. Bakri menuturkan setiap desa fokus mengembangkan hal yang sesuai potensi desa tersebut. Misalnya, ada desa yang fokus pada suvenir. Ada pula yang mengembangkan kesenian, andong, atau kuliner.

"Seperti Desa Borobudur itu lebih ke kesenian dan suvenir. Memang perajin suvenir itu sebelumnya sudah pelaku, cuma kita kasih keterampilan lebih dan modal. Selama ini kendala mereka ada di modal," ungkapnya. Dulu, lanjut Bakri, tidak ada sanggar tari. Kini ada sanggat tari Bumi Sugoro.

"Kalau untuk tarian sebenarnya ada pelatih tari di desa itu dan ada penari-penarinya. Tapi skala kecil dan minim sekali. Kita bantu untuk pelatihan dan kostum. Di Candi Borobudur dulu gak ada pertunjukan kesenian, sekarang pentas kesenian jadi rutin. Siapa yang mentas ya penduduk desa. Mereka jadi punya penghasilan dan kebanggaan tersendiri," ujarnya.

Para penari ini pun kini mentas di mana-mana. Ia menuturkan masyarakat desa kini ada kerja sama dengan pengelola candi seperti pelatihan pariwisata dan bersama-sama melakukan promosi pariwisata.

"Sekarang terjadi peningkatan ekonomi. Saat rapat antara mereka Pak Lurah bilang mereka tidak menerima BLT tertinggi lagi," tuturnya.

Program selanjutnya di tahun 2011 adalah pengembangan homestay. Konsep homestay adalah rumah penduduk bisa dipakai turis. "Anggaran fokus ke renovasi homestay. Nanti penduduk sendiri yang tentukan rumah mana yang layak dijadikan homestay. Kita riset kelayakannya kamar mandi dan kamar tidur. Jika perlu diperbaiki," jelas Bakri. Selain itu, pelatihan homestay juga diperlukan.

"Homestay ini perlu. Apalagi kalau ada acara Waisak, wisatawan kesulitan cari penginapan karena hotel sedikit. Homestay jadi pilihan untuk menginap di Candi Borobudur. Ada keluarga dengan tiga kamar, bisa saja jadikan satu kamar untuk homestay," ungkapnya.

Ia menambahkan desa yang akan dikembangkan untuk desa wisata adalah Desa Candirejo, Desa Borobudur, dan Desa Wanurejo. Ia berharap akan ada kerja sama dengan pengelola Candi Borobudur dan masyarakat desa untuk program homestay.

"Misalnya tinggal di homestay akan dikasih diskon masuk Candi Borobudur, biar homestay laku," katanya.

Di Kecamatan Borobudur terdapat 8 desa yang tergabung dalam pengembangan desa wisata PNPM Mandiri. Masing-masing desa mendapatkan anggaran Rp 55 juta agar masyarakat berperan aktif dalam mengelola pariwisata. Desa Wisata PNPM Mandiri di tahun 2011 melibatkan 569 desa dari 33 provinsi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau